Tanpa Bayar, ULTJ Caplok 100 Persen Saham Frisian Flag Senilai Rp7 Triliun

Produsen susu Ultra Milk ini bersiap mencaplok 100 persen saham PT Frisian Flag Indonesiayang bernilai fantastis, diperkirakan mencapai Rp7 triliun, tanpa perlu merogoh kas perseroan atau menyetor modal tunai.

Transaksi akuisisi berbasis non-kas ini ditempuh melalui skema rights issue dan penukaran sahamuntuk mengambil alih seluruh porsi kepemilikan bisnis berusia 104 tahun milik FrieslandCampina International Holding B.V.

Penggabungan dua raksasa ini diproyeksikan bakal menjadi mesin pertumbuhan baru yang mendongkrak pendapatan ULTJ hingga 137 persen per tahun serta melipatgandakan laba bersih perseroan hingga 115,4 persen per tahun.

Jurus Share Swap Tanpa Sedot Kas Operasional

Berdasarkan Keterbukaan Informasi resmi yang disampaikan perseroan kepada Bursa Efek Indonesia, ULTJ dipastikan tidak menyerahkan pembayaran kas segaruntuk menguasai FFI dari para pemegang sahamnya, yakni FCIH yang menguasai 78,09 persen, Blue Waves Group Ventures Pte.

Ltd. sebesar 16,91 persen, serta PT Bahtera Wiraniaga Internusa sebesar 5 persen.

Sebagai gantinya, emiten milik keluarga Sabana Prawiradjaja ini akan memproses penerbitan saham baru melalui mekanisme Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulualias rights issue.

Dalam skema ini, para pemegang saham FFI akan menyerahkan seluruh kepemilikan saham mereka di FFI kepada ULTJ, lalu dikompensasikan dengan porsi kepemilikan saham baru di ULTJ sebagai investor strategis.

Melalui eksekusi rights issue tersebut, FCIH selaku induk FFI diproyeksikan bakal masuk dan memegang setidaknya 28,95 persen saham di ULTJ.

Apabila para pemegang saham eksisting ULTJ memutuskan untuk tidak mengambil haknya, porsi kepemilikan investor asal Belanda tersebut bahkan dapat membengkak hingga mengendalikan 30,81 persen saham ULTJ.

Sinyal Ekspansi FCIH dan Optimisme Manajemen ULTJ

Manajemen FrieslandCampina International Holding B.V.membeberkan bahwa pelepasan FFI kepada ULTJ merupakan bagian dari strategi ekspansi untuk menembus jaringan pasar yang jauh lebih besar di kawasan Asia.

“Langkah ini mendukung misi FrieslandCampina untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak-anak dan keluarga di Asia, dengan memperluas akses terhadap manfaat nutrisi produk susu secara bertanggung jawab,” tulis Manajemen FCIH dalam keterangan resminya.

Pihak FCIH juga memastikan bahwa entitas FFI yang membawahi portofolio merek populer seperti Susu Bendera, Omela, dan Primagro akan tetap beroperasi secara terpisah dari unit bisnis eksisting ULTJ.

“Masing-masing dengan merek, portofolio, dan organisasi sendiri, dengan kerja sama yang diperkuat dan berfokus pada penciptaan nilai jangka panjang.

FFI akan berkontribusi pada penguatan Ultrajaya dengan menggabungkan kepemimpinan lokal yang kuat, dengan pendekatan kemitraan jangka panjang serta keahlian FrieslandCampina dalam pengembangan produk susu,” tambah Manajemen FCIH.

Di sisi lain, Manajemen ULTJ menyambut sangat positif akuisisi strategis ini dan memastikan pendiri perseroan, Sabana Prawirawidjaja, tetap memegang kendali kepemimpinan operasional sebagai Direktur Utama sekaligus pemegang saham jangka panjang di ULTJ.

“Pendapatan perseroan pada tahun-tahun berikutnya diproyeksi meningkat sekitar 137 persen per tahun didukung bisnis FFI. Sementara laba bersih perseroan juga diperkirakan meningkat hingga 115,4 persen per tahun,” papar Manajemen ULTJ.

Lahirnya Monopoli Bisnis Susu dan Restu RUPSLB

Perjodohan dua rival abadi di industri pengolahan susu ini dipastikan bakal menciptakan kekuatan monolitik yang mendominasi pasar nasional.

Berdasarkan data riset Nielsen per akhir 2025, ULTJ menguasai 37,3 persen pangsa pasar produk susu di Indonesia, serta memimpin 53,9 persen pasar teh siap minum dan minuman kesehatan lewat merek Teh Kotak, Sari Asem Asli, Sari Kacang Ijo, hingga produk keju olahan bersama Kraft Heinz.

Sementara itu, riset Marketac pada awal 2026 mencatat FFI menguasai sekitar 21,72 persen pangsa pasar susu nasional melalui varian susu kental manis kemasan, susu cair siap minum, hingga susu nutrisi balita dan ibu hamil.

Penggabungan portofolio kedua entitas ini praktis menempatkan ULTJ sebagai penguasa mutlak pasar olahan susu nasional dengan pangsa gabungan melampaui 58 persen.

Rencana pelepasan saham FFI ini telah mengantongi persetujuan penuh dari Members’ Council FrieslandCampina.

Kepastian final atas transaksi material tanpa bayar tunai ini kini tinggal menunggu keputusan dan persetujuan dari para pemegang saham independen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar BiasaULTJ yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026 mendatang.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.