Keputusan ini diambil sebagai bagian dari strategi kebijakan moneter untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tekanan pasar keuangan global, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa penetapan suku bunga acuan tersebut berada dalam jalur konsisten untuk memastikan stabilitas makroekonomi tetap terjaga.
Langkah ini juga diarahkan untuk mengendalikan laju inflasi agar tetap berada dalam sasaran target 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.
“Keputusan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat guna mendukung pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5 plus minus 1 persen pada tahun 2026 dan 2027 serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Destry Damayanti dalam konferensi pers usai RDG BI di Jakarta, Rabu, 23 September 2026.
Opsi Bauran Makroprudensial dan Insentif Likuiditas
Destry Damayanti menjelaskan bahwa Bank Indonesia tidak hanya mengandalkan instrumen suku bunga utama, tetapi juga terus memperkuat bauran kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran.
Kebijakan makroprudensial yang akomodatif terus ditingkatkan guna merangsang penyaluran kredit perbankan ke sektor riil tanpa mengabaikan aspek kehati-hatian dan stabilitas sistem keuangan.
Dalam upaya menarik aliran modal asingserta memitigasi volatilitas mata uang, Bank Indonesia memperluas skema insentif pengurangan premi instrumen lindung nilaiKebijakan ini mencakup penyesuaian insentif untuk instrumen Swap Beli Lindung Nilai Konvensional dan Domestic Non-Deliverable Forwardguna memperkuat kecukupan likuiditas valuta asing di dalam negeri.
“Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan insentif untuk menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas,” kata Destry Damayanti.
Selain itu, penyaluran kredit perbankan terus didorong melalui optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas MakroprudensialHingga minggu pertama September 2026, total insentif KLM yang dialokasikan kepada perbankan telah mencapai Rp461,2 triliun, dengan porsi terbesar disalurkan melalui KLM financing channel sebesar Rp338,2 triliun dan KLM Pendalaman Pasar Uang sebesar Rp123,0 triliun.
Peta Risiko Geopolitik versus Ketahanan Ekonomi Domestik
Mengenai kondisi perekonomian global, Destry Damayanti menggarisbawahi masih tingginya tingkat ketidakpastian pasar keuangan internasional.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang sempat memicu kenaikan harga minyak hingga menyentuh level USD132 per barel turut memberi tekanan pada ketahanan eksternal negara-negara berkembang.
Kendati harga minyak melandai ke bawah level USD100 per barel pada 22 September 2026, risiko ketatnya kebijakan moneter global—termasuk ketidakpastian arah suku bunga acuan Fed Funds Rate—tetap membutuhkan respons antisipatif.
Meskipun dihadapkan pada ketidakpastian global, ketahanan ekonomi Indonesia dinilai tetap solid.
Konsumsi rumah tangga terpantau kuat dengan dukungan berbagai stimulus fiskal pemerintah, sementara kinerja investasi dan ekspor nonmigas secara berkesinambungan terus menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional.
“Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen,” tutur Destry Damayanti.
Dari sisi kestabilan harga, inflasi Indeks Harga Konsumenpada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen secara tahunanAngka tersebut dinilai tetap terkendali dalam rentang target bank sentral.
Di saat yang sama, intermediasi perbankan terus mencatatkan kinerja positif dengan pertumbuhan kredit mencapai 13,65 persenpada Agustus 2026, yang ditopang oleh tingginya pertumbuhan kredit investasi sebesar 25,11 persen
Pijakan Neraca Pembayaran beserta Akselerasi Transaksi Digital
Kinerja Neraca Pembayaran Indonesiajuga dipastikan terus menguat guna mendukung ketahanan eksternal di tengah tingginya gejolak pasar keuangan global.
Neraca perdagangan periode Juli 2026 mencetak surplus sebesar USD0,12 miliar, membalikkan posisi defisit USD0,45 miliar pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, arus modal investasi portofolio asing pada triwulan III-2026 hingga 21 September 2026 mencatatkan masuknya dana bersihsebesar USD0,4 miliar, terutama disumbang penerbitan obligasi global pemerintah serta arus masuk modal pada Surat Berharga Negara
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tetap kokoh sebesar USD146,5 miliar, setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor beserta pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Angka ini berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang berkisar 3 bulan impor.
Stabilitas nilai tukar Rupiah pun terus diperkuat di tengah dinamika global, di mana per 22 September 2026 nilai tukar tercatat berada di level Rp17.855 per dolar AS.
Di sisi sistem pembayaran, transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Agustus 2026 tumbuh pesat ditopang infrastruktur yang stabil dan aman.
Volume transaksi pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi atau melesat 40,36 persenTransaksi QRIS bahkan melonjak tinggi hingga 67,22 persen, sedangkan volume transaksi ritel melalui BI-FAST menembus 549 juta transaksi dengan total nilai mencapai Rp1.346 triliun.
Bank Indonesia terus memperluas akseptasi pembayaran digital dan sinergi LCT (Local Currency Transaction) internasional demi menopang pertumbuhan ekonomi nasional secara inklusif.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.