Selain itu, pelemahan harga juga terjadi akibat menguatnya dolar Amerika Serikat
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 0,6 persen menjadi USD4.349,94 per ons setelah sebelumnya jatuh lebih dari 1 persen ke level terendah sesi di USD4.322,19.
Sementara, kontrak berjangka emas AS ditutup 0,9 persen lebih rendah di harga USD4.383,90.
Dolar AS sedikit menguat terhadap enam mata uang utama lainnya, memperpanjang penguatan setelah kenaikan suku bunga The Fed yang sukses mendorong mata uang itu naik lebih dari 1 persen pekan lalu.
Dolar AS yang lebih kuat membuat emas batangan lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
“Kami melihat beberapa kekhawatiran yang masih ada di kalangan para pelaku pasar bullish mengenai kebijakan moneter AS yang lebih ketat, yang telah mendorong indeks dolar AS ke level tertinggi lebih dari dua bulan pada hari Jumat.
Unsur-unsur bearish tersebut berdampak negatif terhadap logam mulia,” kata Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange.
Adapun menurut CME FedWatch Tool. FEDWATCH, para pedagang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS sebesar 88 persen pada bulan Desember 2026.
Emas batangan secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, tetapi kehilangan daya tariknya dibandingkan aset penghasil imbal hasil jika lingkungan suku bunga tinggi.
Perang AS-Israel dengan Iran telah mendorong kenaikan harga energi, meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat kebijakan restriktif oleh bank sentral, menyebabkan harga emas turun 17 persen dari level tertinggi sesi pada 27 Februari 2026.
Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, mengatakan pada hari Minggu bahwa inflasi terlalu tinggi di semua sektor ekonomi AS, bukan hanya minyak.
Sementara itu para analis di TD Securities memperkirakan bahwa setiap pelemahan jangka pendek di pasar logam mulia hanya akan terbatas pada penjualan yang moderat, dan akan semakin dilihat sebagai peluang pembelian untuk logam mulia tersebut.
Di sisi lain, harga perak spot turun 0,4 persen menjadi USD65,99, platinum naik 0,3 persen ke level USD1.805,83, serta paladium meningkat0,4 persen ke harga USD1.307,33.
Proyeksi Harga Emas Pekan ini
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi memprediksi harga emas dunia dan logam mulia akan bergerak fluktuasi pada perdagangan pekan ini.
Proyeksi itu didasari oleh dinamika teknikal serta sejumlah faktor geopolitik global yang kian memanas.
Ibrahim mengatakan harga emas dunia ditutup di level USD4.378 per troy ons pada Sabtu, 19 September 2026.
Berdasarkan analisisnya, Ibrahim memproyeksikan support pertama emas dunia akan menguji level USD4.333 per troy ons jika mengalami koreksi.
“Kemudian, apabila terkoreksi lagi, emas dunia menuju USD4,250 dolar per try-on,” ujar dia dalam keterangannya, Minggu, 20 September 2026.
Namun apabila harga emas dunia mampu membuat, Ibrahim melihat level resisten pertama diproyeksikan berada di posisi USD 4.429 per troy ons.
Andai tren kenaikan terus berlanjut, kata dia, resisten kedua emas dunia pada pekan ini akan menguji kisaran USD4.533 per troy ons.
“Jadi, dalam transaksi minggu depan untuk harga emas dunia ditransaksikan di support di USD4.250 dolar per try-on hingga resisten tertinggi USD4.533 per troy ons,” jelasnya.
Sementara itu untuk pasar domestik, Ibrahim mendatar harga logam mulia Antam tercatat ditutup di level Rp2.764.000 per gram pada perdagangan 19 September 2026.
Ibrahim menyampaikan, andai terjadi pelemahan harga pada pekan ini, support pertama logam mulia akan berada di level Rp2.744.000 per gram.
“Kemudian, kalau terjadi koreksi lanjutan, kemungkinan besar logam mlia itu di level Rp2,620,000,” terangnya.
Di sisi lain, jika harga logam mulia bergerak menguat, resisten pertama diperkirakan menyentuh Rp2.784.000 per gram. Penguatan lanjutan diproyeksikan bakal menguji area resisten kedua di level Rp2.820.000 per gram.
“Sehingga, dalam perdagangan di minggu depan, logam mulia diperdagangkan di support Rp2.620.000 per gram dan resistennya itu Rp2,820,000 per gram,” ungkapnya.
Pergerakan harga emas dunia dan logam mulia diselimuti berbagai faktor yang mencakup dinamika geopolitik global, ketidakpastian kebijakan politik di Amerika Serikat, serta arah kebijakan suku bunga dari Bank Sentral AS
Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah kian memanas setelah eskalasi konflik bergeser dari Selat Hormuz menuju Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.
Ibrahim mengatakan kelompok Houthi dari Yaman dinilai berhasil menguasai sebagian wilayah militer Yaman pro-pemerintah, merangsek menuju Selat Bab al-Mandab, dan mendekati perbatasan Arab Saudi.
Eskalasi pertempuran bahkan diwarnai oleh serangan rudal dan drone yang diarahkan ke wilayah ibu kota Arab Saudi.
“Dan ini membuktikan bahwa Yaman Houthi memiliki persenjataan yang cukup tangguh, sehingga Arab Saudi pun juga meminta bantuan terhadap Turki dan Pakistan,” pungkasnya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.