Mengutip Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,70 persen ke level 53.185,90. Sementara S&P 500 ditutup di level 7.686,14 atau turun 0,33 persen, serta Nasdaq Composite yang menyusut 0,12 persen menjadi 26.370,89.
Terlepas dari aksi jual besar-besaran, ketiga indeks saham utama AS mencatatkan kenaikan bulanan.
Nasdaq menunjukkan pertumbuhan persentase terbesar untuk bulan Agustus karena perdagangan AI tetap hidup, meskipun terjadi pelemahan baru-baru ini.
Sementara Dow Jones, yang merupakan indeks saham unggulan, meraih kenaikan bulanan kelima berturut-turut.
Peter Tuz, presiden Chase Investment Counsel di Charlottesville, Virginia mengatakan katalis datang dari The Fed yang kemungkinan akan menaikan suku bunga pada September 2026.
“Kami mendapat kabar dariKevin Warsh minggu lalu, dan kemungkinan besar akan terjadi kenaikan suku bunga pada bulan September. Tambahkan itu ke dalam campuran permusuhan yang terus berlanjut di Timur Tengah.” kata dia.
Menurut alat FedWatch dari CME, pasar keuangan saat ini memperkirakan lebih dari 65 persen kemungkinan bank sentral akan menerapkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir pertemuan kebijakan moneter bulan September.
Paul Nolte, penasihat kekayaan senior & ahli strategi pasar di Murphy & Sylvest di Elmhurst, Illinois mengatakan para investor juga mempertimbangkan kembali beberapa komentar yang dibuat Warsh di Jackson Hole dan apa artinya bagi suku bunga.
“Jika mereka tidak menaikkan suku bunga pada bulan September, saya pikir Anda akan melihat reaksi dramatis di pasar karena telah dipersiapkan sejak lama bahwa mereka akan menaikkan suku bunga.”
Sentimen Wall Street juga terjadi terkait Hari Buruh. Menurut Tuz, sepekan sebelum Hari Buruh banyak orang yang tidak masuk ke kantor. Hal ini pun berdampak ke pasar saham.
“Tidak ada alasan untuk datang bekerja hari ini dengan berpikir ini adalah hari yang tepat untuk membeli saham.” kata dia.
Konflik AS-Iran Memanas
Di sis lain, konflik AS-Iran yang kembali memanas menjadi sentimen berikutnya bagi Wall Street. Perselisihan antar dua negara tersebut membuat harga minyak melonjak pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka ditutup naik 2,71 persen menjadi USD90,49 per barel. Sementara Minyak mentah West Texas Intermediate AS ditutup di level USD91,52 atau meningkat 2,83 persen.
Sebagai informasi, harga minyak Brent sempat mencapai level USD91,52 selama sesi perdagangan kemarin. Angka ini merupakan level tertinggi sejak 25 Agustus 2026.
Presiden AS, Donald Trump berjanji akan melancarkan balasan setelah Iran meluncurkan rudal ke pangkalan udara AS di Yordania sebagai tanggapan atas serangan terhadap Pulau Larak di Iran .
“Kita akan menyerang mereka dengan keras, akan ada balasannya,” kata Trump seperti dikutip oleh seorang reporter Fox News kepada saluran tersebut.
Mengutip Reuters, pada Minggu, 30 Agustus 2026 dalam unggahan di media sosial, Trump mengatakan bahwa pusat energi Iran di Pulau Kharg telah hancur berkeping-keping. Akan tetapi tidak ada bukti bahwa pulau itu sedang diserang.
Unggahan tersebut, yang menyertakan video yang dihasilkan oleh AI, tidak memberikan detail lebih lanjut. Iran membantah bahwa pulau itu sedang diserang dan mengatakan operasi minyak terus berlanjut di sana.
Sehari setelahnya, Wakil Presiden AS, JD Vance mengatakan bahwa Trump mengirim pesan kepada Iran melalui unggahan tersebut.
Adapun para mediator berupaya mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang dilalui seperlima pasokan minyak global sebelum perang dimulai pada akhir Februari. Namun, kemajuan telah terhenti.
Data perkapalan menunjukkan jumlah kapal komoditas yang terlihat melintasi selat selama akhir pekan turun menjadi lima kapal per hari.
“Sebagian minyak mentah dari Teluk terus mengalir melalui selat tersebut, meredam kenaikan harga, tetapi pertukaran militer langsung pertama dalam sebulan telah memaksa para pedagang untuk membangun kembali premi pasokan jangka pendek yang signifikan,” tulis analis Gelber & Associates dalam sebuah catatan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC dalam sebuah wawancara pada hari Senin bahwa tujuan sanksi AS terhadap Iran adalah agar kedua belah pihak bisa melakukan pembicaraan.
“Untuk menciptakan kondisi agar mereka mau duduk di meja perundingan,” ujar dia.
Perlu diketahui, pada pekan lalu, stok minyak mentah di Cadangan Minyak Strategis AS mengalami penurunan sekitar 3,1 juta barel menjadi 286,6 juta barel.
Sementara di satu sisi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran masih mencari solusi melalui negosiasi untuk perang tersebut, setelah berhari-hari terjadi pertukaran serangan udara dan meningkatnya permusuhan menyusul penerapan sanksi ekonomi yang mahal oleh Presiden AS Donald Trump.
Kebuntuan yang berkepanjangan dan penutupan Selat Hormuz yang terkait memicu kekhawatiran bahwa tekanan kenaikan harga energi dapat meluas menjadi inflasi sistemik yang lebih luas, yang dapat memaksa The Fed untuk menaikkan suku bunga paling cepat bulan September.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.