Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen safe haven belum mampu mengalahkan tekanan dari perubahan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat.
Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Desember turun 1 persen dan ditutup di USD4.430,10 per troy ounce.
Reuters pada 8 September 2026 menyebut, kondisi ini berbeda dengan sebelumnya. Karena, ketegangan geopolitik di Timur Tengah justru meningkat selalu berhasil mengerek harga emas dunia.
Bahkan ketika kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang sejumlah fasilitas ekonomi dan energi di Arab Saudi serta di tengah ancaman Iran Amerika Serikat dengan “economic warfare” tak membuat harga emas terangkat.
Eskalasi tersebut mendorong harga minyak Brent mendekati level psikologis USD100 per barel. Brent sempat menyentuh USD99,46 per barel, level tertingginya sejak 24 Juli, sebelum akhirnya ditutup di USD97,92 per barel.
Kenaikan minyak inilah yang menjadi salah satu faktor penting di balik tekanan terhadap harga emas.
Mengapa Konflik Timur Tengah Tak Mampu Mengangkat Harga Emas?
Secara umum, ketegangan geopolitik dapat meningkatkan permintaan terhadap emas karena investor mencari aset yang dianggap lebih aman. Namun, kondisi kali ini memiliki konsekuensi lain terhadap pasar.
Lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi Amerika Serikat dapat kembali menguat. Jika biaya energi meningkat, tekanan tersebut berpotensi merembet ke biaya transportasi, produksi, dan berbagai harga barang serta jasa.
Kekhawatiran inflasi kemudian memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve atau The Fed.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September mencapai sekitar 60 persen, naik dari sekitar 50 persen sebelum data ketenagakerjaan Amerika Serikat terbaru.
Data tenaga kerja AS juga memperkuat pandangan bahwa ekonomi masih cukup tangguh. Pertumbuhan lapangan kerja pada Agustus lebih kuat dari perkiraan, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1 persen.
Situasi tersebut membuat investor harus menimbang dua sentimen yang berlawanan.
Eskalasi Timur Tengah mendorong permintaan terhadap aset safe haven, tetapi potensi inflasi yang lebih tinggi dan kemungkinan suku bunga meningkat kembali menjadi beban bagi emas.
“Harga emas masih bergerak dalam rentang terbatas karena kenaikannya tertahan oleh meningkatnya kemungkinan kenaikan suku bunga, yang terus menghambat momentum di pasar,” kata Daniel Pavilonis, senior market strategist di Stone X, dilansir dari Reuters.
Emas menjadi lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.
Ketika suku bunga naik atau pasar memperkirakan kebijakan moneter lebih ketat, aset berbunga dapat menjadi relatif lebih menarik dibandingkan emas.
Menunggu Data Inflasi AS
Pergerakan harga emas selanjutnya juga akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini.
Data producer price indexdijadwalkan keluar pada Kamis, sedangkan consumer price indexakan dirilis pada Jumat. Kedua indikator tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed selanjutnya.
Pasar akan mencermati apakah kenaikan harga minyak mulai memberikan tekanan lebih besar terhadap inflasi.
Jika data menunjukkan tekanan harga yang kembali menguat, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dapat meningkat dan berpotensi membatasi ruang penguatan emas.
Sebaliknya, apabila data inflasi lebih rendah dari perkiraan, tekanan terhadap emas dari sisi suku bunga dapat mereda.
Kondisi tersebut dapat kembali membuka ruang bagi investor untuk meningkatkan kepemilikan emas, terutama jika risiko geopolitik di Timur Tengah tetap tinggi.
Pergerakan harga emas pada perdagangan Selasa juga menunjukkan tarik-menarik tersebut. Sebelum akhirnya melemah, harga emas spot sempat mencapai USD4.442,70 per troy ounce. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan hingga penutupan.
Dengan demikian, penurunan harga emas di tengah memanasnya konflik Timur Tengah bukan berarti permintaan terhadap aset safe haven menghilang. Pasar justru sedang menghadapi dua kekuatan yang saling berlawanan.
Risiko geopolitik memberikan alasan bagi investor untuk memegang emas, sementara kenaikan harga minyak dan potensi meningkatnya inflasi memberikan alasan lain untuk mengantisipasi kebijakan suku bunga yang lebih ketat.
Dalam jangka pendek, arah emas akan sangat bergantung pada keseimbangan kedua faktor tersebut, terutama setelah data PPI dan CPI Amerika Serikat dirilis.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.