TINS Cetak Laba Rp2,71 Triliun, Target Lama Mulai Terlampaui

Emiten anggota BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID tersebut membukukan laba bersih sebesar Rp2,71 triliun sepanjang Semester I 2026. Capaian itu melonjak 805 persen secara tahunan atau year-on-year

Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan pendapatan perseroan yang melesat 147 persen yoy menjadi Rp10,42 triliun, dibandingkan Rp4,22 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja positif TINS ditopang kombinasi kenaikan volume penjualan, peningkatan harga jual rata-rata logam timah, serta perbaikan operasional di sisi hulu dan hilir.

Dalam ajang Public Expose Live 2026 yang digelar PT Bursa Efek Indonesia, Kamis, 10 September 2026, manajemen TINS menyampaikan optimisme terhadap keberlanjutan pertumbuhan kinerja hingga akhir tahun.

Direktur Produksi dan Komersial PT Timah Tbk, Ilhamsyah Mahendra, mengatakan kenaikan harga komoditas global menjadi salah satu stimulus utama yang mendorong pertumbuhan laba perseroan.

“Melihat capaian semester I dari sisi penjualan dan kinerja operasi, Perseroan sangat optimistis bahwa produktivitas akan terus tumbuh konsisten hingga akhir tahun 2026,” ujar Ilhamsyah.

Produksi dan Penjualan Timah Melonjak

Dari sisi operasional, TINS mencatat produksi bijih timah sebesar 12.232 ton Sn sepanjang Semester I 2026. Angka tersebut meningkat 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Produksi logam timah juga tumbuh 58 persen yoy menjadi 10.865 metrik ton Sn.

Kenaikan produksi kemudian tercermin pada volume penjualan logam timah yang melonjak 85 persen menjadi 10.984 metrik ton. Sementara itu, harga jual rata-rata atau average selling pricemencapai USD49.794 per metrik ton.

Kondisi tersebut semakin menguntungkan perseroan karena harga rata-rata timah dunia di London Metal ExchangeCash Settlement sepanjang paruh pertama 2026 berada di level USD50.319,19 per metrik ton, atau naik 56,68 persen yoy.

Kenaikan harga timah global turut ditopang tingginya kebutuhan industri semikonduktor, teknologi kecerdasan buatan, pusat data, elektronik, serta agenda transisi energi.

Smelter Ausmelt Jadi Penopang Operasional

Selain faktor harga, perbaikan kinerja TINS juga tidak terlepas dari pembenahan fundamental operasional.

Salah satu penopang utama adalah meningkatnya keandalan fasilitas pengolahan dan peleburan, khususnya smelter berteknologi Ausmelt milik perseroan.

Manajemen menyebut operasional Ausmelt sepanjang Semester I 2026 berjalan relatif lancar. Beberapa gangguan minor, termasuk persoalan pada kompresor, masih dapat ditangani melalui perbaikan fundamental di sisi operasi bijih dan logam.

Integrasi rantai pasok dari tambang darat dan laut menuju fasilitas pengolahan juga mulai membentuk ritme operasional yang lebih stabil.

Perbaikan tersebut menjadi penting karena kemampuan smelter dalam mengolah produksi bijih akan menentukan seberapa optimal peningkatan produksi dapat dikonversi menjadi penjualan logam dan pendapatan.

Untuk mengejar target produksi pada paruh kedua 2026, TINS juga menambah peralatan tambang, terutama Kapal Isap Produksidi wilayah perairan lepas pantai.

Perseroan menambah empat unit KIP pada Juli dan Agustus 2026. Selain itu, ekspansi kegiatan pertambangan darat bersama mitra terus dilakukan.

Produktivitas Ponton Isap Produksijuga meningkat signifikan. Manajemen menyebut output PIP telah mencapai sekitar dua kali lipat dibandingkan realisasi pada 2025.

TINS Ajukan Revisi RKAP 2026

Kinerja Semester I 2026 yang melampaui ekspektasi awal turut mendorong TINS mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan2026.

Dalam RKAP awal, perseroan menargetkan produksi sekitar 30.000 ton Sn. Dari sisi keuangan, target awal yang ditetapkan mencakup pendapatan Rp15,4 triliun dan laba bersih Rp1,6 triliun.

Namun, realisasi hingga Semester I telah melampaui target keuangan awal tersebut. Karena itu, TINS mengajukan RKAP Perubahan kepada pemegang saham dan MIND ID untuk mendapatkan target finansial baru yang lebih tinggi.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TINS, Fina Eliani, mengatakan angka target baru belum dapat disampaikan karena masih menunggu proses persetujuan pemangku kepentingan.

Dengan demikian, prospek kinerja TINS hingga akhir 2026 masih terbuka untuk mengalami peningkatan dibandingkan target awal. Perseroan tetap membidik produksi 30.000 ton Sn dan penjualan logam timah sekitar 29.000 ton hingga akhir tahun.

Ekspor ke India Makin Menjanjikan

Dari sisi pasar, India menjadi salah satu tujuan ekspor yang semakin penting bagi TINS.

Pangsa pasar TINS di India meningkat menjadi sekitar 12 persen, dibandingkan sebelumnya hanya 5 persen.

Pertumbuhan tersebut didorong ekspansi industri manufaktur semikonduktor dan komponen elektronik di India. Pembangunan fasilitas produksi di kawasan Noida dan Greater Noida turut meningkatkan kebutuhan timah.

Manajemen menyebut ekspansi pabrik Foxconn untuk produksi iPhone menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan permintaan. Produksi iPhone di fasilitas tersebut disebut meningkat dari sekitar 33 juta unit menjadi 55 juta unit.

Selain India, TINS juga membidik sejumlah pasar ekspor baru. Perseroan mengincar peningkatan volume penjualan ke Inggris, Vietnam, Filipina, serta India.

Sementara itu, ekspansi pasar Timur Tengah yang sebelumnya telah dijajaki mengalami penundaan akibat dinamika geopolitik dan diarahkan menjadi target pada tahun berikutnya.

Cadangan Timah Jadi Penopang Jangka Panjang

Untuk menjaga keberlanjutan operasional dan mengurangi risiko pasokan bahan baku, TINS terus memperluas kegiatan eksplorasi di wilayah konsesi darat maupun laut.

Hingga akhir Semester I 2026, perseroan mengantongi cadangan timah sebesar 312 ribu ton Sn. Adapun sumber daya timah yang dimiliki mencapai 798 ribu ton.

Besarnya cadangan dan sumber daya tersebut menjadi salah satu fondasi bagi perseroan untuk mempertahankan kegiatan produksi dalam jangka panjang.

Dengan kombinasi harga timah yang masih tinggi, peningkatan produksi, perbaikan keandalan smelter Ausmelt, tambahan peralatan tambang, serta ekspansi pasar ekspor, TINS memiliki sejumlah katalis untuk mempertahankan momentum kinerja hingga akhir 2026.

Namun, realisasi kinerja tetap akan bergantung pada pergerakan harga timah global, kemampuan perseroan mencapai target produksi, kondisi pasar ekspor, serta hasil persetujuan atas revisi RKAP 2026.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.