Pasar yang sempat tenang mendadak kembali tegang setelah Trump menyatakan Washington akan menyerang Iran dengan lebih keras apabila kesepakatan damai gagal tercapai.
Pada perdagangan Kamis, 11 Juni 2026 WIB, minyak Brent ditutup naik USD1,65 atau 1,8 persen ke level USD93,10 per barel atau sekitar Rp1,58 juta.
Sementara minyak mentah Amerika Serikat ditutup di USD90,03 per barel atau sekitar Rp1,53 juta setelah menguat USD1,83 atau 2 persen.
Kenaikan harga sebenarnya sempat lebih tinggi.
Dalam perdagangan sore hari, kedua kontrak bahkan melonjak hampir USD3 setelah Trump kembali menegaskan bahwa Iran berpotensi menghadapi serangan lanjutan menyusul baku tembak yang terjadi semalam.
Situasi ini membuat pasar kembali fokus pada risiko perang di Timur Tengah.
Setelah sempat bergerak lebih tenang usai gencatan senjata pada April lalu, konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini kembali menjadi faktor utama yang menggerakkan harga energi dunia.
“Harga minyak telah bergerak dari kecemasan ke sikap masa bodoh, lalu kembali lagi di tengah bentrokan baru antara Amerika Serikat dan Iran,” kata analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, dikutip dari Reuters, Kamis.
Menjelang penutupan perdagangan, kenaikan harga minyak sempat berkurang setelah Trump mengklaim militer Amerika Serikat diam-diam mengawal kapal-kapal yang membawa lebih dari 100 juta barel minyak melewati Selat Hormuz.
Jumlah tersebut setara dengan konsumsi minyak dunia selama satu hari penuh. Trump bahkan mengklaim operasi tersebut berhasil menahan lonjakan harga energi yang lebih ekstrem.
Menurutnya, tanpa langkah tersebut harga minyak bisa melambung jauh lebih tinggi.
“Harga minyak seharusnya sudah berada di USD250 per barel, bukan USD85 sampai USD90 per barel seperti sekarang,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Pernyataan itu muncul setelah Trump menuding Iran sengaja memperlambat proses negosiasi damai dan memperingatkan Teheran akan “membayar harganya”.
Di saat yang sama, data pemerintah Amerika Serikat ikut mendorong harga minyak naik. Badan Informasi Energi AS melaporkan persediaan minyak mentah negeri itu turun tajam sebesar 7,2 juta barel pada pekan yang berakhir 5 Juni.
Penurunan tersebut jauh lebih besar dibandingkan perkiraan analis yang hanya memproyeksikan penurunan sekitar 4 juta barel.
Data tersebut menunjukkan kilang-kilang minyak Amerika Serikat tengah berlomba mencari pasokan tambahan untuk menutup gangguan akibat konflik yang berlangsung.
Cadangan minyak strategis Amerika Serikat juga tercatat berada pada level terendah sejak Agustus 2023.
Sebagai respons, Departemen Energi Amerika Serikat mengumumkan rencana meminjamkan hingga 40 juta barel minyak dari cadangan strategis kepada perusahaan energi guna menekan harga bahan bakar.
Ketegangan semakin meningkat setelah militer Amerika Serikat menyerang sejumlah target Iran. Langkah itu diambil setelah Trump berjanji membalas jatuhnya helikopter tempur Apache milik AS.
Militer Amerika juga mengaku melakukan serangan presisi terhadap sebuah kapal di Teluk Oman yang disebut mengangkut minyak Iran dan tidak mematuhi instruksi mereka.
Analis pasar senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai konflik terbaru telah menghidupkan kembali premi risiko geopolitik yang sebelumnya mulai menghilang dari pasar energi.
“Meskipun upaya diplomatik masih berlangsung, pertukaran serangan militer terbaru kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke pasar minyak,” katanya.
Di luar medan perang, tekanan terhadap Iran juga datang dari jalur diplomatik.
Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional yang beranggotakan 35 negara mengesahkan resolusi dukungan Amerika Serikat yang meminta Iran mendeklarasikan sisa stok uranium yang telah diperkaya dan membuka akses verifikasi bagi para inspektur.
Meski konflik menjadi faktor pendorong harga, pasar masih mendapat sedikit penahan dari sisi permintaan global. Impor minyak China yang lebih rendah dari perkiraan membantu membatasi kenaikan harga lebih lanjut.
Selain itu, lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang masih terbatas juga menciptakan situasi paradoks. Sebagian kapal memang sudah kembali melintas, tetapi volumenya masih jauh di bawah kondisi normal sebelum perang.
Iran hingga kini masih membatasi sebagian besar pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Di sisi lain, Washington juga memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Lonjakan harga energi mulai terasa dampaknya terhadap ekonomi global. Inflasi konsumen Amerika Serikat pada Mei tercatat naik paling cepat dalam tiga tahun terakhir.
Kondisi itu membuat pelaku pasar mulai bertaruh bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.
Dengan perang yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, pasar minyak tampaknya kembali hidup dalam satu ketakutan lama. Setiap rudal yang meluncur dari Timur Tengah kini berpotensi ikut mengerek harga energi yang harus dibayar dunia.
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.