Padahal, perannya dalam menopang kehidupan di bumi justru sangat besar, mulai dari menyerap karbon hingga menghasilkan oksigen yang kita hirup setiap hari.
Guru Besar Fakultas Biologi UGM, Prof. Eko Agus Suyono, mengatakan mikroalga menjadi salah satu aktor penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan global.
Ia menyebut organisme kecil ini mampu menyerap karbon dioksida lewat proses fotosintesis dan mengubahnya menjadi senyawa organik.
“Mikroalga juga berkontribusi sekitar 40 sampai 50 persen terhadap oksigen di atmosfer, sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian oksigen pada setiap tarikan napas manusia berasal dari proses fotosintesis mikroalga,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UGM, Ahad, 5 April 2026.
Pernyataan itu disampaikan dalam pidato pengukuhan guru besar yang mengangkat tema mikroalga sebagai mesin biologis masa depan.
Dari situ, terlihat bahwa isu ini bukan sekadar riset akademik, tetapi mulai masuk ke wilayah strategis energi dan industri.
Secara biologis, mikroalga berperan sebagai produsen utama dalam rantai makanan global. Ia menjadi bagian penting dalam siklus karbon dan nutrien, khususnya di ekosistem perairan.
Fungsi ganda sebagai penyerap sekaligus sumber karbon membuatnya menjadi fondasi kehidupan di banyak sistem alami.
Namun potensi mikroalga tidak berhenti di situ. Kandungan nutrisinya yang kaya membuka peluang pemanfaatan di berbagai sektor industri.
Mikroalga diketahui mengandung polisakarida, lipid, pigmen, protein, vitamin, mineral, hingga antioksidan.
“Tidak hanya untuk biofuel, mikroalga pun diketahui kaya akan polisakarida, lipid, pigmen, protein, vitamin, mineral, serta antioksidan yang memiliki potensi luas untuk berbagai aplikasi, mulai dari pangan dan pakan, kosmetik, farmasi, hingga produk berbasis hayati lainnya,” kata Eko.
Nilai ekonominya pun tidak kecil. Biomassa mikroalga bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi, mulai dari biodiesel, bioetanol, biohidrogen, hingga pupuk dan pakan.
Dalam sejumlah penelitian, mikroalga juga terbukti bisa dimanfaatkan untuk mengolah limbah sekaligus menghasilkan biomassa bernilai tambah.
Konsep ini kemudian dikenal sebagai biorefinery, yang mengintegrasikan produksi energi dan material dalam satu sistem.
Dari sisi energi, mikroalga bahkan disebut memiliki potensi lebih tinggi dibanding sumber biofuel konvensional seperti kelapa sawit, jagung, atau bunga matahari.
“Potensi mikroalga jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan sumber biofuel pada umumnya, seperti kelapa sawit, jagung, bunga matahari, dan kacang-kacangan,” ujarnya.
Keunggulan lain terletak pada fleksibilitas produksi. Mikroalga bisa dibudidayakan di lahan marjinal yang tidak bersaing dengan lahan pangan.
Pertumbuhannya juga cepat, sehingga dinilai mampu menjawab tantangan ketahanan pangan sekaligus krisis lingkungan.
Dalam sektor peternakan, mikroalga berpotensi menjadi pakan fungsional. Kandungan nutrisinya dinilai mampu meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh ternak secara bersamaan.
Sementara di bidang kesehatan, potensi mikroalga semakin luas. Kandungan antioksidannya bahkan disebut melampaui vitamin C, disertai sifat antiinflamasi dan antikanker.
“Mikroalga pun mengandung antioksidan yang lebih tinggi daripada vitamin C dan memiliki kandungan antiinflamasi dan antikanker,” katanya.
Tak hanya itu, mikroalga juga bisa digunakan untuk bioremediasi atau penyerap limbah. Kemampuannya beradaptasi di berbagai kondisi lingkungan membuatnya efektif dalam membersihkan polusi.
Menariknya, pengembangan mikroalga kini mulai bersinggungan dengan teknologi digital. Integrasi dengan Internet of Things dan machine learning memungkinkan pemantauan produksi secara real-time dan lebih efisien.
“Dalam konteks ini, IoT menjadi terobosan karena memungkinkan pemantauan biomassa dan parameter budidaya secara kontinu dan real-time, lalu menyiapkan aliran data yang siap diolah menjadi informasi operasional,” ujarnya.
Di tengah dorongan pemerintah mempercepat transisi energi dan ekonomi hijau, riset seperti ini menjadi sinyal positif.
Mikroalga bisa menjadi salah satu alternatif energi sekaligus industri baru yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga bernilai ekonomi tinggi.
Namun, jalan menuju ke sana tidak sederhana. Pengembangan mikroalga membutuhkan dukungan riset dari hulu hingga hilir, mulai dari eksplorasi strain unggul, teknologi budidaya, hingga industrialisasi skala besar.
“Mikroalga berpotensi sebagai solusi masa depan demi ketahanan lingkungan, kemandirian teknologi, dan kemajuan bangsa,” kata Eko.
Pesan UGM ini sangat jelas, potensi sudah ada, tinggal bagaimana negara serius menggarapnya.
Bagi investor, ini bisa menjadi sinyal awal bahwa sektor bioenergi berbasis mikroalga mulai dilirik, meski eksekusinya masih menunggu keberanian dan konsistensi kebijakan.
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.