Dow Jones Industrial Average ditutup melemah, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite masih mampu mencatat kenaikan tipis.
Pergerakan tersebut terjadi setelah pasar melewati pekan yang penuh gejolak akibat perubahan ekspektasi suku bunga Federal Reserve, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, lonjakan harga minyak, serta kekhawatiran baru mengenai prospek industri kecerdasan buatan
Pada penutupan perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun 95,40 poin atau 0,18 persen menjadi 51.682,64.
Sebaliknya, S&P 500 naik 12,74 poin atau 0,17 persen ke 7.650,50, sedangkan Nasdaq Composite bertambah 104,25 poin atau 0,40 persen menjadi 26.522,55.
Penguatan S&P 500 dan Nasdaq terutama ditopang saham semikonduktor. Namun, pelemahan yang lebih luas membuat Dow tetap berada di zona merah.
Data Reuters menunjukkan jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan saham yang naik, baik di New York Stock Exchange maupun Nasdaq.
Volume perdagangan juga mencapai 25,29 miliar saham, jauh di atas rata-rata 20 hari perdagangan sebesar 16,19 miliar saham.
Kenaikan Suku Bunga Pertama Sejak 2023
Pergerakan tersebut menggambarkan kondisi pasar yang masih berhati-hati setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu, 16 Setember 2026.
Kenaikan tersebut merupakan yang pertama sejak 2023 dan membawa kisaran suku bunga federal funds menjadi 3,75 persen hingga 4,00 persen.
Keputusan tersebut juga disertai sinyal bahwa kenaikan suku bunga berikutnya masih terbuka. Proyeksi pejabat The Fed menunjukkan kemungkinan satu kenaikan lagi pada tahun ini, sementara suku bunga diperkirakan tetap pada 2027.
Kondisi itu membuat investor kembali menghitung dampak biaya dana yang lebih tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi, laba perusahaan, dan valuasi saham.
Fokus pasar kemudian bergeser ke pasar obligasi.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat menembus 5 persen pada pekan ini, level yang menjadi perhatian investor karena kenaikan yield dapat meningkatkan biaya pendanaan sekaligus membuat aset berbasis obligasi menjadi lebih menarik relatif terhadap saham.
Pada perdagangan Jumat, yield 10 tahun kembali berada di sekitar level 5 persen. Pergerakan tersebut membuat investor belum sepenuhnya mengabaikan risiko suku bunga, meskipun S&P 500 dan Nasdaq berhasil ditutup lebih tinggi.
Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober mencapai 55,4 persen, naik dari 42,5 persen sepekan sebelumnya dan 7,2 persen pada sebulan sebelumnya.
Harga Minyak Masih Bertahan di Atas USD100
Tekanan lain datang dari pasar energi. Harga minyak masih bertahan di atas USD100 per barel setelah konflik di Timur Tengah mengganggu prospek pasokan.
Brent ditutup pada USD104,87 per barel, turun 0,93 persen, sedangkan West Texas Intermediateberada di USD100,30 per barel, turun 1,58 persen.
Penurunan harga pada Jumat terjadi setelah China, atas permintaan Arab Saudi, meminta Iran membatasi serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi.
Namun, ketidakpastian pasokan masih tinggi. Serangan terhadap jaringan pipa Saudi dan terbatasnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz membuat pasar minyak tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik.
Harga minyak menjadi penting bagi pasar saham karena kenaikan energi dapat menambah tekanan inflasi. Bagi The Fed, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan ketika menentukan kebijakan moneter.
Dengan harga minyak masih berada di atas USD100 per barel, investor harus mempertimbangkan kemungkinan tekanan inflasi bertahan lebih lama.
Di luar suku bunga dan minyak, perhatian investor juga tertuju pada sektor teknologi, khususnya AI. Sejumlah pimpinan perusahaan teknologi menyerukan perlunya memperlambat pengembangan AI karena pertimbangan keamanan.
Seruan tersebut sempat menekan saham perusahaan semikonduktor pada awal pekan.
Namun, pada Jumat, saham semikonduktor kembali menguat dan membantu Nasdaq serta S&P 500 mencatat kenaikan.
Karena itu, pasar masih mencari bukti mengenai apakah perubahan sikap terhadap pengembangan AI hanya bersifat sementara atau akan berdampak terhadap belanja infrastruktur dan permintaan chip dalam jangka lebih panjang.
Sektor teknologi menjadi salah satu pendorong utama perdagangan Jumat, meski kekhawatiran mengenai perlambatan AI masih menjadi perhatian investor.
Isu Buffet Tinggalkan Berkshire Hathaway Berkembang
Sentimen korporasi juga diwarnai sejumlah perkembangan individual. Berkshire Hathaway mengumumkan Warren Buffett akan meninggalkan posisi chairman dan menjadi chairman emeritus, setelah sebelumnya menyerahkan jabatan CEO kepada Greg Abel. Saham Berkshire bergerak sedikit lebih rendah.
Sementara itu, Xenon Pharmaceuticals merosot 30,7 persen setelah perusahaan menghentikan sementara pendaftaran peserta dalam uji klinis obat eksperimental untuk depresi berat dan bipolar.
Keputusan tersebut menyusul laporan mengenai efek samping dalam pengujian obat.
Dengan demikian, pelemahan Wall Street pada akhir pekan bukan berasal dari satu faktor tunggal.
Pasar sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan suku bunga yang kembali meningkat, yield Treasury yang mendekati atau menembus 5 persen, harga minyak di atas USD100 per barel, serta ketidakpastian mengenai prospek AI dan pertumbuhan laba perusahaan.
Pekan depan, perhatian investor akan kembali tertuju pada komunikasi pejabat The Fed, data ekonomi AS, perkembangan harga minyak, serta perkembangan hubungan AS-China.
Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping juga menjadi perhatian karena isu teknologi AI dan perdagangan semikonduktor termasuk agenda yang berpotensi memengaruhi sektor teknologi.
Wall Street menutup pekan dengan hasil yang berbeda antarindeks. Nasdaq masih mencatat kenaikan mingguan, S&P 500 berakhir dengan penurunan mingguan tipis, sedangkan Dow mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Maret.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa setelah keputusan The Fed, perhatian pasar kini bergeser dari sekadar apakah suku bunga akan naik menjadi bagaimana jalur suku bunga, inflasi, minyak, dan pertumbuhan laba akan berkembang dalam beberapa bulan berikutnya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.