Walt Disney Kuatkan Dow Jones, Wall Street Nyaris Flat

Namun kenaikan saham Walt Disney menjadi obat yang menguatkan indeks Dow Jones.

Pergerakan pasar tertahan oleh kenaikan harga minyak dan imbal hasil US Treasury di tengah ketidakpastian konflik di Timur Tengah serta meningkatnya kembali ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Indeks S&P 500 ditutup turun tipis 0,02 persen atau 1,90 poin ke level 7.704,13. Dow Jones Industrial Average melemah 0,31 persen atau 161,61 poin menjadi 51.349,98.

Sementara Nasdaq Composite justru naik tipis 0,01 persen atau 3,34 poin ke 26.939,37.

Delapan dari 11 sektor dalam S&P 500 berakhir di zona merah. Sektor material menjadi penekan utama setelah turun 1,18 persen, diikuti sektor kebutuhan pokok konsumen yang terkoreksi 0,96 persen.

Harga Brent Meledak Empat Persen

Tekanan terhadap saham berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga minyak.

Brent sempat melonjak sekitar 4 persen dan bergerak di kisaran USD107 per barel setelah serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi kembali meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi.

Pergerakan yield Treasury juga menjadi perhatian karena kenaikan imbal hasil meningkatkan daya tarik instrumen pendapatan tetap dibandingkan aset berisiko.

Di pasar obligasi, yield Treasury 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2004.

Kenaikan yield terjadi ketika pasar kembali memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama atau melakukan kenaikan tambahan.

Ekspektasi tersebut diperkuat data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan aktivitas bisnis masih kuat.

Sehari sebelumnya, data PMI komposit S&P Global September tercatat 58,4, naik dari 56 pada Agustus dan menjadi kenaikan selama empat bulan berturut-turut. Data tersebut ikut meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober.

Kemungkinan The Fed Naikkan Lagi Suku Bunga

Berdasarkan FedWatch Tool CME Group yang dikutip dalam laporan pasar, probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin pada Oktober telah meningkat menjadi sekitar 70 persen.

Padahal sebelumnya, probabilitas tersebut berada di bawah level itu.

Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams, juga mengatakan bahwa kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun masih layak dipertimbangkan.

Kemungkinan ini berakibat pada pergerakan saham teknologi yang tidak seragam. Microsoft terkoreksi 0,5 persen, sedangkan Broadcom turun 1,3npersen.

Sebaliknya, Advanced Micro Devices atau AMD menguat 2,4 persen.

Meta Platforms menjadi salah satu saham teknologi yang mencatat kenaikan paling besar.

Saham perusahaan tersebut melesat 4,5 persen setelah memperkenalkan perangkat berukuran kecil yang dirancang untuk digunakan bersama asisten kecerdasan buatan terbaru miliknya.

Di sini tema AI masih menjadi salah satu sumber aktivitas utama di pasar saham AS, meskipun arah indeks secara keseluruhan terbatas.

Menurut data LSEG yang dikutip Reuters, sepanjang pekan ini S&P 500 diperdagangkan dengan valuasi kurang dari 19 kali estimasi laba. Level tersebut merupakan yang terendah sejak 2023.

Ekspektasi pertumbuhan laba belakangan ini banyak ditopang perusahaan-perusahaan besar yang berkaitan dengan AI.

Walt Tahan Keruntuhan Dow

Di luar kelompok teknologi, Walt Disney menjadi salah satu saham unggulan Dow yang menguat, naik 2,03 persen. Visa naik 1,79 persen, sedangkan Verizon Communications bertambah 1,64 persen.

Sebaliknya, Walmart menjadi salah satu penekan Dow setelah turun 2,69 persen. International Business Machines melemah 2,45 persen, sementara Sherwin-Williams terkoreksi 1,86 persen.

Pada S&P 500, Moderna menjadi saham dengan kenaikan terbesar setelah melesat 6,98 persen, disusul Charles River Laboratories yang naik 6,17 persen dan Revvity yang menguat 6,03 persen.

Di sisi lain, Gen Digital turun 12,05 persen, MGM Resorts International anjlok 10,99 persen, dan First Solar melemah 10,32 persen.

MGM Resorts menjadi salah satu saham yang mengalami tekanan paling besar setelah perusahaan milik Barry Diller, People Inc., menarik proposal untuk mengakuisisi operator kasino tersebut.

Oracle juga menjadi perhatian setelah sahamnya turun 3,5 persen. Penurunan terjadi setelah muncul laporan mengenai pemberitahuan force majeure kepada sebuah pusat data di New Mexico.

Blue Owl, pengembang proyek tersebut, juga mengalami tekanan.

Pembahasan Konflik AS-Iran

Dari sisi geopolitik, pasar sempat mendapatkan ruang untuk mengurangi tekanan setelah muncul laporan bahwa negosiator Amerika Serikat dan Iran sedang menjajaki kemungkinan penyelesaian bertahap konflik.

Salah satu pembahasan yang dilaporkan mencakup kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pengurangan tekanan ekonomi terhadap Iran. Berita tersebut membantu S&P 500 dan Nasdaq memangkas posisi terendahnya pada sesi perdagangan.

Namun, perkembangan tersebut belum menghilangkan ketidakpastian di pasar energi.

Harga Brent kembali bergerak di atas USD105 per barel pada Kamis seiring belum adanya kepastian mengenai penyelesaian konflik dan gangguan pengiriman melalui kawasan Teluk.

Tekanan pasar juga terlihat dari breadth perdagangan. Jumlah saham yang turun di S&P 500 mencapai sekitar 1,9 kali jumlah saham yang naik.

Sebanyak 14 saham mencatat level tertinggi baru, sementara 41 saham menyentuh level terendah baru.

Di Nasdaq, sebanyak 53 saham mencapai level tertinggi baru dan 238 saham mencatat level terendah baru.

Volume perdagangan Wall Street mencapai sekitar 16,8 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 16,7 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan sebelumnya.

Perdagangan Kamis memperlihatkan pasar saham AS bergerak terbatas ketika tiga faktor utama bertemu, yakni kenaikan harga minyak, peningkatan yield Treasury, dan meningkatnya ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Di tengah tekanan tersebut, saham-saham berbasis AI tetap aktif dan bergerak berbeda-beda. Meta dan AMD menguat, sementara Microsoft dan Broadcom terkoreksi.

Kondisi itu membuat pergerakan sektor teknologi tetap menjadi salah satu perhatian utama pasar, meskipun indeks secara keseluruhan berakhir hampir datar.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.