Harga minyak mentah melonjak hampir 2 persen pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026 WIB, setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas dan jalur diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat semakin jauh dari kata terobosan.
Kenaikan ini memperpanjang reli yang sudah terjadi sehari sebelumnya. Dilansir dari Reuters, Minyak Brent ditutup naik USD1,81 per barel menjadi USD97,81 per barel atau sekitar Rp1,65 juta per barel.
Sementara minyak mentah West Texas IntermediateAmerika Serikat melonjak USD2,26 menjadi USD96,02 per barel atau sekitar Rp1,62 juta per barel.
Pasar mulai menghitung ulang risiko geopolitik setelah Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain. Otoritas Kuwait melaporkan satu orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Di saat yang sama, militer Amerika Serikat melancarkan serangan ke Pulau Qeshm yang berada di wilayah Iran.
Situasi tersebut mempertebal kekhawatiran bahwa konflik yang selama ini hanya bergerak di pinggiran kawasan kini berpotensi menyeret lebih banyak negara ke dalam pusaran perang.
“Peluang tercapainya gencatan senjata tampaknya semakin memburuk. Ini bukan arah yang seharusnya kita tuju,” kata Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger.
Kecemasan pasar semakin besar setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengakui bahwa komunikasi dengan Washington memang masih berlangsung, namun tidak menghasilkan kemajuan berarti.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Lebanon Al Mayadeen, Araqchi mengatakan kedua pihak masih mempelajari dokumen yang telah dipertukarkan.
Sebelumnya, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Teheran belum memberikan tanggapan kepada Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir.
Pertukaran pesan melalui pihak perantara juga disebut dihentikan sementara sampai syarat Iran terkait penghentian konflik di Lebanon dipenuhi.
Kebuntuan diplomasi ini terjadi ketika Israel terus memperluas operasi militernya di Lebanon.
Serangan tersebut menjadi penetrasi terdalam dalam seperempat abad terakhir sejak konflik terbaru meletus pada 2 Maret lalu ketika kelompok Hizbullah mulai melancarkan serangan sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.
Di tengah memanasnya konflik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menyampaikan klaim yang berbeda. Dalam sebuah wawancara podcast yang dirilis Rabu, Trump mengatakan Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir.
Trump juga menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei ikut terlibat dalam proses negosiasi.
Selat Hormuz Jadi Leher Botol Dunia
Di luar medan perang, ancaman terbesar saat ini justru datang dari terganggunya jalur distribusi energi global.
Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz terus menjadi momok bagi pasar minyak internasional. Jalur sempit yang menjadi pintu keluar utama minyak Timur Tengah itu kini berubah menjadi titik rawan yang membuat pasokan energi dunia tersendat.
Kepala Pengembangan Bisnis , Simon-Peter Massabni, menilai pasar mulai kehilangan kepercayaan terhadap efektivitas diplomasi.
“Harga minyak mentah terus menguat karena percepatan bentrokan antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung lebih cepat dibandingkan upaya diplomasi yang berjalan di tempat,” ujarnya.
Menurut dia, gangguan di Selat Hormuz terus menciptakan hambatan pasokan energi global dan memberikan tekanan kenaikan yang berkelanjutan terhadap harga minyak.
Sentimen bullish juga datang dari peringatan Badan Energi InternasionalLembaga tersebut mengingatkan bahwa persediaan minyak global berpotensi menyentuh level kritis menjelang musim panas jika laju penarikan stok berlangsung seperti saat ini.
Analis senior minyak LSEG, Emril Jamil, mengatakan pasar mulai menambahkan premi risiko yang lebih besar ke dalam harga minyak.
“Kebuntuan negosiasi Amerika Serikat dan Iran serta peringatan IEA mengenai rendahnya stok global yang kritis menambah lapisan premi risiko pada harga acuan minyak,” kata Emril.
Stok Minyak AS Menyusut Tajam
Di sisi lain, data fundamental juga ikut mendukung kenaikan harga.
Administrasi Informasi Energi Amerika Serikatmelaporkan persediaan minyak mentah Negeri Paman Sam turun 8 juta barel menjadi 433,7 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei.
Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan perkiraan analis yang sebelumnya hanya memperkirakan penurunan sekitar 4 juta barel.
Penyusutan stok terjadi karena meningkatnya ekspor dan aktivitas pengolahan minyak di tengah berlanjutnya perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan pasar kembali dikejutkan oleh penurunan stok yang cukup besar.
“Terjadi lagi penurunan besar persediaan minyak mentah Amerika Serikat yang didorong oleh berkurangnya stok komersial maupun cadangan strategis,” ujarnya.
Dengan konflik yang terus membara, diplomasi yang mandek, dan pasokan global yang makin ketat, pasar kini mulai mengantisipasi satu skenario yang sebelumnya dianggap ekstrem.
Harga minyak dunia kembali bergerak menuju level psikologis USD100 per barel atau sekitar Rp1,69 juta per barel.
Jika ketegangan terus meningkat dan Selat Hormuz tetap terganggu, lonjakan harga energi berpotensi menjadi tagihan mahal yang harus dibayar dunia akibat gagalnya diplomasi di Timur Tengah.
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.