Harga Emas Dunia Jatuh di Tengah Perang Timur Tengah

Alih-alih melonjak sebagai aset perlindungan, logam mulia itu malah terkoreksi tajam setelah pasar mulai khawatir lonjakan harga energi akan memicu inflasi yang lebih tinggi dan memaksa bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, dini hari WIB, sebagaimana dilansir dari Reuters, harga emas spot turun 1 persen ke level USD4.440,99 per ons atau setara sekitar Rp75 juta per ons.

Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat ditutup melemah 1,2 persen ke level USD4.466,90 per ons atau sekitar Rp75,49 juta per ons.

Pelemahan ini terjadi ketika ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah serangan Iran ke wilayah Kuwait menyebabkan kerusakan pada bandara dan melukai puluhan orang.

Di saat yang sama, militer Amerika Serikat melancarkan serangan di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.

Biasanya, kombinasi perang dan ketidakpastian global menjadi bahan bakar bagi reli emas. Namun kali ini pasar melihat ancaman yang berbeda.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, menilai pergerakan emas saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

“Aktivitas emas sebagian besar didorong oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran,” kata Meger.

Menurut dia, eskalasi konflik justru berpotensi mendorong harga energi semakin tinggi. Efek lanjutannya adalah meningkatnya ekspektasi inflasi yang dapat memaksa bank sentral Amerika Serikat mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga.

“Ketika konflik semakin meningkat, kenaikan harga energi diperkirakan akan mengerek ekspektasi inflasi. Kondisi ini dapat menyebabkan suku bunga lebih tinggi, memperkuat dolar AS, dan menambah tekanan terhadap harga emas,” ujarnya.

Logika pasar saat ini cukup sederhana. Ketika inflasi naik, bank sentral cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Akibatnya, dolar menguat dan imbal hasil aset berbunga menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan kupon maupun dividen.

Karena itu, meski perang berkecamuk, investor justru mulai mengurangi posisi mereka di emas.

Situasi tersebut terlihat dari pergerakan indeks dolar Amerika Serikat yang kembali menguat untuk hari ketiga berturut-turut.

Penguatan mata uang Paman Sam membuat harga komoditas berbasis dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Pasar Mulai Mengubah Fokus

Jika beberapa pekan lalu investor hanya fokus pada risiko perang, kini perhatian pasar mulai bergeser ke arah kebijakan moneter Federal Reserve.

Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, kembali menegaskan bahwa bank sentral belum melihat alasan untuk mengubah kebijakan suku bunga saat ini.

Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, bahkan memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan apabila tekanan inflasi terus meningkat.

Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan bahwa era suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Bagi emas, itu bukan kabar baik.

Selama beberapa tahun terakhir, reli logam mulia banyak ditopang oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga. Ketika peluang tersebut mulai menjauh, daya tarik emas ikut tergerus.

Pasar kini juga menunggu data tenaga kerja Amerika Serikat yang akan dirilis pada Jumat waktu setempat. Data tersebut dipandang sebagai salah satu indikator penting yang akan menentukan arah kebijakan The Fed dalam beberapa bulan mendatang.

Sebelumnya, laporan tenaga kerja swasta dari ADP menunjukkan jumlah pekerja sektor swasta bertambah lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom.

Data yang kuat tersebut semakin memperkuat pandangan bahwa ekonomi Amerika Serikat masih cukup tangguh untuk menopang kebijakan suku bunga tinggi.

Tekanan tidak hanya menghantam emas. Harga perak spot turun 2,2 persen menjadi USD73,4 per ons atau sekitar Rp1,24 juta per ons.

Platinum terkoreksi 3,5 persen ke level USD1.868,58 per ons atau sekitar Rp31,58 juta per ons.

Sementara palladium juga merosot 3,5 persen menjadi USD1.321,97 per ons atau sekitar Rp22,34 juta per ons.

Koreksi serentak pada berbagai logam mulia menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih fokus pada arah suku bunga dan penguatan dolar dibandingkan fungsi tradisional logam mulia sebagai aset lindung nilai.

Dengan kata lain, perang memang masih menjadi faktor penting. Namun bagi investor global saat ini, ancaman inflasi dan suku bunga tinggi tampaknya mulai dianggap lebih menakutkan dibandingkan dentuman rudal di Timur Tengah.

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.