Saham Teknologi Rontok, Wall Street Kehilangan Triliunan Rupiah dalam Sehari

Saham-saham yang selama ini menjadi bintang utama Wall Street mendadak limbung dan menyeret pasar ke zona merah.

Dilansir dari AP, Kamis, 11 Juni 2026, Indeks S&P 500 ditutup melemah 0,9 persen setelah sepanjang perdagangan bergerak liar antara penguatan tipis hingga penurunan 1,3 persen.

Indeks Dow Jones merosot 631 poin atau 1,2 persen, sementara Nasdaq yang dipenuhi saham teknologi turun 1,1 persen.

Gejolak ini memperpanjang kegelisahan investor yang muncul sejak pekan lalu.

Setelah berbulan-bulan menikmati pesta kenaikan harga berkat demam AI, pasar kini mulai mempertanyakan apakah valuasi perusahaan-perusahaan teknologi sudah terlalu mahal.

Salah satu korban terbesar adalah Super Micro Computer, produsen server berbasis AI yang sahamnya anjlok 20,3 persen dalam sehari.

Penyebabnya bukan penurunan penjualan atau kerugian usaha. Perusahaan justru mengumumkan rencana mengumpulkan dana segar sebesar USD7 miliar atau sekitar Rp119 triliun melalui penerbitan saham baru dan saham preferen konversi.

Langkah tersebut biasanya dilakukan ketika harga saham sedang tinggi. Namun bagi investor lama, penerbitan saham baru berarti kepemilikan mereka akan terdilusi.

Tekanan juga menghantam sejumlah perusahaan pendukung industri semikonduktor yang sebelumnya menjadi motor penggerak kenaikan pasar.

Saham KLA misalnya, sempat melonjak 7,7 persen pada awal perdagangan sebelum akhirnya hanya mampu mempertahankan kenaikan sekitar 1 persen.

Sejumlah analis menilai aksi jual ini juga dipicu perpindahan dana investor menjelang beberapa penawaran saham perdana raksasa teknologi yang sangat dinantikan pasar.

Salah satu yang paling menyita perhatian adalah potensi IPO SpaceX yang diperkirakan bisa berlangsung dalam waktu dekat.

Di tengah gejolak tersebut, sebenarnya pasar sempat mendapat kabar yang relatif menenangkan dari data inflasi Amerika Serikat. Inflasi memang tercatat naik ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Namun angka tersebut masih sesuai dengan perkiraan ekonom.

Bahkan beberapa komponen inflasi inti menunjukkan kenaikan yang lebih rendah dibanding ekspektasi pasar.

Data tersebut sempat meredakan tekanan di pasar obligasi. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama karena investor masih dihantui kekhawatiran mengenai arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika tenor 10 tahun naik menjadi 4,55 persen dari sebelumnya 4,53 persen. Sementara obligasi tenor dua tahun bertahan di level 4,13 persen.

Dalam beberapa pekan terakhir, pelaku pasar mulai bertaruh bahwa The Fed kemungkinan kembali menaikkan suku bunga setidaknya sekali tahun ini karena inflasi masih tinggi dan pasar tenaga kerja tetap kuat.

Kondisi tersebut menjadi kabar buruk bagi aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto.

Semakin tinggi suku bunga, semakin mahal biaya modal dan semakin sulit mempertahankan valuasi perusahaan yang selama ini tumbuh berdasarkan harapan masa depan.

Di tengah ketidakpastian itu, harga minyak dunia juga ikut menambah kecemasan pasar.

Minyak Brent melonjak 3,1 persen menjadi USD94,30 per barel atau sekitar Rp1,6 juta per barel setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Iran.

Iran, kata Trump, akan “membayar harganya” akibat mandeknya negosiasi terkait konflik yang melibatkan kedua negara.

Kenaikan harga minyak kembali menghidupkan kekhawatiran inflasi baru. Jika harga energi terus naik, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin besar.(*

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.