Biaya Kargo Udara Dikeluhkan Mahal, Kemenkeu Dorong Standardisasi TarifPotensi SDA Jumbo, Bupati Buton Selatan Bongkar Hambatan Investasi dan Mandeknya Hilirisasi
Perubahan tersebut juga tidak harus berlangsung sekaligus.
Perusahaan dapat menggunakan sistem hibrida, misalnya menggabungkan pembangkit energi terbarukan dengan sumber energi yang sudah tersedia, kemudian meningkatkan porsi energi rendah karbon secara bertahap.
Contoh lain datang dari proyek energi surya di tambang emas Essakane di Burkina Faso.
WGC mencatat proyek tersebut sebagai salah satu contoh bagaimana energi surya dapat digunakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dalam operasi pertambangan.
Pada kasus lain yang dibahas WGC, perusahaan tambang juga menggunakan tenaga hidro dan melakukan optimalisasi sistem ventilasi.
Ada pula proyek yang mencoba mengurangi kebutuhan energi sejak tahap pengolahan bijih, misalnya dengan memperbesar ukuran gilingan atau melakukan penyortiran bijih sehingga material yang harus masuk ke proses penggilingan dapat dikurangi.
Artinya, dekarbonisasi tambang emas tidak punya satu resep. Perusahaan dapat mengurangi emisi dari sisi sumber listrik, kendaraan, proses pengolahan, sistem ventilasi, hingga desain tambang.
Dan di sinilah isu tersebut kembali menjadi persoalan ekonomi. Jika teknologi baru mampu mengurangi konsumsi bahan bakar sekaligus emisi, investasi untuk dekarbonisasi tidak lagi semata-mata merupakan pengeluaran ESG.
WGC bahkan menilai perpindahan menuju energi yang lebih bersih dapat memberikan alasan finansial jangka panjang bagi perusahaan tambang.
Dalam kajiannya, perusahaan yang melakukan efisiensi energi dan beralih ke sumber energi rendah karbon tidak hanya mengejar target pengurangan emisi, tetapi juga berpotensi memperbaiki keberlanjutan ekonomi operasional tambang.
Bagi investor saham perusahaan emas, perubahan tersebut membuka cara baru dalam membaca kinerja emiten. Pertanyaannya tidak lagi berhenti pada berapa besar produksi emas atau seberapa tinggi harga emas.
Investor juga dapat melihat bagaimana perusahaan mendapatkan energi, seberapa besar ketergantungannya pada diesel atau bahan bakar fosil, dan apakah perusahaan benar-benar mengeluarkan investasi untuk meningkatkan efisiensi.
Sederhananya, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan. Pertama, sumber listrik tambang.
Kedua, konsumsi energi untuk menghasilkan emas. Ketiga, porsi bahan bakar fosil dalam operasi.
Keempat, investasi perusahaan untuk elektrifikasi dan energi terbarukan. Kelima, apakah perubahan tersebut benar-benar menghasilkan penurunan emisi dan efisiensi operasional.
Ini bukan berarti perusahaan yang memiliki proyek energi terbarukan otomatis lebih menarik sebagai investasi.
Proyek tersebut tetap harus dilihat dari biaya modal, umur tambang, kapasitas produksi, harga emas, serta dampaknya terhadap biaya produksi.
Begitu pula dengan elektrifikasi. Kendaraan listrik dan infrastruktur pendukung membutuhkan investasi awal.
Karena itu, perusahaan harus menghitung apakah penghematan bahan bakar dan biaya operasi dalam jangka panjang mampu mengimbangi belanja modal di awal.
Dengan kata lain, ESG yang menarik bagi investor bukan hanya perusahaan yang paling banyak memasang panel surya di area tambangnya.
Yang lebih penting adalah apakah investasi tersebut masuk akal secara ekonomi dan benar-benar mengubah struktur biaya serta emisi perusahaan.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.