Di Balik Emisi ANTAM yang Turun, Intensitas Emisi Tambang Emas Justru Naik 86,7 PersenIHSG Hari ini Berpeluang Rebound, Empat Saham Punya Rekomendasi BoW
Bagi investor, temuan ini menarik karena berarti memasukkan emas ke portofolio tidak selalu identik dengan menambah beban karbon.
Dalam kondisi dan asumsi tertentu yang digunakan penelitian, emas justru berpotensi menurunkan jejak karbon keseluruhan portofolio.
Bahkan penelitian Baur & Oll yang dikutip WGC menyimpulkan, “Menambahkan emas ke dalam portofolio S&P 500 mendorong keberlanjutan portofolio.”
Namun, investor sebaiknya tidak buru-buru menerjemahkan temuan tersebut menjadi kesimpulan bahwa emas adalah aset yang otomatis ramah lingkungan.
Laporan WGC sendiri berkali-kali menekankan bahwa analisis tersebut masih merupakan penelitian awal dan membutuhkan pengembangan lebih lanjut.
Persoalannya bukan hanya bagaimana emas diproduksi, tetapi juga bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi nilai dan keberlangsungan investasi tersebut.
Dalam hal ini, WGC membedakan risiko perubahan iklim menjadi dua kelompok. Pertama adalah risiko fisik, seperti banjir, badai, perubahan pola curah hujan dan kenaikan permukaan laut.
Kedua adalah risiko transisi, yakni risiko keuangan yang muncul ketika ekonomi dunia bergeser menuju sistem rendah karbon melalui perubahan kebijakan, teknologi, dan kondisi ekonomi.
Untuk emas sebagai aset jadi, WGC menilai risiko fisiknya relatif rendah dibandingkan banyak aset lainnya. Alasannya sederhana.
Emas tidak mudah rusak dan dapat bertahan dalam waktu sangat lama.
“Emas merupakan logam yang sangat murni, inert, dan kuat. Berbeda dengan sebagian besar logam dan sumber daya alam lainnya, emas hampir tidak dapat dihancurkan dan tidak rusak seiring waktu atau musnah karena dikonsumsi,” tulis WGC.
Karakter tersebut membuat hampir seluruh emas yang pernah ditambang secara teoritis masih tersedia untuk digunakan kembali.
Bahkan jika terjadi bencana alam, sifat fisik dan nilai emas membuatnya relatif mudah dipulihkan dibandingkan aset atau sumber daya yang rusak secara permanen.
Ada pula persoalan lain yang mulai relevan bagi investor, yakni harga karbon.
Dalam simulasi hipotetis dengan harga karbon USD100 per ton CO2e atau sekitar Rp1,79 juta, WGC memperkirakan emas relatif lebih sedikit terkena dampak dibandingkan sejumlah logam lain.
Penyebabnya kembali ke persoalan nilai. Karena emas memiliki nilai yang sangat tinggi per ton, biaya karbon yang dikenakan terhadap produksinya menjadi relatif kecil jika dibandingkan dengan nilai pasar logam tersebut.
“Karena nilainya yang tinggi per ton, dan karena itu memiliki jejak karbon yang rendah per USD nilai, emas jauh lebih sedikit terekspos terhadap potensi dampak negatif penetapan harga karbon dibandingkan logam lainnya,” tulis WGC.
Temuan tersebut pada akhirnya memberikan sudut pandang yang agak berbeda mengenai hubungan emas dan perubahan iklim. Investor tidak cukup hanya melihat apakah sebuah aset berasal dari industri pertambangan atau tidak.
Yang perlu dilihat juga adalah seberapa besar emisinya, berapa nilai ekonomi yang dihasilkan, berapa lama aset tersebut dimiliki, serta bagaimana aset tersebut menghadapi risiko perubahan iklim.
Meski begitu, laporan ini belum bisa dijadikan stempel bahwa emas adalah investasi hijau.
WGC sendiri mengakui masih terdapat keterbatasan dalam data jejak karbon emas dan diperlukan penelitian lebih lanjut agar gambaran mengenai emisinya semakin lengkap.
Dengan kata lain, emas memang masih harus membereskan urusan karbon di level tambangnya.
Tetapi dari sudut pandang investor, sifat emas yang bernilai tinggi, tahan lama dan dapat digunakan kembali membuat hubungan antara emas dan perubahan iklim ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar cerita tentang tambang yang menghasilkan emisi.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.