Menurutnya, menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui kebijakan dan teknologi, tetapi juga membutuhkan kesadaran keagamaan.
Nasaruddin mengatakan, alam memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan manusia. Ia mengingatkan agar manusia tidak menempatkan alam semata-mata sebagai objek yang dapat dimanfaatkan tanpa batas.
“Alam ini juga punya perasaan, alam ini juga berdzikir.
Segala sesuatu itu bertasbih, hanya yang kita tidak boleh melihat bagaimana tasbih mereka, kita tidak paham tasbihnya mereka,” kata Nasaruddin dalam Forum Ekonomi RegionalSulawesi di UIN Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu, 26 Agustus 2026.
Menurut dia, konsep ekoteologi berkaitan dengan cara manusia memperlakukan alam. Ia menjelaskan, bertasbih dapat dimaknai sebagai hubungan kecintaan terhadap Tuhan.
Karena itu, manusia perlu membangun kembali hubungan yang bersahabat dengan lingkungan.
Nasaruddin menyinggung kehidupan manusia pada masa lampau yang dinilainya memiliki hubungan lebih dekat dengan alam.
Menurutnya, keterbatasan teknologi pada masa tersebut tidak selalu menjadi hambatan karena manusia mampu membaca kondisi alam untuk menunjang kehidupannya.
Ia mencontohkan masyarakat yang mengandalkan kepekaan terhadap tanah untuk menentukan kecocokan lahan dengan tanaman.
Hal serupa, kata dia, juga terlihat pada masyarakat pesisir yang memiliki kemampuan membaca kondisi laut sebelum menangkap ikan.
“Tapi sekarang ini, jangan sampai kita menampilkan kebencian alam terhadap kita,” sebutnya.
Nasaruddin lalu menilai, kerusakan lingkungan dapat memunculkan dampak yang kembali dirasakan manusia.
Ia mencontohkan pembakaran hutan dan sampah yang dapat menghasilkan asap, serta pembakaran sampah yang memicu penyebaran berbagai zat kimia di udara.
Karena itu, ia meminta pemanfaatan sumber daya alam dilakukan dengan memperhatikan batas kemampuan alam. Menurutnya, manusia tetap dapat mengambil manfaat dari kekayaan alam tanpa melampaui daya dukung lingkungan.
“Mengeksplorasi alam boleh tapi tetap tidak mengeksploitasi. Saya ulangi sekali lagi, boleh kita mengeksplorasi alam, tetapi kita tidak boleh mengeksploitasi,” tegas Nasaruddin.
Ia menjelaskan, eksplorasi merupakan aktivitas menggarap alam dalam batas yang wajar. Sementara eksploitasi terjadi ketika pemanfaatan alam dilakukan melampaui batas, termasuk dengan menghalalkan berbagai cara seperti pembakaran hutan.
Nasaruddin juga mengingatkan agar kepentingan ekonomi termasuk di wilayah Kendari dan Sulawesi, tidak membuat sebagian pihak mengorbankan kualitas ekosistem yang bisa merugikan masyarakat, hewan, maupun tumbuhan.
Menurutnya, kerusakan alam pada akhirnya akan memberikan dampak kembali kepada manusia.
“Jangan sampai nanti ada segelintir orang yang punya uang, punya modal, menyebabkan masyarakat, binatang, tumbuhan akan rugi. Karena itu kita juga nanti yang akan merasakan kerugian itu,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Nasaruddin meminta bahasa agama digunakan untuk memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Sebab, nilai-nilai keagamaan dapat menjadi salah satu landasan untuk mendorong perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap alam.
“Saya juga meminta kepada kita semua, mari menggunakan bahasa agama untuk menciptakan kesadaran terhadap lingkungan hidup yang mesra kita,” sebutnya.
Nasaruddin turut mengingatkan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan agar memperhitungkan kepentingan generasi mendatang dalam setiap keputusan terkait pengelolaan alam.
Menurutnya, keputusan yang diambil hari ini dapat menentukan kondisi lingkungan yang diwariskan kepada anak dan cucu.
Ia juga menyoroti Sulawesi Tenggara yang menjadi salah satu wilayah dengan aktivitas proyek berskala besar.
Kondisi tersebut, menurut Nasaruddin, perlu diikuti pembicaraan yang lebih intensif mengenai bagaimana daerah dapat memperoleh manfaat ekonomi dari sumber daya alam tanpa menimbulkan kerusakan, atau akibat pengelolaan yang melampaui batas.
“Jangan sampai merusak masa depan bangsa, negara dan generasi kita yang akan datang. Tetapi tanda tangan kita juga bisa bermanfaat untuk melestarikan alam, menunda kiamat, dan sekaligus juga untuk melestarikan alam,” tuturnya.
Nasaruddin kemudian menegaskan bahwa ekoteologi tidak menempatkan hubungan manusia dengan alam secara terpisah dari hubungan manusia dengan Tuhan. Menurutnya, pembangunan kesadaran lingkungan perlu melihat ketiganya sebagai kesatuan.
“Semua nanti itu akan memberikan respect yang sangat positif manakala kita menciptakan suatu keharmonisan hubungan antara alam dan manusia dengan Tuhan. Nah, inilah yang saya maksud dengan Ekoteologi,” jelas Nasaruddin.
Ia menambahkan, manusia tidak cukup hanya membangun komunikasi dengan alam untuk menciptakan produktivitas. Hubungan tersebut juga harus tetap disertai kedekatan dengan Tuhan.
“Jangan sampai nanti kita aktif berkomunikasi dengan alam, menciptakan produktivitas, tetapi kita kurang dekat dengan Tuhan. Itu juga salah.
Jadi Tuhan tidak bisa dilepaskan di dalam relasi kita di sini. Ada Tuhan, ada alam, dan ada manusia,” pungkasnya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.