Kemenko Perekonomian Buka Wacana Skema DBH Berbeda untuk Daerah Penghasil SDAignitePRO Hadir di BATIC 2026, Telin Dorong AI Masuk ke Jantung Bisnis
Kombinasi data inflasi dan pertumbuhan tersebut membuat imbal hasil Treasury bergerak naik turun sebelum akhirnya imbal hasil Treasury 10 tahun naik tipis menjadi 4,65 persen dari 4,64 persen pada akhir perdagangan Selasa.
Para pelaku pasar juga tidak banyak mengubah perkiraan mereka mengenai langkah Federal Reserve dalam jangka pendek.
Berdasarkan data CME Group, pelaku pasar memperkirakan peluang hampir tiga banding empat bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga federal funds setidaknya sekali hingga akhir tahun.
Minyak menjadi salah satu faktor yang ikut memperumit cerita inflasi AS. Harga minyak yang lebih tinggi sepanjang tahun menjadi salah satu sumber tekanan terhadap inflasi, meski belakangan harga minyak mulai turun.
Harga minyak Brent, yang menjadi patokan internasional, kembali bergerak liar pada Rabu karena pasar masih menunggu kepastian kapan perang dengan Iran memungkinkan kapal tanker kembali keluar dari kawasan Teluk Persia secara bebas.
Harga Brent sempat jatuh hingga USD84,56 atau sekitar Rp1,51 juta per barel sebelum ditutup pada USD86,94 atau sekitar Rp1,56 juta per barel.
Harga tersebut turun 0,4 persen dibandingkan hari sebelumnya dan lebih rendah dari sekitar USD94 atau Rp1,68 juta per barel pada akhir pekan lalu.
Penurunan harga minyak menjadi sedikit kabar baik bagi pasar yang sedang berusaha mencari alasan untuk tidak terlalu panik soal inflasi.
Namun, selama ketidakpastian geopolitik masih membayangi jalur pasokan minyak, pergerakan harga komoditas tersebut tetap menjadi salah satu variabel yang perlu diperhatikan investor.
Di pasar saham global, bursa Eropa dan Asia mayoritas bergerak naik. Kospi Korea Selatan menguat 1 persen, sedangkan Nikkei 225 Jepang naik 0,6 persen.
Kedua indeks tersebut menjadi salah satu penguatan terbesar pada perdagangan kawasan Asia.
Wall Street akhirnya menutup perdagangan dengan perubahan yang relatif kecil.
Namun di balik angka indeks yang terlihat kalem itu, investor sebenarnya sedang menghadapi kombinasi yang jauh lebih rumit, mulai dari inflasi yang belum kembali ke target, imbal hasil obligasi yang tinggi, peluang perubahan suku bunga, harga minyak, hingga valuasi saham teknologi yang sudah terangkat tinggi berkat euforia kecerdasan buatan.
Dengan kata lain, pasar saham AS mungkin belum memilih untuk panik. Tetapi setelah inflasi kembali sedikit lebih panas dari perkiraan dan ekspektasi terhadap Nvidia begitu tinggi, alasan untuk berhati-hati jelas belum ikut menghilang.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.