Danantara Gelontorkan Rp456 Miliar untuk Proyek LRT City

Dana tersebut terutama disiapkan untuk memenuhi hak konsumen yang telah melakukan pembayaran unit.

Chief Operating OfficerDanantara, Dony Oskaria, mengatakan kebutuhan anggaran itu berkaitan dengan penyelesaian kewajiban kepada konsumen.

Dony yang juga menjabat Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negaramenyebut dana berasal dari pagu yang tersedia di Danantara.

“Nanti ada bentuknya equity injection namanya untuk penyelesaian karena tidak boleh orang terzalimi dengan hal-hal begini,” ujar Dony, Jumat, 28 Agustus 2026.

Untuk diketahui, pengembang proyek LRT City adalah PT Adhi Commuter Properti Tbkyang merupakan anak usaha BUMN konstruksi PT Adhi KaryaTbkbSaham Adhi Karya kini dimiliki oleh Danantara.

Dengan skema tersebut, suntikan modal Danantara menggantikan pola pendanaan sebelumnya melalui Penyertaan Modal NegaraSkema PMN sebelumnya digunakan ketika BUMN masih berada di bawah pemerintah melalui Kementerian BUMN.

Suntikan dana tersebut menjadi bagian penting dalam upaya mempercepat penyelesaian proyek sekaligus memberikan kepastian bagi konsumen yang masih menunggu serah terima unit.

Penyelesaian kewajiban kepada konsumen menjadi perhatian utama karena proyek LRT City sebelumnya menghadapi tekanan pendanaan dan kondisi pasar properti yang belum sepenuhnya pulih.

Dua Opsi Penyelesaian untuk Konsumen LRT City

Sebelumnya, ADCP mengungkapkan sejumlah langkah untuk memberikan solusi kepada konsumen LRT City. Langkah tersebut disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia

Direktur Portofolio Bisnis dan Risiko ADHI Rozi Sparta mengatakan, terdapat dua opsi yang ditawarkan kepada konsumen. Pertama, konsumen dapat memindahkan atau merelokasi unit ke proyek apartemen LRT City lainnya.

Relokasi tersebut ditujukan ke proyek yang telah selesai dan siap ditempati.

Kedua, konsumen dapat menggunakan unit yang tersedia melalui skema pinjam pakai.

“Sebagai bentuk komitmen dalam memenuhi hak konsumen, ADCP telah menawarkan beberapa alternatif penyelesaian, antara lain relokasi unit maupun skema pinjam pakai sementara pada unit ready stock yang tersedia,” jelas Rozi.

Menurut Rozi, ADCP bersama Adhi Karya terus mencari solusi untuk melanjutkan proyek LRT City yang terkendala. Salah satunya dengan menjajaki masuknya investor baru untuk membantu pembiayaan proyek.

ADCP juga menggandeng kontraktor strategis untuk mempercepat penyelesaian pembangunan.

“Selain itu, ADCP juga sedang menjajaki kerja sama dengan investor dan kontraktor strategis guna mendukung percepatan penyelesaian proyek sehingga kewajiban kepada konsumen dapat dipenuhi secara bertahap,” beber Rozi.

Rozi menyampaikan permintaan maaf kepada konsumen atas keterlambatan penyelesaian proyek. Ia menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan tekanan likuiditas perusahaan.

Kondisi pasar properti yang belum sepenuhnya pulih turut memengaruhi keadaan perusahaan.

“ADCP menyampaikan permohonan maaf kepada para konsumen atas keterlambatan penyelesaian kewajiban serah terima unit,” ucap Rozi.

ADCP Butuh Dana Besar di Tengah Kas Minus

Rozi menjelaskan, pembangunan sejumlah proyek apartemen LRT City terhambat oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah kondisi keuangan perusahaan yang menghadapi tekanan likuiditas.

“Saat ini, ADCP menghadapi tantangan likuiditas yang berdampak pada penyelesaian proyek,” jelas Rozi.

Menurut dia, model pengembangan ADCP mengusung konsep Transit Oriented DevelopmentKonsep tersebut membutuhkan investasi dalam jumlah besar.

Perusahaan harus menyediakan lahan di sekitar simpul transportasi publik. Tujuannya agar kawasan hunian dapat terintegrasi dengan berbagai moda transportasi.

Sejumlah moda transportasi yang menjadi bagian pengembangan kawasan LRT City adalah Commuter Line, LRT, dan BRT.

Selain hunian vertikal, ADCP juga harus menyediakan berbagai infrastruktur pendukung kawasan TOD. Kebutuhan investasi tersebut menjadi tantangan ketika perusahaan menghadapi kondisi arus kas negatif.

Meski demikian, ADCP bersama Adhi Karya masih mencari skema pembiayaan agar proyek dapat dilanjutkan.

“Sementara itu, pengembangan hunian dilakukan secara bertahap sesuai dengan rencana pengembangan,” beber Rozi.

Penjualan Properti Belum Pulih

Persoalan ADCP tidak hanya berkaitan dengan kondisi likuiditas perusahaan. Pelemahan pasar properti dalam beberapa tahun terakhir turut memengaruhi kinerja perseroan.

Menurut Rozi, kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih membuat penjualan properti belum sesuai harapan.

“Di sisi lain, kondisi pasar properti dalam beberapa tahun terakhir yang belum sepenuhnya pulih turut mempengaruhi tingkat penjualan produk,” ujar dia.

Penjualan yang belum optimal kemudian berdampak terhadap penerimaan kas ADCP. Arus kas yang terbatas turut mengurangi kemampuan perusahaan membiayai penyelesaian proyek.

“Sehingga (kondisi lesunya properti) berdampak pada penerimaan kas dan kemampuan pendanaan penyelesaian proyek,” pungkas Rozi.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.