Pidato Warsh Tekan Harga Emas, Dolar AS Menguat Tajam

Harga emas spot turun 2,9 persen menjadi USD4.567,23 per troy ounce pada pukul 13.44 EDT atau 17.44 GMT. Sementara emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup turun 2,9 persen ke USD4.529,90 per troy ounce.

Penurunan tersebut membawa emas menjauh dari level tertinggi lebih dari tiga bulan sebesar USD4.696,18 per ounce yang dicapai pada Selasa. Dalam sepekan, harga emas turun sekitar 2,9 persen.

Tekanan terhadap emas muncul setelah Warsh menyampaikan pidato perdananya dalam simposium Jackson Hole.

Ia mengatakan The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila pembuat kebijakan belum yakin inflasi dasar bergerak kembali menuju target 2 persen.

Pernyataan tersebut mengubah kembali ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS. Pelaku pasar meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada September, sementara dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama.

Peluang Kenaikan Suku Bunga September Meningkat 

Komentar Warsh menjadi perhatian utama pasar karena sebelumnya investor masih memperkirakan adanya kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter.

Setelah pidato tersebut, probabilitas kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pertemuan The Fed September meningkat menjadi sekitar 57,5 persen-58 persen, dari sekitar 35 persen-36 persen sebelum pernyataan Warsh, berdasarkan CME FedWatch.

Pasar juga memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 89 persen.

Perubahan ekspektasi tersebut langsung memengaruhi aset yang sensitif terhadap suku bunga. Emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbasis bunga.

Karena itu, ketika ekspektasi suku bunga meningkat, daya tarik emas dapat berkurang dibandingkan aset yang memberikan imbal hasil.

Analis independen Tai Wong mengatakan, harga emas mendapat tekanan setelah Warsh menegaskan bahwa inflasi belum melambat secara berarti dan The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan.

Menurutnya, pernyataan tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan pertemuan September sebagai keputusan yang sulit diprediksi.

Dolar AS Menguat

Penguatan dolar AS menjadi faktor lain yang menekan harga emas. Indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama naik 0,59 persen menjadi 99,69.

Indeks tersebut sempat menyentuh 99,727, level tertinggi sejak 17 Agustus.

Dengan kenaikan tersebut, dolar berada di jalur untuk mencatat penguatan harian terbesar dalam sekitar 2,5 bulan.

Secara mingguan, dolar AS menguat hampir 0,9 persen, yang menjadi kenaikan mingguan terbesar dalam 10 pekan.

Sebaliknya, euro turun sekitar 0,8 persen dan berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan pertama setelah empat pekan berturut-turut menguat.

Penguatan dolar memberikan tekanan tambahan terhadap emas karena komoditas tersebut diperdagangkan menggunakan mata uang AS. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Euro pada Jumat turun 0,59 persen menjadi USD1,1582, setelah sempat menyentuh USD1,1577. Terhadap yen Jepang, dolar naik 0,48 persen menjadi 160,15 yen.

Sterling juga melemah 0,47 persen menjadi USD1,3528, sementara dolar Kanada turun 0,37 persen menjadi CD1,39 per dolar AS.

Inflasi Masih Jadi Perhatian The Fed

Pernyataan Warsh mengenai inflasi tidak berdiri sendiri. Sejumlah pejabat The Fed sebelumnya juga menyampaikan perhatian terhadap inflasi yang masih berada di atas target bank sentral.

Tiga pejabat The Fed pada Kamis menyuarakan kekhawatiran mengenai inflasi.

Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Boston Susan Collins menyebut data inflasi terbaru masih menunjukkan hasil yang beragam dan tetap melihat proses disinflasi berlangsung secara bertahap.

Kondisi tersebut membuat pasar harus memperhitungkan dua kemungkinan, yakni inflasi yang terus bergerak turun sehingga memberikan ruang bagi kebijakan yang lebih longgar, atau inflasi yang bertahan tinggi sehingga membutuhkan kebijakan moneter lebih ketat.

Warsh dalam pidatonya menekankan bahwa target inflasi 2 persen tetap menjadi acuan.

Apabila data yang tersedia belum memberikan keyakinan bahwa inflasi bergerak menuju target dengan kecepatan yang memadai, The Fed masih memiliki ruang untuk melakukan tindakan lebih lanjut.

Pernyataan itu kemudian diterjemahkan pasar sebagai sinyal bahwa kenaikan suku bunga belum sepenuhnya tertutup.

Logam Mulia Ikut Tertekan

Tekanan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot turun 3,5 persen menjadi USD66,81 per ounce, sedangkan platinum turun 0,6 persen menjadi USD1.835,07 per ounce.

Sebaliknya, paladium bergerak berlawanan arah dengan kenaikan 5,3 persen menjadi USD1.422,25 per ounce.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa koreksi logam mulia pada Jumat cukup luas, terutama pada emas dan perak yang mendapat tekanan dari perubahan ekspektasi suku bunga dan penguatan dolar.

Harga emas sendiri sebelumnya telah mencatat reli hingga menembus USD4.696,18 per ounce pada Selasa. Koreksi pada Jumat membuat sebagian kenaikan tersebut terhapus dan membawa harga ke level terendah sejak 20 Agustus.

Permintaan Emas India Melemah

Selain faktor makroekonomi AS, pasar emas juga menghadapi tekanan dari sisi permintaan fisik.

Diskon harga emas di India turun tajam pada pekan tersebut seiring melemahnya permintaan.

Penurunan permintaan dikaitkan dengan spekulasi bahwa pemerintah India dapat mempertimbangkan pembatalan kenaikan bea masuk impor yang baru saja dilakukan.

Perubahan kebijakan bea masuk dapat memengaruhi harga emas domestik sekaligus keputusan pembelian konsumen dan pedagang.

Dengan demikian, tekanan terhadap emas pada akhir pekan datang dari beberapa faktor sekaligus.

Ekspektasi kenaikan suku bunga AS meningkat setelah pernyataan Warsh, dolar AS menguat, sementara permintaan di salah satu pasar emas utama dunia, India, mengalami pelemahan.

Pasar Menunggu Data Berikutnya

Setelah pidato Warsh, perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada data ekonomi AS yang menjadi dasar keputusan The Fed pada September.

Perubahan probabilitas kenaikan suku bunga menunjukkan bahwa pasar sangat sensitif terhadap sinyal dari pejabat bank sentral.

Namun, pernyataan Warsh belum secara langsung menentukan keputusan suku bunga September. Data inflasi dan ketenagakerjaan yang tersedia sebelum pertemuan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan.

Eugene Epstein, kepala perdagangan dan produk terstruktur di Moneycorp, menilai pasar masih akan mencermati apakah pernyataan Warsh akan diikuti dengan kebijakan konkret.

Menurutnya, apabila The Fed tidak menindaklanjuti pernyataan tersebut, pasar dapat menjadi lebih skeptis terhadap komentar pejabat bank sentral berikutnya.

Bagi pasar emas, perkembangan tersebut menjadi penting karena perubahan ekspektasi suku bunga dan arah dolar AS memiliki hubungan erat dengan pergerakan harga logam mulia.

Dengan kondisi saat ini, emas menghadapi tekanan dari meningkatnya peluang kenaikan suku bunga AS dan penguatan dolar, sementara pelaku pasar masih menunggu data inflasi serta indikator ekonomi berikutnya untuk menentukan apakah tekanan harga memang membutuhkan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.