Rupiah Lanjutkan Koreksi, Bursa Asia Ikut Rontok

Mata uang negara-negara emerging market menghadapi penguatan dolar AS setelah pernyataan hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh. Sementara, pasar saham terbebani kenaikan harga minyak akibat eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran.

Di Indonesia, rupiah ditutup melemah 0,16 persen ke Rp17.722 per dolar AS pada perdagangan Senin,31Agustus 2026. Pelemahan tersebut terjadi setelah pada awal perdagangan rupiah sempat tertekan lebih dalam ke sekitar Rp17.750.

Tekanan terhadap mata uang Asia terjadi ketika pasar meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga pada September.

Dalam pidatonya di Simposium Jackson Hole, Warsh menekankan pentingnya mengembalikan inflasi ke target 2 persen dan membuka ruang bagi pengetatan kebijakan apabila diperlukan.

Reuters mencatat probabilitas kenaikan suku bunga September sempat meningkat dari sekitar 35 persen menjadi 60 persen setelah pidato tersebut.

Perkembangan tersebut mengubah persepsi pasar terhadap arah kebijakan moneter AS.

Sebelumnya, pelemahan sejumlah data ekonomi AS sempat mendorong ekspektasi bahwa dolar akan melemah dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat. Pernyataan Warsh membuat skenario tersebut kembali dipertanyakan.

Dolar AS Kembali Menjadi Tekanan

Indeks dolar AS bergerak mendekati level tertinggi dalam dua pekan. Reuters melaporkan indeks tersebut berada di jalur kenaikan sekitar 1,8 persen sepanjang Agustus, yang akan menjadi penguatan bulanan kedua berturut-turut.

Bagi negara emerging market, kenaikan dolar menjadi persoalan karena meningkatkan biaya pembayaran kewajiban dalam mata uang AS dan dapat mendorong arus modal kembali menuju aset berdenominasi dolar.

Kenaikan imbal hasil US Treasury memperkuat mekanisme tersebut. Ketika imbal hasil aset AS meningkat, daya tarik aset berdenominasi dolar ikut berubah.

Pada saat yang sama, kenaikan harga energi menciptakan tekanan tambahan bagi negara-negara Asia yang masih mengimpor minyak.

Kombinasi tersebut membuat rupiah, rupee India, peso Filipina dan baht Thailand menjadi lebih rentan apabila ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed terus meningkat.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah pada Senin relatif terbatas. Rupiah masih berada dalam jalur penguatan sekitar 1,4 persen sepanjang Agustus, yang menjadi kinerja bulanan terbaik sejak Mei 2025.

Konflik AS-Iran Mendorong Harga Minyak

Faktor kedua berasal dari Timur Tengah.

Serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas militer Iran di Pulau Larak dan serangan balasan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur energi di kawasan tersebut.

Harga minyak kemudian bergerak mendekati USF90 per barel. Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena jalur tersebut secara historis membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Gangguan terhadap lalu lintas kapal melalui jalur tersebut berpotensi mengurangi pasokan dan meningkatkan premi risiko minyak.

Kondisi tersebut memberikan dampak berbeda bagi negara Asia. Negara eksportir energi dapat memperoleh manfaat dari harga minyak yang lebih tinggi melalui peningkatan penerimaan komoditas.

Sebaliknya, negara pengimpor minyak menghadapi risiko kenaikan biaya energi dan tekanan terhadap inflasi.

Indonesia berada pada posisi yang perlu diperhatikan karena perubahan harga minyak global dan nilai tukar rupiah secara langsung berkaitan dengan beban subsidi serta kompensasi energi.

Risiko Mulai Masuk ke APBN

Data Kementerian Keuangan menunjukkan realisasi subsidi dan kompensasi hingga semester I 2026 telah mencapai Rp233 triliun, atau sekitar 52,1 persen dari pagu APBN.

Nilai tersebut terdiri dari subsidi sekitar Rp116 triliun dan kompensasi Rp116,9 triliun. Realisasi itu meningkat 44,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kementerian Keuangan juga menyebut realisasi subsidi dan kompensasi dipengaruhi oleh ICP, nilai tukar rupiah, serta volume BBM, LPG dan listrik bersubsidi.

Dengan demikian, kombinasi rupiah yang melemah dan harga minyak yang meningkat dapat meningkatkan tekanan terhadap anggaran apabila berlangsung dalam waktu lama.

RAPBN 2026 sendiri mengalokasikan anggaran subsidi energi sebesar Rp210,1 triliun. Angka tersebut mencakup subsidi BBM, LPG 3 kilogram dan listrik.

Karena itu, eskalasi geopolitik bukan hanya persoalan pasar keuangan. Jika harga minyak bertahan tinggi dan rupiah melemah, beban fiskal dapat meningkat melalui kebutuhan subsidi dan kompensasi energi.

IHSG Ikut Tertekan

Tekanan eksternal juga terlihat pada pasar saham Asia. Reuters mencatat indeks MSCI saham emerging market Asia turun sekitar 1,6 persen, meskipun masih berada di jalur kenaikan lebih dari 3 persen sepanjang Agustus.

Pergerakan bursa regional bervariasi. KOSPI Korea Selatan berhasil berbalik menguat 0,5 persen setelah sempat jatuh 3,6 persen pada perdagangan pagi. Sementara saham Taiwan turun sekitar 0,4 persen.

IHSG Indonesia juga bergerak melemah. Pada pembukaan, IHSG turun sekitar 0,11 persen ke 6.511,11.

Tekanan tersebut menunjukkan bahwa investor tidak hanya merespons faktor domestik, tetapi juga melakukan penyesuaian terhadap perubahan ekspektasi suku bunga AS dan risiko energi global.

Rupiah Masih Punya Penyangga

Meskipun rupiah melemah pada perdagangan terakhir Agustus, kinerja bulanan masih positif. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan satu hari belum menghapus penguatan yang telah terbentuk sepanjang bulan.

Namun, arah rupiah memasuki September akan sangat bergantung pada data ekonomi AS. Investor kini menunggu laporan nonfarm payrolls pada 4 September dan data inflasi konsumen AS pada 11 September.

Jika data inflasi tetap tinggi dan pasar tenaga kerja masih kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat meningkat. Sebaliknya, data ekonomi yang melemah dapat mengurangi tekanan terhadap mata uang Asia.

Dengan demikian, pelemahan rupiah dan saham Asia pada akhir Agustus merupakan hasil dari perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang terjadi bersamaan dengan kenaikan risiko geopolitik dan harga minyak.

Bagi Indonesia, dampaknya tidak berhenti pada pasar valuta asing dan saham. Rupiah yang lebih lemah serta minyak yang lebih mahal juga dapat meningkatkan tekanan terhadap subsidi dan kompensasi energi.

Karena itu, memasuki September, perhatian pasar akan tertuju pada tiga variabel utama: arah kebijakan The Fed, perkembangan konflik AS-Iran dan harga minyak, serta kemampuan rupiah mempertahankan stabilitasnya.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.