Toyota Ekspansi China, Dirikan Pabrik Lexus demi Garap SUV ListrikHarga Minyak Dipatok USD75, Ini Strategi Pemerintah Jaga APBN 2027
China masih menjadi salah satu pasar terbesar dengan pembelian sekitar 5,99 juta ton pada 2025. India berada di posisi berikutnya dengan 3,97 juta ton, meski volumenya turun 17,8 persen.
Afrika justru mencatat pertumbuhan 30,9 persen menjadi 4,19 juta ton. Pakistan juga tumbuh 7,1 persen menjadi 3,22 juta ton.
Data tersebut menunjukkan bahwa peluang ekspansi tidak hanya berada di pasar tradisional Asia Timur dan Asia Selatan, tetapi juga mulai terbuka lebih lebar di Afrika.
Namun, PalmCo tidak sedang mengejar ekspor dari posisi sebagai perusahaan yang baru belajar mengolah sawit. Perusahaan telah memiliki fondasi hilir melalui PT Industri Nabati Lestaridi Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei, Sumatera Utara.
Fasilitas refinery tersebut memiliki kapasitas hingga 600 ribu ton per tahun dan dikembangkan untuk menghasilkan RBD Olein, Stearin, serta PFAD.
Di sisi hulu, PalmCo juga memiliki basis produksi yang besar. Produksi CPO perusahaan mencapai 2,70 juta ton pada 2025, meningkat dari 2,49 juta ton pada tahun sebelumnya.
Dengan basis produksi tersebut, tantangan berikutnya bukan sekadar bagaimana menghasilkan lebih banyak CPO, tetapi bagaimana mengubah kapasitas produksi itu menjadi produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar internasional.
Persoalannya, pasar domestik sendiri sedang menyerap semakin banyak sawit. Data GAPKI menunjukkan konsumsi domestik pada 2025 mencapai 24,77 juta ton, naik 3,82 persen dari tahun sebelumnya.
Konsumsi untuk biodiesel mencapai 12,70 juta ton, meningkat 10,97 persen seiring peningkatan mandatori biodiesel dari B35 menjadi B40. Pada saat yang sama, stok akhir CPO dan PKO turun 19,79 persen menjadi sekitar 2,07 juta ton.
Artinya, rencana ekspor PalmCo harus berhadapan dengan dua kebutuhan sekaligus.
Perusahaan ingin memperbesar penetrasi pasar luar negeri, sementara permintaan domestik juga terus menyerap bahan baku sawit dalam jumlah besar, terutama untuk biodiesel.
PalmCo sendiri sebelumnya menyebut sebagian besar produksi CPO masih diserap pasar domestik. Perusahaan tengah memperkuat sertifikasi keberlanjutan untuk memperbesar akses ke pasar global.
Hingga 2025, 67 dari 71 pabrik kelapa sawit PalmCo telah memperoleh sertifikasi RSPO, sedangkan 124 dari 149 kebun telah bersertifikasi RSPO.
Di titik ini, rencana membangun refinery di luar negeri menjadi lebih menarik untuk diuji.
Fasilitas pengolahan di luar negeri secara teori dapat membuat PalmCo lebih dekat dengan konsumen, mengurangi hambatan perdagangan produk jadi, sekaligus memungkinkan perusahaan menangkap margin yang lebih besar dari rantai hilir.
Tetapi manfaat tersebut tetap harus dibandingkan dengan biaya investasi, logistik, tarif masuk, utilisasi fasilitas, serta risiko pasar di negara tujuan.
Persoalannya, hingga kini belum tersedia informasi publik yang cukup untuk menguji hitung-hitungan tersebut secara independen.
Belum jelas negara yang menjadi sasaran refinery, kapasitas fasilitas, nilai investasi, struktur pendanaan, proyeksi utilisasi, hingga tingkat pengembalian investasi yang ditargetkan.
Kekosongan data itu penting karena ekspansi ke luar negeri tidak otomatis berarti penciptaan nilai yang lebih besar. PalmCo sudah memiliki fasilitas refinery berkapasitas 600 ribu ton per tahun di dalam negeri.
Karena itu, keputusan membangun fasilitas baru di luar Indonesia semestinya dapat dijelaskan melalui alasan bisnis yang terukur, termasuk apakah kedekatan dengan pasar mampu mengimbangi tambahan kebutuhan modal dan biaya operasional.
Bagi PalmCo, persoalan berikutnya bukan lagi sekadar punya CPO untuk dijual. Industri sawit Indonesia sudah membuktikan bahwa produk olahan mendominasi ekspor dan mampu menghasilkan puluhan miliar dolar AS setiap tahun.
Tantangannya adalah memastikan ekspansi PalmCo tidak berhenti pada pemindahan lokasi pengolahan, tetapi benar-benar menghasilkan margin, pasar baru, dan posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai sawit global.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.