Harga Minyak Tembus USD95, Konflik AS-Iran Kembali Memanas

Kenaikan harga minyak terjadi setelah perdagangan sebelumnya ditutup dengan lonjakan lebih dari USD4 per barel. Brent crude futures naik USD4,16 atau 4,6 persen menjadi USD94,65 per barel pada Selasa, 1 September 2026.

Sementara itu, minyak mentah West Texas IntermediateAmerika Serikat naik USD4,46 atau 5,2 persen menjadi USD90,22 per barel.

Kedua harga acuan tersebut mencatat level penutupan tertinggi dalam sekitar lima pekan. Brent mencapai level tertinggi sejak 24 Juli, sedangkan WTI mencatat penutupan tertinggi sejak 23 Juli.

Pada perdagangan Rabu, harga Brent kembali bergerak di atas level USD95 per barel. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa pasar belum menganggap risiko gangguan pasokan dari konflik AS-Iran telah mereda.

Pergerakan harga minyak menjadi semakin sensitif karena perkembangan konflik berlangsung di sekitar salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia, yakni Selat Hormuz.

Selat tersebut sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker di kawasan itu berpotensi mengurangi jumlah minyak yang dapat mencapai pasar global dan sekaligus meningkatkan premi risiko dalam harga minyak.

Reuters melaporkan bahwa lalu lintas kapal komoditas yang terlihat melalui Selat Hormuz pada Senin hanya sekitar lima kapal per hari, jauh di bawah rata-rata 10 hari yang berada di sekitar 14 kapal.

Tidak satu pun dari lima kapal tersebut merupakan tanker pengangkut cairan.

Serangan AS-Iran Kembali Guncang Pasar Minyak

Tekanan terhadap pasar minyak meningkat setelah AS melancarkan serangan udara baru terhadap sasaran Iran.

Washington mengatakan serangan tersebut dilakukan terhadap target Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC setelah adanya serangan terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz dan personel militer AS di kawasan tersebut.

Iran kemudian memberikan sinyal bahwa ekspor minyak dari kawasan Teluk dapat ikut terganggu apabila ketegangan dengan Washington terus meningkat.

Perkembangan tersebut membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan dalam jangka pendek.

Sebelumnya, pasar sempat berharap ketegangan dapat diredakan melalui jalur diplomasi yang melibatkan sejumlah negara. Namun, perkembangan terbaru membuat ekspektasi tersebut kembali melemah.

Reuters mencatat, harga minyak pada Selasa melonjak lebih dari USD4 per barel karena investor kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Serangan AS terhadap target Iran menghapus harapan bahwa pertukaran serangan pada akhir pekan hanya akan berlangsung sementara.

Risiko terbesar berada pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Gangguan terhadap jalur tersebut tidak hanya berpotensi memengaruhi minyak mentah, tetapi juga produk energi lain yang dikirim melalui kawasan Teluk.

Pasar juga memperoleh sinyal bahwa risiko tersebut bukan sekadar kekhawatiran teoritis.

Sebuah kapal tanker dilaporkan terkena tiga proyektil ketika berlayar keluar dari Selat Hormuz, meskipun tidak terdapat laporan korban jiwa maupun dampak lingkungan dari insiden tersebut.

Situasi ini membuat harga minyak mendapatkan tambahan premi risiko geopolitik. Saxo Bank menilai konflik terbaru meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan berkepanjangan pada arus energi melalui Selat Hormuz.

Kondisi tersebut dapat membuat harga minyak bertahan tinggi selama ketidakpastian terhadap jalur pelayaran belum terselesaikan.

Di sisi lain, pasar masih memperhatikan jumlah minyak yang berhasil keluar dari kawasan tersebut. Arus minyak memang belum sepenuhnya berhenti sehingga kenaikan harga belum berubah menjadi lonjakan yang jauh lebih besar.

Namun, data pergerakan kapal menunjukkan distribusi minyak melalui Selat Hormuz masih jauh dari kondisi normal.

Harga Minyak Dibayangi Inflasi dan Persediaan AS

Kenaikan harga minyak juga membawa konsekuensi lebih luas terhadap perekonomian global karena energi merupakan salah satu komponen utama biaya produksi dan transportasi.

Jika Brent bertahan di atas USD90 per barel, tekanan terhadap biaya bahan bakar berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dapat kembali memperbesar risiko inflasi, terutama apabila kenaikan harga minyak berlangsung dalam waktu lama.

Dampaknya menjadi semakin penting bagi pasar keuangan karena investor saat ini juga sedang menghitung arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

Kenaikan harga minyak dapat mempersempit ruang The Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan moneter apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

Kondisi tersebut berpotensi menjaga imbal hasil obligasi tetap tinggi dan menekan aset berisiko seperti saham.

Pergerakan tersebut terlihat pada perdagangan Selasa. Ketika harga minyak melonjak, imbal hasil Treasury AS 10 tahun juga sempat mencapai 4,798 persen, level tertinggi sejak Januari 2025.

Dari sisi pasokan, pasar minyak Amerika Serikat juga menghadapi perhatian terhadap posisi persediaan.

Data yang dikutip Reuters menunjukkan cadangan Strategic Petroleum Reserve AS turun sekitar 3,1 juta barel pada pekan sebelumnya menjadi 286,6 juta barel.

Pasar selanjutnya akan mencermati laporan persediaan minyak mentah AS yang dijadwalkan keluar pada Rabu. Data tersebut akan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai keseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar minyak Amerika.

Di sisi permintaan, prospek pertumbuhan ekonomi global menjadi faktor yang dapat membatasi kenaikan harga minyak.

Reuters dalam survei terhadap 31 ekonom dan analis pada Agustus memperkirakan harga Brent rata-rata berada di USD85,08 per barel sepanjang 2026, sedangkan WTI diperkirakan rata-rata USD80,20 per barel.

Survei tersebut juga menunjukkan adanya perkiraan perlambatan pertumbuhan permintaan minyak global antara 1 juta barel hingga 1,6 juta barel per hari pada 2026.

China menjadi salah satu faktor yang paling diperhatikan. Perlambatan permintaan dari konsumen minyak terbesar dunia tersebut dapat membatasi kenaikan harga apabila pasokan global tetap tersedia.

Namun, kondisi tersebut berhadapan dengan risiko pasokan dari Timur Tengah.

Reuters mencatat analis masih memperkirakan pasar minyak global berada dalam kondisi defisit pada 2026, dengan perkiraan defisit berkisar antara 1,65 juta hingga 3,5 juta barel per hari.

OPEC+ sendiri pada Agustus mengumumkan kenaikan produksi sebesar 188.000 barel per hari untuk September.

Kenaikan tersebut merupakan bagian dari rencana pengembalian sekitar 1,65 juta barel per hari pemangkasan produksi sukarela yang diberlakukan sejak 2023.

Dengan kondisi tersebut, arah harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat ditentukan oleh perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi pelayaran di Selat Hormuz.

Jika jalur pelayaran kembali normal, premi risiko dalam harga minyak berpotensi berkurang.

Sebaliknya, apabila serangan terhadap kapal atau fasilitas energi berlanjut dan arus minyak kembali terganggu, Brent berpeluang bertahan di atas USD90 per barel.

Investor kini menunggu dua perkembangan utama sekaligus, yakni apakah diplomasi mampu meredakan konflik AS-Iran dan apakah pasokan minyak global masih cukup untuk mengimbangi risiko gangguan dari kawasan Teluk.

Untuk sementara, pasar minyak memasuki September dengan tekanan geopolitik yang kembali meningkat.

Brent yang telah menembus USD94 per barel dan WTI di atas USD90 per barel menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai memasukkan risiko gangguan pasokan yang lebih besar ke dalam harga minyak.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.