Tekanan ini terjadi setelah penguatan dolar Amerika Serikatdan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat daya tarik logam mulia berkurang.
Harga emas spot bahkan sempat turun ke sekitar USD4.320 per troy ounce pada awal perdagangan Asia, melanjutkan tekanan setelah pada perdagangan Selasa emas merosot lebih dari 2 persen ke level terendah dalam lebih dari dua pekan.
Pada perdagangan Selasa, harga emas spot turun 2,4 persen menjadi USD4.342,20 per troy ounce pada pukul 14.02 waktu AS atau 18.02 GMT. Harga tersebut merupakan level terendah sejak 19 Agustus.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS turun 1,9 persen dan ditutup pada USD4.396,40 per troy ounce.
Penurunan tersebut membuat emas kembali berada di bawah tekanan teknikal setelah harga menembus ke bawah rata-rata pergerakan 200 hari.
Level tersebut berada di sekitar USD4.528 per troy ounce dan sebelumnya menjadi salah satu titik teknikal penting bagi pasar.
Tekanan terhadap emas terjadi ketika pasar global menghadapi kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS. Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Januari 2025 pada Selasa.
Kondisi tersebut membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga menjadi relatif kurang menarik dibandingkan aset berbasis obligasi.
Yield Treasury dan Dolar AS Tekan Harga Emas
Kenaikan imbal hasil Treasury menjadi salah satu faktor utama yang membebani harga emas pada perdagangan awal September.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik setelah investor meningkatkan perhatian terhadap risiko inflasi akibat kenaikan harga energi.
Harga minyak melonjak setelah konflik antara AS dan Iran kembali memanas, sehingga pasar memperhitungkan kemungkinan terganggunya pasokan energi dari Timur Tengah.
Situasi tersebut menciptakan tekanan ganda bagi emas. Di satu sisi, ketegangan geopolitik biasanya meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.
Namun di sisi lain, apabila konflik mendorong harga energi lebih tinggi dan meningkatkan inflasi, The Federal Reserve berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau bahkan kembali menaikkan suku bunga.
Ekspektasi tersebut meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas karena logam mulia tidak memberikan bunga.
Analis pasar Jim Wyckoff dari American Gold Exchange mengatakan tekanan teknikal ikut memperkuat penurunan emas.
Menurutnya, kenaikan imbal hasil obligasi secara global ke level yang tidak terlihat dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu faktor yang menekan pasar emas.
Selain itu, penguatan dolar AS membuat emas yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi permintaan dari pasar internasional.
Tekanan dolar dan yield juga membuat penurunan harga emas berlangsung lebih cepat setelah level rata-rata pergerakan 200 hari ditembus.
Pergerakan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena level teknikal tersebut sering digunakan sebagai indikator untuk melihat kecenderungan harga dalam jangka menengah hingga panjang.
Jika emas gagal kembali menembus level tersebut, tekanan jual secara teknikal berpotensi berlanjut.
Pasar Tunggu Data Tenaga Kerja AS
Selain perkembangan pasar obligasi dan dolar, investor kini mengalihkan perhatian pada sejumlah data ekonomi AS yang dapat menentukan arah kebijakan The Fed.
Salah satu data yang menjadi perhatian adalah laporan ketenagakerjaan sektor swasta AS yang dijadwalkan keluar pada Rabu.
Data tersebut akan menjadi petunjuk awal mengenai kondisi pasar tenaga kerja sebelum pemerintah AS merilis laporan pekerjaan yang lebih komprehensif.
Investor membutuhkan indikasi mengenai apakah pasar tenaga kerja mulai melemah atau masih cukup kuat untuk menopang perekonomian.
Jika data tenaga kerja menunjukkan pelemahan, ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter dapat kembali meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi emas untuk memulihkan sebagian penurunannya.
Sebaliknya, data tenaga kerja yang kuat dapat memperkuat pandangan bahwa The Fed masih memiliki alasan untuk mempertahankan suku bunga tinggi.
Perubahan ekspektasi tersebut menjadi semakin penting setelah komentar hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada akhir Agustus.
Warsh mengatakan bank sentral AS masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila inflasi belum bergerak secara meyakinkan menuju target 2 persen.
Pernyataan tersebut mendorong pasar meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada September.
Pada akhir Agustus, pelaku pasar bahkan meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi 58 persen dari 36 persen sebelum komentar Warsh.
Perubahan ekspektasi tersebut menjadi salah satu penyebab utama emas kehilangan momentum setelah sebelumnya mencapai level lebih dari USD4.600 per troy ounce.
Pada Selasa, penurunan emas semakin dalam setelah harga menembus rata-rata pergerakan 200 hari. Reuters mencatat harga emas telah jatuh lebih dari 2 persen pada hari tersebut, sementara kontrak futures juga mengalami penurunan.
Konflik Timur Tengah Masih Mengintai
Perkembangan konflik AS-Iran juga menjadi faktor penting bagi harga emas. Secara historis, ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai.
Namun, kondisi kali ini memberikan pengaruh yang lebih kompleks.
Kembali memanasnya konflik berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi. Jika kenaikan harga energi berlangsung lama, inflasi global dapat kembali meningkat dan mempersulit bank sentral untuk menurunkan suku bunga. Kondisi tersebut justru dapat menjadi tekanan bagi emas.
Situasi serupa pernah terjadi ketika harga emas turun lebih dari 2 persen pada Juli setelah konflik Timur Tengah mendorong harga energi dan memperkuat kekhawatiran inflasi.
Pasar saat itu menilai kenaikan harga energi dapat membuat suku bunga bertahan lebih tinggi lebih lama.
Dengan demikian, investor emas kini menghadapi dua kekuatan yang berlawanan. Eskalasi konflik dapat meningkatkan kebutuhan terhadap aset safe haven, tetapi kenaikan harga minyak dan inflasi dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi.
Dalam jangka pendek, faktor kedua tampak lebih dominan terhadap pergerakan harga.
Harga emas dunia pada awal September juga menunjukkan koreksi setelah sebelumnya mencatat reli cukup kuat.
Pada 19 Agustus, harga emas spot sempat melonjak 3,6 persen hingga mencapai USD4.487,91 per troy ounce setelah imbal hasil Treasury dan dolar AS melemah.
Emas kemudian kembali mendekati level USD4.700 per troy ounce pada pekan berikutnya sebelum berbalik turun tajam.
Pada 28 Agustus, harga emas spot sudah turun sekitar 2,9 persen setelah komentar hawkish Warsh meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Saat itu harga berada di sekitar USD4.567,23 per troy ounce.
Artinya, tekanan yang terjadi pada awal September merupakan kelanjutan dari koreksi yang telah berlangsung sejak akhir Agustus.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati data tenaga kerja AS, pergerakan imbal hasil Treasury, indeks dolar, serta perkembangan konflik AS-Iran.
Jika data ekonomi menunjukkan pelemahan dan tekanan terhadap yield mulai mereda, emas berpeluang mendapatkan kembali dukungan dari ekspektasi pelonggaran moneter.
Sebaliknya, jika inflasi kembali menjadi perhatian utama dan peluang kenaikan suku bunga The Fed semakin besar, emas berpotensi menghadapi tekanan lanjutan.
Untuk sementara, harga emas dunia masih berada dalam fase koreksi.
Spot gold yang bergerak di kisaran USD4.300 per troy ounce pada awal perdagangan Rabu menunjukkan investor belum kembali agresif memburu logam mulia, meskipun ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih tinggi.
Perhatian pasar kini tertuju pada apakah emas mampu mempertahankan area USD4.300 atau justru kembali menghadapi tekanan jual setelah kehilangan level teknikal penting di sekitar USD4.528 per troy ounce.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.