Kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Suryadi negara tersebut untuk pertama kalinya melampaui pembangkit listrik dari batu bara.
Data National Energy AdministrationChina per akhir Juli 2026 menunjukkan kapasitas PLTS telah mencapai 1,286 miliar kilowatt atau 1.286 gigawattAngka itu sedikit lebih tinggi dibandingkan kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara yang menyentuh 1.285 GW.
China EV Home melaporkan, pencapaian tersebut menempatkan energi surya sebagai sumber pembangkit dengan kapasitas terpasang terbesar di China.
Transisi ini menandai perubahan besar dalam struktur sistem kelistrikan China meskipun kapasitasnya tidak berbeda jauh.
Sebagai pembanding, Indonesia masih memiliki kapasitas PLTS yang sangat kecil jika dibandingkan dengan China.
Data Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi EnergiKementerian Energi dan Sumber Daya Mineralper April 2026 mencatat kapasitas pembangkit surya Indonesia terdiri dari PLTS sebesar 510,57 MW, PLTS Atap 916,99 MW, dan PLTS Terapung 196,51 MW.
Jika ketiga kategori tersebut digabungkan, kapasitas tenaga surya Indonesia mencapai sekitar 1,62 GW.
Artinya, kapasitas PLTS China sekitar 790 kali lipat dibandingkan kapasitas tenaga surya Indonesia.
Bahkan, kapasitas PLTS China yang mencapai 1.286 GW itu sekitar 12 kali lipat dari seluruh kapasitas pembangkit listrik Indonesia.
Kementerian ESDM mencatat total kapasitas pembangkit nasional Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 107,51 GW.
Adapun total kapasitas pembangkit EBT pada akhir 2025 mencapai 15.630 MW. Dari angka tersebut, kapasitas PLTS hanya sekitar 1.494 MW.
Komposisinya juga masih didominasi sumber energi terbarukan lain. Pembangkit listrik tenaga air menjadi penyumbang terbesar kapasitas EBT, disusul bioenergi dan panas bumi. PLTS masih berada di bawah ketiga sumber tersebut.
Padahal, pemerintah mulai menaikkan ambisi pengembangan tenaga surya.
Pada Mei 2026, Kementerian ESDM menyatakan pemerintah mempercepat program PLTS 100 GW. Tahap awal program tersebut diarahkan pada pembangunan 17 GW yang akan didukung battery energy storage systemsekitar 33 GW.
China Tambah 13,7 GW PLTS dalam Sebulan, Indonesia Bagaimana?
Kekuatan China pada sektor energi surya tidak hanya terlihat dari kapasitas yang sudah terpasang. Penambahan kapasitasnya juga berlangsung dalam skala yang sulit dibandingkan dengan Indonesia.
Pada Juli 2026 saja, China menambah sekitar 13,73 juta kW atau 13,73 GW kapasitas PLTS.
Dengan tambahan tersebut, instalasi PLTS baru di China sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 85,65 GW.
Angka kumulatif tersebut memang turun 62 persen secara tahunan karena periode pembanding pada 2025 sangat tinggi akibat ekspektasi perubahan kebijakan subsidi yang mendorong lonjakan pemasangan PLTS di China.
Namun, perlambatan instalasi baru tersebut tidak mengubah posisi China sebagai pasar tenaga surya terbesar dunia.
Dari sisi pembangkit, energi surya China menghasilkan sekitar 802,4 miliar kWh pada Januari-Juli 2026. Produksi tersebut tumbuh 15,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pembangkitan surya tersebut juga jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan total konsumsi listrik masyarakat China yang diperkirakan sekitar 4,7 persen pada periode yang sama berdasarkan perbandingan angka yang disampaikan pemerintah China.
Lebih lanjut, energi surya bahkan telah menyumbang sekitar 13 persen konsumsi listrik China, naik 1,7 poin persentase dibandingkan sepanjang 2025.
Kondisi ini menunjukkan energi surya di China berperan semakin besar dalam memenuhi kebutuhan listrik warganya.
China tidak berhenti setelah kapasitas PLTS miliknya melampaui batu bara.
Dalam rencana lima tahun ke depan, China menargetkan produksi energi terbarukan tahunan mencapai sekitar 6 triliun kWh pada 2030.
Produksi listrik dari tenaga angin dan surya ditargetkan menembus lebih dari 4 triliun kWh.
Pemerintah China juga mulai memasukkan kemampuan pembangkit energi terbarukan untuk memasok listrik secara andal sebagai target kebijakan.
Fokusnya untuk membangun panel surya dan turbin angin, serta meningkatkan kemampuan sistem dalam menyediakan daya.
China Electricity Councilsebelumnya memperkirakan kapasitas gabungan tenaga angin dan surya akan mencapai sekitar separuh dari total kapasitas pembangkit China pada akhir 2026.
Pada saat yang sama, porsi kapasitas batu bara di China diperkirakan turun menjadi sekitar 31 persen.
Perubahan tersebut memperlihatkan arah transisi energi China yang terarah. Batu bara masih penting dalam menjaga ketersediaan sistem listrik, namun ekspansi kapasitas baru semakin banyak dari energi terbarukan.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.