Wakil Menteri ESDM, Yuliot, menegaskan bahwa ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dengan Iran serta konflik Rusia-Ukraina yang berlarut-larut berisiko tinggi memicu kelangkaan pasokan dan lonjakan harga energi secara mendadak.
“Bersama Pertamina, dari cadangan secara nasional saat ini rata-rata sekitar 21 hari, kita berusaha untuk meningkatkan cadangan operasional menjadi minimal sekitar 30 hari.
Jadi kalaupun ada gangguan terhadap pasokan, ketahanan energi kita lebih kuat,” ujarnya di Jakarta, dikutip Kamis, 3 September 2026.
Yuliot memaparkan, konsumsi BBM domestik terus merangkak naik seiring dengan tingginya pertumbuhan populasi kendaraan bermotor di Indonesia.
Ia mengungkapkan, total populasi kendaraan di tanah air telah menembus 168 juta unit, dengan laju pertumbuhan tahunan mencapai 1 juta unit mobil dan 6 juta unit sepeda motor pada 2025.
“Tingkat konsumsi BBM kita sudah mencapai sekitar 1,5 sampai 1,6 juta barel ekuivalen per hari. Sementara tingkat produksi atau lifting minyak bumi kita saat ini baru sekitar 600.000 barel per hari.
Target kita pada 2030 adalah meningkatkan lifting menjadi 1 juta barel per hari,” terangnya.
Peningkatan lifting menjadi salah satu kunci untuk mempersempit kesenjangan pasokan energi domestik.
Pemerintah juga perlu mempercepat investasi eksplorasi dan pengembangan lapangan baru, sembari mengoptimalkan produksi dari lapangan yang masih beroperasi agar kebutuhan energi nasional tidak semakin bergantung pada impor.
Kesenjangan antara konsumsi dan produksi tersebut menjadi salah satu persoalan struktural yang terus dihadapi pemerintah.
Upaya mengejar target tersebut tidak mudah karena sebagian besar lapangan minyak nasional telah memasuki fase mature sehingga produksi alamiahnya terus mengalami penurunan.
Pemerintah perlu mengandalkan eksplorasi wilayah kerja baru, optimalisasi sumur eksisting, serta penerapan teknologi seperti Enhanced Oil Recoveryuntuk mempertahankan sekaligus meningkatkan produksi.
Di sisi lain, percepatan produksi domestik membutuhkan kepastian investasi dan penyederhanaan proses perizinan.
Langkah tersebut menjadi penting karena peningkatan konsumsi energi tidak hanya terjadi pada BBM. Pemerintah juga berupaya mengurangi ketergantungan impor LPG melalui pemanfaatan gas bumi domestik.
Penguatan jaringan pipa menjadi bagian penting dari strategi tersebut, termasuk pembangunan pipa transmisi Dumai-Sei Mangkei yang ditargetkan dapat mendukung optimalisasi pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri.
Dengan kombinasi peningkatan lifting, diversifikasi sumber energi, serta percepatan kendaraan listrik, pemerintah berupaya menekan ketergantungan terhadap energi impor sekaligus memperkuat ketahanan pasokan nasional.
Mengapa Indonesia Mendorong EV dan Gas untuk Kurangi Impor Energi?
Untuk menutup celah keandalan energi serta mengikis impor BBM yang membengkak, pemerintah mengarahkan kebijakan pada percepatan konversi energi ke kendaraan listrikdan pemanfaatan gas bumi.
Langkah percepatan konversi tersebut mulai membuahkan hasil manis dengan lonjakan angka penjualan kendaraan listrik di pasar domestik.
“Penjualan kendaraan listrik tahun 2024 dibanding 2025 terjadi peningkatan sekitar 400 persen. Berarti terjadi pengurangan konsumsi untuk bahan bakar minyak secara signifikan,” tegas Yuliot.
Selain BBM, Kementerian ESDM mengintervensi ketergantungan impor Liquefied Petroleum Gasyang saat ini mencapai 7,4 juta ton dari total kebutuhan nasional sebesar 9 juta ton.
Pemerintah secara masif mendorong pemanfaatan Compressed Natural Gasserta penyelesaian infrastruktur jaringan pipa gas transmisi untuk mensubstitusi LPG.
“Kita mendorong penggunaan CNG untuk substitusi LPG karena stok CNG cukup di dalam negeri.
Infrastruktur pipa transmisi Cirebon-Semarangsepanjang 325 km menghubungkan Jawa Timur sampai Banten, dan pipa Dumai-Sei Mangkei sepanjang 55 km kita targetkan mengalirkan gas pada 2027,” urainya.
Pemerintah juga mengoptimalkan pengelolaan sampah kotamelalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 sebagai sumber energi bersih alternatif.
Dari total 52,6 juta ton sampah nasional per tahun, pemanfaatan waste to energy di lebih dari 450 kota besar diyakini sanggup menopang ketahanan energi sekaligus membersihkan lingkungan.
“Kita punya sumber daya dan pasar yang besar dengan 290 juta jiwa populasi. Tantangan kita adalah memangkas biaya logistik yang masih 27 persen dibanding PDB serta memperbaiki regulasi agar investasi EBT mengalir deras,” kata dia.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.