Penguatan yen juga berlangsung setelah data BOJ menunjukkan tidak terdapat intervensi resmi pemerintah Jepang di pasar valuta asing. Yen terakhir menguat 2,08 persen menjadi 155,47 per dolar AS.
Penguatan tersebut menjadi perhatian karena pergerakannya terjadi cukup cepat. Sehari sebelumnya, kenaikan yen sempat memunculkan spekulasi bahwa pemerintah Jepang melakukan intervensi untuk menopang mata uangnya.
Namun, data rekening harian BOJ tidak menunjukkan adanya penjualan dolar AS atau pembelian yen oleh Kementerian Keuangan Jepang.
Tidak adanya bukti intervensi membuat pasar kemudian lebih banyak mengaitkan penguatan yen dengan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter BOJ.
Spekulasi Kenaikan Suku Bunga BOJ Menguat
Salah satu sentimen utama berasal dari meningkatnya perkiraan bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan 17-18 September.
Pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga BOJ sebesar 25 basis poin sekitar 75 persen. Bahkan, sebagian pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan yang lebih besar.
Kenaikan tambahan pada Oktober juga mulai dipertimbangkan, meskipun belum menjadi skenario utama.
Pernyataan anggota dewan BOJ Hajime Takata turut memperkuat ekspektasi tersebut.
Takata mengatakan BOJ seharusnya menaikkan suku bunga secara fleksibel untuk merespons tekanan inflasi yang semakin kuat, bukan sekadar mengikuti pola kenaikan setiap enam bulan seperti yang sebelumnya diperkirakan pasar.
Pernyataan tersebut memberikan dorongan terhadap yen karena kenaikan suku bunga berpotensi mempersempit kesenjangan imbal hasil antara Jepang dan negara lain.
Namun, penguatan yen masih menghadapi persoalan fundamental.
Selisih suku bunga Jepang dengan negara lain masih lebar, sementara kekhawatiran mengenai kondisi fiskal Jepang dan kenaikan harga energi juga menjadi faktor yang membatasi penguatan mata uang tersebut.
Tidak Ada Intervensi Resmi Jepang
Penguatan yen juga menarik karena terjadi tanpa indikasi intervensi pemerintah.
Data BOJ menunjukkan tidak ada transaksi penjualan dolar dan pembelian yen oleh Kementerian Keuangan Jepang pada Rabu.
Selain itu, tidak terdapat laporan mengenai rate check, yakni ketika pemerintah atau bank sentral meminta lembaga keuangan memberikan kuotasi nilai tukar tanpa melakukan transaksi.
Kondisi ini membuat pola penguatan yen berbeda dibandingkan pergerakan yang biasanya muncul ketika pemerintah melakukan intervensi langsung.
Analis Goldman Sachs menilai penguatan yen pada Kamis berlangsung secara bertahap. Dampaknya terhadap pelemahan dolar terhadap mata uang lain juga lebih terbatas dibandingkan episode intervensi sebelumnya.
Pejabat valuta asing Jepang sekaligus Wakil Menteri Keuangan Atsushi Mimura tetap menyatakan kewaspadaan terhadap perkembangan pasar valuta asing. Ia juga menyebut dirinya belum merasa nyaman dengan pergerakan yen belakangan ini.
Dolar AS Ikut Tertekan
Di sisi lain, dolar AS mendapat tekanan setelah Gubernur Federal Reserve Christopher Waller mengatakan dirinya cenderung mendukung keputusan mempertahankan suku bunga apabila data ekonomi mendatang mengonfirmasi bahwa tekanan inflasi terus mereda.
Pernyataan tersebut membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September turun. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan sekitar 48 persen, dibandingkan 59 persen sebelum pernyataan Waller.
Indeks Dolar AS atau DXY turun 0,69 persen menjadi 98,91. Pelemahan dolar tidak hanya terjadi terhadap yen.
Euro menguat 0,41 persen menjadi USD1,1634, sementara poundsterling naik 0,18 persen menjadi USD1,3508.
Dengan demikian, penguatan yen terjadi melalui dua sentimen yang berjalan bersamaan. Dari Jepang, pasar memperbesar kemungkinan kenaikan suku bunga BOJ.
Dari AS, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed justru menurun.
Level 155,21 Menjadi Perhatian
Yen kini mendekati level 155,21 per dolar, yang merupakan posisi terkuat setelah intervensi pada Juli. Apabila USD/JPY menembus level tersebut, yen akan berada pada posisi terkuat sejak 6 Mei.
Pergerakan menuju level tersebut menjadi indikator penting karena menunjukkan seberapa jauh penguatan yen dapat berlanjut setelah lonjakan lebih dari 2 persen.
Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ yang terlalu agresif juga masih dipertanyakan. Chief International Strategist CIBC Capital Markets Jeremy Stretch menilai ekspektasi pasar saat ini terlalu hawkish.
Artinya, penguatan yen belum sepenuhnya dapat dipisahkan dari perubahan ekspektasi kebijakan moneter.
Apabila pasar kemudian mengurangi perkiraan kenaikan suku bunga BOJ, sebagian tekanan terhadap posisi dolar terhadap yen dapat kembali berkurang.
Payrolls AS Menjadi Katalis Berikutnya
Pasar selanjutnya menunggu laporan ketenagakerjaan AS atau non-farm payrolls yang dijadwalkan dirilis Jumat.
Berdasarkan median jajak pendapat Reuters, ekonomi AS diperkirakan menambah 56.000 tenaga kerja pada Agustus, setelah pada Juli justru kehilangan 23.000 pekerjaan.
Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi ekspektasi suku bunga The Fed.
Data tenaga kerja yang lebih kuat atau lebih lemah dari perkiraan dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS dan pada akhirnya memengaruhi dolar serta USD/JPY.
Data inflasi AS, yaitu CPI dan PPI untuk Agustus, juga akan dirilis pada pekan berikutnya.
Sementara itu, franc Swiss menguat setelah inflasi Swiss meningkat menjadi 0,8 persen secara tahunan pada Agustus dari 0,4 persen pada Juli. Dolar AS terhadap franc Swiss melemah 0,74 persen menjadi 0,807 franc.
Dengan demikian, penguatan yen sebesar 2,08 persen ke 155,47 per dolar terutama didorong oleh meningkatnya spekulasi kenaikan suku bunga BOJ, tanpa adanya indikasi intervensi resmi pemerintah Jepang, serta melemahnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Pergerakan berikutnya akan sangat dipengaruhi data payrolls dan inflasi AS, serta keputusan BOJ pada pertengahan September.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.