Wall Street Menguat! Fed Batalkan Kenaikan Suku Bunga?

Perubahan ekspektasi tersebut terjadi setelah Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan cenderung mempertahankan suku bunga apabila data ekonomi berikutnya menunjukkan tekanan inflasi terus mereda.

Pada perdagangan Jumat pagi WIB, 4 September 2026, Dow Jones Industrial Average naik 624,16 poin atau 1,18 persen menjadi 53.686,11.

S&P 500 bertambah 81,11 poin atau 1,06 persen ke 7.747,71, sedangkan Nasdaq Composite menguat 366,23 poin atau 1,40 persen menjadi 26.584,06.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Melemah

Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September turun menjadi 50,4 persen, dari 63,2 persen sehari sebelumnya. Pernyataan Waller menjadi salah satu faktor yang mengubah ekspektasi tersebut.

Waller menyampaikan kepada Reuters bahwa keputusan mempertahankan suku bunga akan didukung apabila data ekonomi menunjukkan tekanan harga mulai mereda.

Sebaliknya, ia juga membuka kemungkinan mendukung kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak memperlihatkan tanda-tanda penurunan.

Perubahan ekspektasi ini ikut mendorong pasar obligasi. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun untuk sesi kedua berturut-turut setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak November 2023.

Penurunan yield ini memberikan ruang bagi saham, khususnya sektor teknologi dan perusahaan dengan valuasi yang sensitif terhadap perubahan suku bunga untuk bergerak naik.

Investor juga mencermati sejumlah data ekonomi AS. Klaim pengangguran berada pada level rendah, sementara aktivitas sektor jasa mengalami percepatan.

Namun, harga input sektor jasa mencapai level tertinggi sejak Oktober 2022. Dan pada saat yang bersamaan, defisit perdagangan internasional AS melebar 24,4 persen.

Perhatian pasar kemudian beralih ke laporan ketenagakerjaan Agustus yang akan dirilis Departemen Tenaga Kerja AS.

Ekonomi AS diperkirakan menambah 56.000 lapangan kerja pada Agustus, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di 4,1 persen.

Data tersebut menjadi salah satu indikator yang akan diperhatikan investor dalam menilai arah kebijakan Federal Reserve.

Sektor-sektor yang Mengalami Penguatan

Sektor consumer discretionary menjadi kelompok dengan kenaikan terbesar di antara 11 sektor utama S&P 500. Sebaliknya, energi menjadi sektor dengan kinerja paling lemah.

Kelompok saham teknologi dan perusahaan yang terkait dengan pengembangan kecerdasan buatanmenjadi salah satu penggerak utama Nasdaq.

Nvidia naik 1,8 persen setelah mengumumkan rencana mengakuisisi platform pengembang Hugging Face senilai USD12,9 miliar.

Rencana tersebut menempatkan Nvidia semakin dekat dengan persaingan di ekosistem AI yang juga melibatkan perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic.

Namun, tidak seluruh saham semikonduktor bergerak positif. Broadcom turun 2,7 persen setelah memberikan proyeksi pendapatan kuartal IV yang berada di bawah perkiraan pasar.

Di sektor perangkat lunak, Snowflake menjadi salah satu saham dengan kinerja paling menonjol setelah melonjak 16,6 persen. Kenaikan tersebut terjadi setelah perusahaan memberikan proyeksi pertumbuhan pendapatan tahunan yang kuat.

Sentimen positif juga terlihat pada ServiceNow, Salesforce, dan Adobe yang masing-masing menguat antara 2,1 persen dan 6,5 persen.

ServiceNow bahkan masuk dalam daftar saham dengan kinerja terbaik S&P 500 dengan kenaikan 6,49 persen.

Palantir Technologies memimpin daftar tersebut dengan kenaikan 7,71 persen, disusul Principal Financial Group yang menguat 7,28 persen.

Bitcoin Pulih, Coinbase Naik 10,1 Persen

Penguatan juga terjadi pada saham yang berkaitan dengan aset kripto setelah harga bitcoin pulih dari koreksi selama dua sesi sebelumnya.

Strategy melonjak 17,6 persen, Coinbase Global naik 10,1 persen, sedangkan Robinhood Markets melesat 16,6 persen.

Pada indeks Dow Jones, Goldman Sachs menjadi saham dengan kinerja terbaik setelah naik 3,34 persen. Salesforce berada di posisi berikutnya dengan kenaikan 2,92 persen, disusul Microsoft yang menguat 2,68 persen.

Sementara itu, saham dengan kinerja terburuk adalah Cisco Systems yang turun 0,77 persen, Walt Disney melemah 0,76npersen, dan McDonald’s turun 0,51 persen.

Di S&P 500, selain Palantir, Principal Financial Group, dan ServiceNow menjadi tiga saham dengan kenaikan terbesar.

Pada sisi sebaliknya, Tyson Foods turun 7,25 persen, Campbell’s melemah 6,96 persen, dan Charter Communications turun 4,77 persen.

Pergerakan saham di Nasdaq menunjukkan volatilitas yang lebih tinggi. Tantech Holdings melonjak 66,94 persen, SunPower naik 58,21 persen, dan Mint Incorporation menguat 49,27 persen.

Sebaliknya, Intercont anjlok 89,66 persen, Advasa Holdings turun 80,02 persen, sedangkan Ultragenyx melemah 44,08 persen.

Penguatan Wall Street juga tercermin dari luasnya partisipasi saham. Di NYSE, saham yang naik mengungguli saham yang turun dengan rasio 1,98 banding 1.

Sebanyak 284 saham mencetak level tertinggi baru dan 186 saham mencapai level terendah baru.

Di Nasdaq, sebanyak 2.957 saham menguat dan 1.771 saham melemah, menghasilkan rasio 1,67 banding 1. S&P 500 mencatat 14 saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu, sementara delapan saham berada pada level terendah baru.

Di Nasdaq Composite, 71 saham mencatat level tertinggi baru dan 116 saham mencatat level terendah baru.

Volume perdagangan mencapai 15,25 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 15,09 miliar saham per sesi selama 20 hari terakhir.

Dengan demikian, penguatan Wall Street pada akhir pekan perdagangan didukung oleh perubahan ekspektasi suku bunga, penurunan yield Treasury, serta kenaikan saham teknologi, perangkat lunak, consumer discretionary, dan aset kripto.

Namun, kinerja antarperusahaan tetap beragam.

Proyeksi keuangan yang berada di bawah ekspektasi membuat sejumlah saham teknologi seperti Broadcom melemah, sementara laporan dan proyeksi yang lebih kuat mendorong kenaikan Snowflake, ServiceNow, Salesforce, dan sejumlah saham lainnya.

### Paket SEO

Subtitle:*

SEO Description:*

SEO Keywords:*

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.