Aturan Karbon Sektor Energi belum Rampung, Dirjen EBTKE Akui Ditunggu PengembangKarhutla Kalimantan Meluas, CERAH Soroti Besarnya Ketergantungan RI pada PLTU Batu Bara
Ketika pemanasan mencapai 2 derajat Celsius, jumlah anak yang diproyeksikan mengalami sedikitnya 150 hari tekanan panas per tahun melonjak menjadi sekitar 115 juta anak atau 10 persen.
Angka-angka tersebut membuat target pembatasan pemanasan global bukan lagi sekadar urusan meja perundingan antarnegara.
Bagi anak-anak, setiap tambahan kenaikan suhu berarti semakin panjang waktu yang harus mereka habiskan dalam kondisi panas yang berisiko.
Outreach and Advocacy Coordinator CERAH Dzatmiati Sari menilai pemerintah harus segera menerjemahkan komitmen Perjanjian Paris ke dalam kebijakan nyata, terutama melalui pengurangan emisi bahan bakar fosil dan pembatasan kenaikan suhu global.
Menurutnya, kondisi Indonesia yang sudah mengalami 90 hingga 150 hari tekanan panas atribusi setiap tahun menunjukkan bahwa dampak krisis iklim bukan cerita tentang masa depan. Anak-anak Indonesia sudah berada di dalam risikonya.
“Krisis iklim adalah krisis hak anak, sebab mengancam kelangsungan hidup dan hak-hak mereka sesuai Konvensi PBB tentang Hak-Hak Anak. Karenanya, mitigasi krisis iklim harus dibarengi keberanian melepaskan ketergantungan pada energi fosil.
Jika tidak, yang sedang dipertaruhkan adalah keberlangsungan hidup, kesehatan, dan masa depan anak-anak.
Pengelola negara harus segera mengambil tindakan nyata agar anak-anak hari ini dapat hidup dan mewarisi Bumi yang layak huni di masa depan,” Dzatmiati menegaskan.
Ia menambahkan, pembatasan pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius juga membutuhkan strategi adaptasi yang disesuaikan dengan kondisi lokal.
Langkah tersebut dinilai mendesak untuk menekan risiko kesehatan dalam jangka pendek, terutama bagi kelompok yang paling rentan seperti anak-anak.
Sebab, jika krisis iklim terus dibiarkan, generasi yang paling sedikit menyumbang masalah justru akan menjadi generasi yang paling lama membayar tagihannya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.