P.H. Sekretaris Perusahaan BEI, Aulia Noviana Utami Putri mengatakan rata-rata volume transaksi harian BEI mengalami peningkatan tertinggi sebesar 35,9 persen.
“Menjadi 48,99 miliar lembar saham dari 36,05 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya,” ujar dia dalam keterangannya dikutip, Sabtu, 5 September 2026.
Kemudian, disebutkan bahwa rata-rata nilai transaksi harian BEI pada pekan ini sebesar Rp19,22 triliun atau naik 25,75 persen dari pekan sebelumnya yang senilai Rp15,29 triliun.
Rata-rata frekuensi transaksi harian juga meningkat 10,93 persen menjadi 2,39 juta kali transaksi dari 2,15 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, BEI mencatat Indeks Harga Saham Gabunganpada pekan ini bergerak di zona positif setelah mengalami penguatan lebih dari satu persen.
“IHSG mengalami peningkatan 1,82 persen sehingga ditutup pada level 6.636,475 dari level 6.518,121 pada pekan sebelumnya,” jelas Aulia.
Di sisi lain, kapitalisasi pasar BEI pekan ini turut menanjak 1,47 persen menjadi Rp11.599 triliun dari Rp11.431 triliun pada pekan sebelumnya.
“Dari sisi investor asing, nilai jual bersih tercatat mencapai Rp29,76 miliar dan sepanjang tahun 2026 investor asing telah mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp68,05 triliun,” pungkas Aulia.
Prospek IHSG September 2026
Kiwoom Sekuritas Indonesia memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabunganakan bergerak menguat pada September 2026.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata menyampaikan IHSG berpeluang ditutup positif sebesar 40–45 persen pada September 2026. Angka ini sedikit di atas rata-rata probabilitas historis 33 persen
“Namun tetap condong ke skenario konsolidasi dengan bias pelemahan jangka pendek,” ujar Liza dalam risetnya, Senin, 31 Agustus 2026.
Liza memperkirakan IHSG bergerak pada kisaran 6.300–6.650 sepanjang September 2026, dengan tekanan terbesar di sekitar “minggu sibuk” bank sentral globaldan rebalancing FTSE Russell
Ia memandang konsolidasi ini sebagai jeda sehat di dalam tren re-rating yang lebih besar, sejalan dengan target akhir tahun 2026 Kiwoom Sekuritas di kisaran 7.250–7.700
“Dengan syarat progres pada lima uji re-rating terus berlanjut menjelang review MSCI November 2026,” jelas Liza.
Katalis dan Risiko yang Harus Diperhatikan
Kiwoom Sekuritas memproyeksikan pergerakan IHSG pada September 2026 bakal diselimuti sejumlah katalis dan risiko.
Dari katalis positif, Kiwoom menyebut kondisi ekonomi dalam negeri masih menunjukkan ketahanan kuat. Hal ini tergambar dari Pertumbuhan Produk Domestik BrutoIndonesia pada kuartal II tercatat mencapai 5,29 persen secara tahunan
Kepastian kebijakan moneter Bank Indonesia yang mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen, menurut Kiwoom Sekuritas, bisa memberikan rasa aman bagi pelaku pasar.
Namun hal ini dengan tetap membuka peluang pelonggaran apabila pergerakan nilai tukar Rupiah mendukung.
Dukungan terhadap IHSG juga datang dari tren kenaikan harga komoditas ekspor unggulan nasional, seperti minyak kelapa sawit, nikel, dan emas.
Dari sisi isu domestik, pasar merespons positif pergerakan relief rally setelah DPR menunjukkan komitmen terhadap pembahasan RUU Perampasan Aset.
Meski demikian, investor diimbau untuk tidak mengabaikan sejumlah faktor risiko yang berpotensi memicu volatilitas.
Kiwoom Sekuritas mencatat secara historis, September dikenal sebagai bulan dengan tren seasonality yang cenderung lemah bagi IHSG, dengan rata-rata kinerja mencatatkan minus 0,94 persen dan peluang penguatan hanya sebesar 33 persen.
Di kancah internasional, kewaspadaan pasar tertuju pada potensi arah kebijakan moneter hawkish yang serentak dari bank sentral utama dunia, yakni The Fed, ECB, dan Bank of Japanpada pertengahan September.
Dari pasar modal domestik, terdapat agenda rebalancing indeks FTSE Russell yang efektif pada 18 hingga 21 September, di mana sebanyak 39 saham Indonesia diperkirakan akan terdampak.
Sementara itu, Kiwoom Sekuritas memandang aksi jual bersihinvestor asing secara Year to Dateyang telah menembus Rp97,28 triliun masih menjadi tantangan tersendiri, mengingat pasar masih menunggu proses verifikasi indeks MSCI yang dijadwalkan pada November mendatang.
IHSG Naik Sepanjang Agustus
Sebelumnya diberitakan, IHSG menguat 4,52 persen sepanjang Agustus 2026 dan ditutup di level 6.518 pada akhir perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026.
Penguatan tersebut melanjutkan tren pemulihan IHSG setelah sebelumnya terkoreksi hingga level 5.317 pada Juni 2026.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah, mengatakan penguatan selama dua bulan berturut-turut menunjukkan kembali terbentuknya buying bias dan semakin solidnya momentum pemulihan indeks.
“Dari sisi domestik, kepastian proses suksesi Gubernur Bank Indonesia turut mengurangi salah satu sumber ketidakpastian pasar,” ujar Hari dalam keterangan tertulisnya, Senin, 31 Agustus 2026.
Kepastian tersebut menyusul persetujuan Komisi XI DPR terhadap Destry Damayanti untuk menduduki posisi Gubernur Bank Indonesia. Penetapan melalui rapat paripurna dijadwalkan pada 1 September 2026.
Di sisi moneter, Bank Indonesia kembali mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen untuk ketiga kalinya berturut-turut.
Kebijakan tersebut dilakukan dengan fokus menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas global dan ketidakpastian geopolitik.
Dari sisi global, arah kebijakan The Federal Reserve menjadi salah satu faktor yang masih diperhatikan pasar.
Pidato Kevin Warsh di Jackson Hole menunjukkan nada yang cenderung hawkish, sementara inflasi personal consumption expendituresmasih berada di 3,7 persen secara tahunan atau year-on-year, jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebijakan suku bunga bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer. Dampaknya, aliran dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi tertekan.
“Di sisi lain, aksi unjuk rasa domestik yang sempat memicu koreksi IHSG sebesar 1,48 persen pada 26 Agustus berhasil diredam oleh rebound 1,81 persen pada 27 Agustus.
Ini mengindikasikan bahwa political risk mulai lebih banyak diantisipasi pasar,” kata Hari.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.