Transaksi UBS Sekuritas Sepekan : Borong Saham Tambang Saat Lepas Bank RaksasaRupiah Masih Terancam Loyo Hari Ini, Analis Prediksi Tembus Rp18.010 per USD
Besarnya penghematan tersebut terutama berasal dari berkurangnya ketergantungan terhadap solar impor.
ESDM mencatat konsumsi solar nasional berada di kisaran 38 juta hingga 40 juta KL per tahun, sementara sebelum B50 Indonesia masih mengimpor sekitar 3 juta hingga 4 juta KL solar.
Pemerintah bahkan menargetkan implementasi B50 membuat Indonesia tidak lagi mengimpor produk solar.
Namun, angka penghematan devisa tersebut belum menceritakan seluruh biaya ekonomi B50.
Untuk menjalankan program B50 sepanjang 2026, ESDM memproyeksikan kebutuhan biodiesel berada di kisaran 16,7 juta hingga 18 juta KL. Dari volume tersebut, kebutuhan CPO diperkirakan mencapai sekitar 15,2 juta hingga 16,3 juta ton.
Besarnya kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan B50 bukan hanya kebijakan energi. Ia sekaligus menciptakan pasar domestik raksasa bagi industri sawit.
Sebagai pembanding, produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai 51,66 juta ton, meningkat 7,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Data tersebut disampaikan pemerintah berdasarkan laporan GAPKI.
Jika dibandingkan secara sederhana, kebutuhan CPO untuk B50 sebesar 15,2 juta hingga 16,3 juta ton setara sekitar 29–32 persen dari produksi CPO Indonesia pada 2025.
Perbandingan tersebut bukan berarti seluruh CPO nasional akan dialihkan untuk biodiesel. Produksi setiap tahun berubah dan CPO juga dibutuhkan untuk pangan, oleokimia, ekspor, serta berbagai produk turunan lainnya.
Namun angka tersebut cukup untuk menunjukkan seberapa besar perubahan struktur permintaan yang ditimbulkan B50.
Bahkan kajian yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunanmemperkirakan implementasi B50 dapat menekan ekspor minyak sawit.
Kajian KSO Sucofindo dan Appertani yang dipaparkan BPDP memproyeksikan total ekspor minyak sawit turun 11,40 persen dibandingkan ekspor 2024 akibat meningkatnya kebutuhan domestik.
Persoalan tersebut muncul ketika pertumbuhan produksi CPO tidak bergerak secepat pertumbuhan kebutuhan dalam negeri. Kajian yang sama memperingatkan adanya tekanan pasokan ketika B50 mulai diterapkan pada 2026.
Dengan kata lain, B50 memang dapat mengurangi kebutuhan impor solar. Tetapi pada saat yang sama, sebagian komoditas sawit yang sebelumnya berpotensi masuk pasar ekspor harus dialihkan untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.