BI Sebut Keyakinan Konsumen Meningkat pada Agustus 2026

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan hal itu tecermin dari Indeks Keyakinan KonsumenAgustus 2026 yang berada pada level optimissebesar 118,5.

“Lebih tinggi dibandingkan dengan indeks Juli 2026 sebesar 116,8,” ujar dia dalam keterangannya, Kamis, 10 September 2026.

Ramdan menjelaskan, meningkatnya keyakinan konsumen pada Agustus 2026 ditopang oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Inidan Indeks Ekspektasi Konsumenyang masing-masing tercatat sebesar 109,4 dan 127,6, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks Juli 2026 sebesar 107,9 dan 125,7.

Dari sisi harga, Ramdan menyebut tekanan inflasi pada Oktober 2026 dan Januari 2027 diprakirakan menurun. Menurutnya, kondisi ini terjadi jika berkaca dari Indeks Ekspektasi Harga UmumOktober 2026 dan Januari 2027.

“Yang masing-masing tercatat sebesar 146,5 dan 166,0, lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya yang masing-masing tercatat sebesar 155,2 dan 168,1,” ungkapnya.

Di sisi lain, Ramdan menyebut kinerja penjualan eceran pada Agustus 2026 diprakirakan tetap tumbuh. Hal ini tecermin dari Indeks Penjualan RiilAgustus 2026 yang secara tahunan diprakirakan tumbuh sebesar 0,5 persen year on year

Pertumbuhan penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh penjualan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, diikuti oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau.

Secara bulanan, BI mencatat penjualan eceran pada Agustus 2026 diprakirakan terkontraksi sebesar 0,1 persen

“Perkembangan tersebut dipengaruhi terutama oleh penurunan penjualan kelompok barang lainnya di tengah pertumbuhan penjualan kelompok peralatan informasi dan komunikasi, kelompok bahan bakar kendaraan bermotor, serta kelompok suku cadang dan aksesori,” terang Ramdan.

Pada Juli 2026, Ramdan mencatat IPR tumbuh sebesar 1,1 persen, meningkat dibandingkan dengan realisasi pada Juni 2026 yang mengalami kontraksi sebesar 3,0 persen

Ia bilang, kinerja tersebut terutama didorong oleh peningkatan pertumbuhan penjualan secara tahunan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok barang lainnya.

“Secara bulanan, penjualan eceran pada Juli 2026 tercatat terkontraksi sebesar 0,1 persendipengaruhi oleh normalisasi permintaan pasca periode Hari Besar Keagamaan Nasionaldan libur sekolah,” ungkapnya.

Ditopang Pajak, Cadangan Devisa RI Agustus 2026 Naik Tipis Jadi USD146,5 Miliar

Sementara itu, BI mencatat posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 tetap terjaga sebesar USD146,5 miliar atau meningkat dibandingkan dengan posisi akhir Juli 2026 sebesar USD145,3 miliar.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan perkembangan posisi cadangan devisa Agustus 2026 tersebut dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.

“Di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi,” ujar dia dalam keterangannya, Senin, 7 September 2026.

Ramdan bilang, posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Ramdan menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ke depan, lanjut dia, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

“Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Di sisi lain, BI menyampaikan Uang PrimerAdjusted pada Agustus 2026 tumbuh 16,3 persen year on year, melanjutkan pertumbuhan pada Juli 2026 sebesar 17,1 persensehingga tercatat sebesar Rp2.281,5 triliun.

Ramdan menyebut, perkembangan itu dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 19,0 persendan uang kartal yang diedarkan sebesar 12,9 persen

“Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 Adjusted telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted),” pungkasnya.

Gubernur BI Prioritaskan Stabilitas Demi Target Ekonomi Enam Persen

Sebelumnya diberitakan, Gubernur BI periode 2026–2031 Destry Damayanti menegaskan stabilitas ekonomi akan menjadi prioritas kebijakan bank sentral di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Hal tersebut disampaikan Destry setelah resmi dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu, 2 Sepeber 2026.

Ia menyebut kondisi global sejauh ini masih penuh gejolak. Hal ini akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan arah kebijakan BI, khususnya dalam jangka pendek.

Menurut Destry, stabilitas menjadi fondasi penting sebelum Indonesia dapat memperluas ruang pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan mencapai enam persen pada 2027.

Karena itu, BI akan memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan pemerintah serta kementerian dan lembaga untuk menciptakan stabilitas ekonomi.

“Stabilitas itu menjadi sangat penting untuk kami karena tentunya dengan kita memiliki ekonomi yang stabil, tentu ruang-ruang untuk pertumbuhan ekonomi itu menjadi semakin luas,” ujar Destry kepada media, Rabu, 2 September 2026.

Destry menyatakan, arah kebijakan BI ke depan akan tetap mengedepankan stabilitas. Salah satu fokusnya adalah menjaga stabilitas domestik, termasuk menangani persoalan inflasi melalui penguatan koordinasi dengan pemerintah.

“Jadi rekan-rekan sekalian, ini kalau kalian bertanya bagaimana stance policy-policy dari kami ke depan, tentu tetap pertama kita akan mengupayakan stabilitas dan tentunya mencapai stabilitas, kita bisa bekerja sama,” katanya.

Ia menegaskan BI akan mengandalkan sinergi dengan pemerintah dalam menangani berbagai tantangan domestik.

Menurutnya, pengendalian inflasi menjadi pekerjaan bersama yang membutuhkan koordinasi antara bank sentral dan kementerian maupun lembaga terkait.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.