MUI Minta Suahasil Integrasikan Ekonomi Syariah ke dalam Kebijakan Fiskal NegaraMinyak Turun Setelah Saudi Tambah Pasokan, Risiko Krisis Energi Masih Membayangi
Sentimen dari bursa global turut menjadi perhatian karena Wall Street ditutup melemah setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75–4 persen.
Reuters melaporkan, indeks S&P 500 turun sekitar 1 persen, Nasdaq melemah 0,7 persen, sementara Dow Jones juga bergerak turun.
Pasar merespons keputusan tersebut dengan aksi jual setelah The Fed memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin dilakukan untuk mengendalikan inflasi.
Laporan The Wall Street Journal mencatat Dow Jones turun 1,2 persen, S&P 500 melemah 0,4 persen, dan Nasdaq turun tipis 0,01 persen pada perdagangan 16 September 2026.
Pelemahan bursa AS tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek suku bunga tinggi dan tekanan inflasi.
Kondisi itu berpotensi memengaruhi sentimen pasar saham Asia, termasuk IHSG, ketika perdagangan domestik dibuka.
Tekanan terhadap aset berisiko juga diperkuat oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
The Wall Street Journal melaporkan yield Treasury tenor 10 tahun bergerak di sekitar 5,003 persen, sedangkan yield tenor dua tahun mencapai 4,725 persen.
Reuters sebelumnya mencatat yield Treasury 10 tahun sempat menembus 5 persen, level tertinggi sejak 2007.
Kenaikan yield mencerminkan kekhawatiran investor terhadap inflasi, kebutuhan pembiayaan pemerintah AS, serta kemungkinan kebijakan moneter ketat bertahan lebih lama.
Kenaikan yield Treasury dapat membuat aset berisiko di negara berkembang menghadapi tekanan.
Investor memiliki pilihan untuk menempatkan dana pada instrumen berpendapatan tetap dengan imbal hasil yang meningkat, sehingga minat terhadap pasar saham dapat ikut terpengaruh.
Selain pasar saham dan obligasi, penguatan dolar AS juga menjadi sentimen yang perlu diperhatikan. The Wall Street Journal melaporkan indeks dolar AS menguat 0,2 persen menjelang keputusan The Fed.
Setelah keputusan suku bunga diumumkan, dolar kembali memperoleh momentum terhadap sejumlah mata uang utama. Dolar tercatat menguat sekitar 0,3 persen terhadap yen dan 0,4 persen terhadap euro.
Penguatan dolar dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang dan memengaruhi arus modal asing.
Namun, data kurs rupiah dan posisi bersih investor asing pada perdagangan terakhir perlu dicermati dari statistik resmi Bank Indonesia dan Bursa Efek Indonesia untuk memastikan arah tekanan di pasar domestik.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.