Harga Emas Turun Lebih dari Satu Persen usai The Fed Naikkan Suku Bunga

Diborong Asing Rp176 Miliar, Apa Saja Katalis Positif ANTM?ANTM Gandakan Kapasitas Emas Jadi 60-70 Ton, Saham Bakal Tokcer?

Reuters juga melaporkan bahwa inflasi inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, meningkat 0,3 persen secara bulanan.

Data tersebut memperlihatkan bahwa tekanan harga belum sepenuhnya mereda meskipun bank sentral sebelumnya telah menjalankan kebijakan moneter ketat.

Selain indeks harga konsumen, indeks harga produsen atau Producer Price Index juga meningkat 0,4 persen pada Agustus. Kenaikan tersebut turut dipengaruhi oleh tekanan harga energi.

Kombinasi data CPI dan PPI membuat pelaku pasar memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan sikap hawkish.

Artinya, bank sentral masih menempatkan pengendalian inflasi sebagai prioritas, meskipun kebijakan suku bunga tinggi berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan pasar keuangan.

Tekanan terhadap emas juga datang dari pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun sempat mendekati 5 persen, bahkan menyentuh level di atas 5 persen dalam perdagangan menjelang keputusan The Fed.

Kenaikan imbal hasil obligasi membuat biaya peluang memegang emas menjadi lebih tinggi. Investor yang menyimpan dana dalam obligasi pemerintah dapat memperoleh pendapatan berupa bunga, sedangkan emas tidak menghasilkan kupon maupun dividen.

Situasi tersebut membuat sebagian investor mengurangi eksposur terhadap emas ketika imbal hasil obligasi meningkat.

Pasar juga mencermati kemungkinan bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama apabila inflasi belum kembali mendekati target.

Reuters mencatat, penguatan imbal hasil Treasury dan dolar menjadi dua faktor utama yang membebani harga emas setelah keputusan The Fed.

Kenaikan suku bunga The Fed turut mendorong penguatan dolar Amerika Serikat terhadap sejumlah mata uang utama. Penguatan dolar biasanya memberikan tekanan terhadap harga komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut.

Bagi investor di luar Amerika Serikat, emas menjadi lebih mahal ketika nilai dolar menguat.

Kondisi ini dapat mengurangi permintaan jangka pendek, terutama dari investor yang harus menukar mata uang domestiknya ke dolar sebelum membeli emas.

Meski begitu, pergerakan emas tidak hanya ditentukan oleh suku bunga dan dolar.

Ketidakpastian geopolitik, pembelian bank sentral, arus dana ETF emas, serta permintaan dari negara-negara konsumen besar seperti China tetap menjadi faktor yang dapat menahan penurunan harga.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.