Wall Street Melemah saat Imbal Hasil Obligasi AS Menembus 5 Persen

MUI Minta Suahasil Integrasikan Ekonomi Syariah ke dalam Kebijakan Fiskal NegaraIHSG Diproyeksi Masih Rawan Koreksi, Level 6.370 Jadi Penentu Arah Pergerakan

Kombinasi harga minyak yang menanjak dan imbal hasil obligasi yang tinggi membuat pasar saham menghadapi tekanan dari dua arah. Biaya pendanaan meningkat, sementara prospek daya beli konsumen berpotensi melemah.

Saham-saham perusahaan yang bergantung pada belanja konsumen menjadi korban paling jelas. Chipotle Mexican Grill anjlok 5,9 persen.

Darden Restaurants, pemilik jaringan Olive Garden dan LongHorn Steakhouse, turun 4,3 persen. Dollar Tree, yang menyasar konsumen dengan ruang keuangan lebih terbatas, merosot 5,4 persen.

Sementara itu, saham Dave & Buster’s Entertainment terjun 19 persen setelah perusahaan melaporkan kinerja kuartalan yang lebih lemah dari perkiraan analis.

Saham kripto ikut terperosok

Tekanan juga menghantam saham-saham yang terkait dengan industri mata uang kripto.

Pelemahan terjadi setelah legislasi AS yang membentuk kerangka regulasi baru untuk aset kripto turut menuntut pembatasan lebih besar terhadap investasi Presiden Donald Trump. Coinbase Global turun 10,1 persen. Robinhood Markets melemah 3,4 persen.

Di tengah tekanan tersebut, sejumlah saham teknologi masih mampu bertahan. Nvidia naik 0,6 persen setelah sehari sebelumnya anjlok 3,4 persen dan menjadi salah satu pemberat terbesar bagi indeks S&P 500. Advanced Micro Devices juga menguat 2,2 persen.

Saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan sebelumnya menjadi mesin penggerak reli pasar saham AS selama bertahun-tahun.

Namun, belakangan saham tersebut mulai tertekan karena investor mempertanyakan apakah euforia AI telah membuat valuasinya terlalu mahal.

Pada penutupan perdagangan, S&P 500 turun 34,25 poin menjadi 7.585,73. Dow Jones Industrial Average merosot 328,09 poin menjadi 52.093,11. Nasdaq Composite jatuh 204,84 poin menjadi 25.981,57.

Pelemahan juga terjadi di sejumlah bursa Eropa dan Asia. Meski demikian, penurunannya tidak setajam perdagangan Senin yang sebelumnya dihantam aksi jual saham-saham berbasis kecerdasan buatan.

Indeks Kospi Korea Selatan, misalnya, turun 0,9 persen setelah sehari sebelumnya merosot 3,3 persen.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.