Berdasarkan data Kinerja APBN KiTa hingga Agustus 2026, Belanja Negara terealisasi sebesar Rp2.295,7 triliun atau setara dengan 59,7 persen dari total pagu anggaran. Angka belanja ini tumbuh 17,1 persen secara tahunan
Sementara itu, Pendapatan Negara tercatat mencapai Rp2.055,6 triliun, atau sebesar 65,2 persen dari target APBN 2026. Realisasi pendapatan ini mengalami kenaikan sebesar 25,4 persendibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan postur pendapatan dan belanja tersebut, APBN hingga Agustus 2026 mengalami defisit sebesar Rp240,1 triliun atau setara dengan -0,93 persen terhadap Produk Domestik BrutoMeski mencatatkan defisit, posisi Keseimbangan Primer masih mencatatkan surplus positif sebesar Rp154,0 triliun.
Pemerintah menegaskan bahwa kinerja APBN yang solid ini memberikan penopang bagi kelanjutan program prioritas nasional dan menjaga stabilitas fiskal di tengah dinamika ekonomi global.
Namun, tantangan fiskal dan moneter domestik ke depan tidak berdiri sendiri.
Di tengah solidnya belanja dan pendapatan negara, pasar keuangan Indonesia kini bersiap menghadapi rambatan dari kebijakan moneter global, terutama pengetatan suku bunga sentral Amerika Serikat.
The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps, Bagaimana Dampaknya ke Bank Indonesia?
Kenaikan suku bunga acuan The Federal Reservesebesar 25 basis poinke kisaran 3,75–4 persen ternyata tidak mengguncang pasar secara berlebihan.
Bagi Stockbit Sekuritas, reaksi yang relatif terbatas di pasar saham maupun obligasi menunjukkan bahwa pelaku pasar sudah lebih dulu mengantisipasi arah kebijakan bank sentral AS tersebut.
“Kami menilai reaksi market yang cenderung terbatas, baik di pasar obligasi maupun saham, menandakan bahwa multiple rate hikes sudah diekspektasikan oleh market,” tulis Stockbit Sekuritas dalam riset tertulisnya, Jumat, 18 September 2026.
Artinya, kenaikan bunga The Fed kali ini bukan lagi kejutan bagi investor. Pasar sudah memasukkan kemungkinan kenaikan suku bunga ke dalam harga aset sebelum keputusan diumumkan. Persoalannya, cerita berikutnya justru berada di Indonesia.
Stockbit memperkirakan The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga satu kali lagi hingga akhir 2026. Kondisi tersebut kemudian membuka pertanyaan mendasar mengenai arah kebijakan Bank Indonesia
“Dengan ekspektasi 1x kenaikan lagi Fed rate hingga akhir tahun 2026, kami memperkirakan Bank Indonesia berpotensi turut menaikkan BI Rate,” lanjut riset Stockbit.
Meski demikian, Stockbit belum melihat kepastian apakah Bank Indonesia akan mengikuti dua kali kenaikan 25 basis poin maupun hanya sekali.
Menurut mereka, keputusan tersebut akan sangat bergantung pada perkembangan stabilitas nilai tukar rupiah dalam menghadapi tekanan dolar AS.
“Apakah Bank Indonesia akan mengikuti kenaikan 2×25 bps atau hanya sekali, kami menilai hal tersebut bergantung pada kondisi stabilitas nilai tukar rupiah nantinya,” jelas Stockbit.
Pandangan ini sejalan dengan Konsensus Bloomberg per Kamis, 17 September 2026, yang juga mengarah pada kemungkinan pengetatan kebijakan moneter Indonesia.
Konsensus tersebut memproyeksikan BI Rate berpeluang naik 25 basis poin menjadi 6 persen hingga akhir tahun 2026.
The Fed Buka Ruang Kenaikan Lagi
The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada Rabu, 16 September 2026 waktu setempat. Suku bunga federal funds kini berada di kisaran 3,75–4 persen.
Keputusan tersebut menjadi kenaikan suku bunga AS pertama sejak 2023 dan sesuai dengan ekspektasi konsensus.
Dalam risetnya, Stockbit menyebut keputusan tersebut diambil secara bulat oleh seluruh anggota gubernur bank sentral. Kebijakan itu ditempuh ketika tekanan inflasi AS masih tergolong tinggi dan aktivitas ekonomi dinilai tetap kuat.
Bukan hanya keputusan September yang perlu diperhatikan. The Fed juga memperbarui proyeksi suku bunganya untuk akhir 2026 menjadi kisaran 4–4,25 persen.
Jika terealisasi, level tersebut menandakan masih terdapat ruang kenaikan sebesar 25 basis poin dari posisi saat ini.
Ekspektasi pasar bahkan bergerak semakin kuat ke arah pengetatan lanjutan. Berdasarkan analisis CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed kembali menaikkan bunga 25 basis poin hingga akhir 2026 mencapai sekitar 88 persen per 17 September.
Sebagai pembanding, probabilitas tersebut baru berada di kisaran 65 persen sepekan sebelumnya.
Dengan kata lain, pasar bukan hanya telah mencerna kenaikan bunga September, tetapi investor juga mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan berikutnya secara agresif.
Respons pasar global memberikan gambaran jelas mengenai bagaimana mekanisme ekspektasi bekerja. Pada penutupan perdagangan Rabu, 16 September 2026, indeks saham Amerika Serikat memang sempat terkoreksi.
Indeks S&P 500 turun 0,45 persen, Nasdaq melemah tipis 0,01 persen, dan Dow Jones terkoreksi 1,2 persen.
Namun, tekanan tersebut mulai mereda pada perdagangan berikutnya. Pada Kamis pagi, Nasdaq futures menguat 0,7 persen dan S&P 500 futures naik 0,6 persen.
Pasar obligasi juga tidak menunjukkan gejolak drastis, dengan yield obligasi pemerintah AStenor 10 tahun relatif datar di sekitar 5 persen.
Pergerakan indeks dolar ASjustru lebih menonjol, menguat 0,6 persen ke level 100,3—posisi tertinggi sejak akhir Juli 2026.
Sementara itu, harga emas ditutup turun 0,7 persen menjadi USD4.263 per ounce setelah sempat menguat sekitar 1,7 persen secara intraday.
Rangkaian pergerakan tersebut memperkuat penilaian bahwa keputusan The Fed relatif sudah priced-in. Istilah priced-in menunjukkan bahwa pasar telah mengantisipasi suatu peristiwa sebelum peristiwa tersebut benar-benar terjadi.
Ketika keputusan sesuai ekspektasi, ruang bagi pergerakan harga yang ekstrem menjadi jauh lebih terbatas.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.