Kenaikan ini juga membawa emas menuju kenaikan mingguan pertama dalam empat pekan.
Harga emas spot naik 1,2 persen menjadi USD4.390,11 per troy ounce pada pukul 14.14 waktu New York atau 18.12 GMT. Pada perdagangan yang sama, harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 11 September. Secara mingguan, emas telah menguat sekitar 1 persen.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup naik 0,6 persen menjadi USD4.424,90 per troy ounce.
The Fed, Harga Minyak, dan Inflasi AS
Pergerakan tersebut terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu, membawa kisaran suku bunga federal funds menjadi 3,75 persen – 4 persen.
Namun, pasar emas justru bergerak berlawanan pada akhir pekan.
Salah satu penjelasannya datang dari perubahan posisi investor.
President of world markets EverBank Chris Gaffney, mengatakan investor logam mulia sebelumnya telah memperkirakan kenaikan suku bunga AS dan mengambil posisi short untuk mengantisipasi penurunan harga emas.
Setelah keputusan The Fed terealisasi, posisi tersebut mulai ditutup.
Proses penutupan posisi short atau short covering ini dapat memberikan dorongan tambahan terhadap harga ketika pelaku pasar membeli kembali aset yang sebelumnya dijual.
Dalam konteks perdagangan emas pekan ini, faktor tersebut menjadi salah satu sumber permintaan setelah keputusan The Fed tidak lagi menjadi kejutan bagi pasar.
Di saat yang sama, perkembangan harga minyak juga memberikan ruang bagi emas untuk bergerak lebih tinggi.
Harga minyak mentah Brent turun untuk sesi ketiga berturut-turut. Penurunan ini mengurangi sebagian tekanan terhadap inflasi, terutama karena energi merupakan salah satu komponen penting yang mempengaruhi biaya produksi dan transportasi.
Kondisi ini menjadi penting bagi pasar karena hubungan antara minyak, inflasi, dan suku bunga cukup erat. Ketika harga minyak meningkat tajam, risiko tekanan inflasi yang lebih panjang ikut menjadi perhatian.
Sebaliknya, pelemahan harga minyak dapat mengurangi sebagian kekhawatiran tersebut.
Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed juga belum sepenuhnya hilang. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga berikutnya pada pertemuan Oktober mencapai sekitar 55 persen, berdasarkan CME FedWatch.
Angka tersebut menunjukkan pasar masih memperhitungkan kemungkinan pengetatan moneter lanjutan.
Pergerakan Logam Mulia dan Permintaan Asia
Pergerakan logam mulia lain juga memperlihatkan penguatan yang cukup luas.
Harga perak spot naik 2,3 persen menjadi USD66,70 per ounce, platinum bertambah 2,2 persen menjadi USD1.812,50, sedangkan palladium naik 1,5 persen menjadi USD1.310,20.
Chris Gaffney menyebut emas saat ini sedang menguji area USD4.400-USD4.440. Area tersebut menjadi perhatian karena pergerakan di atasnya berpotensi membuka ruang bagi harga untuk bergerak lebih tinggi.
Sebaliknya, kegagalan menembus area tersebut akan membuat pasar kembali memperhatikan pengaruh dolar, yield obligasi pemerintah AS, dan ekspektasi suku bunga.
Perhatian investor juga datang dari Jepang. Bank of Japan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun dan memberi sinyal bahwa kenaikan biaya pinjaman masih dapat berlanjut.
Perubahan kebijakan moneter di negara-negara utama tersebut menambah kompleksitas lingkungan suku bunga global yang harus dihadapi pasar logam mulia.
Sementara itu, permintaan fisik emas di India masih relatif lemah karena pembeli menahan transaksi dengan harapan mendapatkan harga yang lebih rendah. Di China, premi emas relatif stabil dan tetap ditopang permintaan investasi.
Prediksi Harga Emas hingga Akhir 2026
Harga emas global memasuki fase penting pada 2026.
Setelah mencatat reli kuat dan bergerak di sekitar USD4.000-USD5.000 per troy ounce, sejumlah proyeksi masih membuka ruang kenaikan menuju USD5.000-USD6.000 per troy ounce hingga akhir tahun.
Namun, target tersebut bukan merupakan kepastian karena arah emas tetap sangat sensitif terhadap suku bunga, dolar AS, geopolitik, dan arus investasi.
J.P. Morgan Global Research memperkirakan emas dapat mencapai sekitar USD6.000 per troy ounce pada kuartal IV 2026.
Goldman Sachs Research, dalam proyeksi yang lebih konservatif, menargetkan USD4.900 pada akhir 2026.
Sementara itu, survei analis LBMA menunjukkan rentang proyeksi yang cukup lebar, mencerminkan tingginya ketidakpastian pasar.
Salah satu penopang utama berasal dari permintaan bank sentral.
World Gold Council memperkirakan bank sentral tetap menjadi pembeli signifikan sepanjang 2026, sementara pertumbuhan permintaan investasi diperkirakan menjadi sumber utama pertumbuhan konsumsi emas.
Permintaan dari Asia dan aktivitas OTC juga diperkirakan berperan lebih besar.
Faktor geopolitik juga menjadi katalis penting. Ketegangan di Timur Tengah dan ketidakpastian ekonomi meningkatkan kebutuhan investor terhadap aset yang dianggap mampu menjadi pelindung portofolio.
World Gold Council mencatat memburuknya kondisi ekonomi atau geopolitik dapat menjadi pemicu bagi emas untuk kembali memasuki tren kenaikan.
Namun, terdapat satu bagian dari asumsi awal yang perlu diperbarui. Pada September 2026, The Fed justru menaikkan suku bunga 25 basis poin, bukan berada dalam fase pelonggaran.
Reuters juga melaporkan bank sentral global kembali menghadapi tekanan inflasi akibat tingginya harga energi.
Artinya, ruang kenaikan emas masih terbuka, tetapi sangat bergantung pada perubahan ekspektasi suku bunga dan yield obligasi AS.
Untuk Indonesia, kisaran Rp2,7 juta-Rp3,2 juta per gram secara matematis masih sejalan dengan emas global USD5.000-USD6.000 apabila kurs rupiah berada di sekitar Rp16.800 per dolar AS, sebelum memperhitungkan premi, biaya, dan perbedaan harga produk domestik.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.