JPMorgan: Bitcoin Berpeluang Ungguli Emas Jika Hedging ETF Mereda

Bukan karena harganya tiba-tiba terbang ke langit, bukan pula karena narasi lama soal aset digital yang katanya akan menggantikan sistem keuangan dunia.

Kali ini alasannya lebih sederhana, tetapi cukup menarik, yakni posisi lindung nilai investor.

Analis JPMorgan menilai Bitcoin berpotensi mendapatkan dukungan lebih besar dibandingkan emas jika investor mulai mengurangi posisi lindung nilai melalui ETF.

Dalam laporan yang dipimpin Nikolaos Panigirtzoglou pada Rabu, 16 September 2026, analis JPMorgan mencatat arus dana masuk ke ETF Bitcoin dan emas kembali meningkat setelah pertemuan Federal Reserve pada akhir Juli.

Momentum tersebut muncul ketika apa yang disebut sebagai perdagangan debasement kembali menguat.

Perdagangan debasement merujuk pada strategi investor mencari aset yang dianggap dapat melindungi nilai ketika kekhawatiran terhadap penurunan nilai mata uang kembali meningkat.

Namun, cerita tersebut mulai sedikit berubah dalam sepekan terakhir. JPMorgan menyebut momentum perdagangan debasement melemah setelah imbal hasil obligasi yang telah disesuaikan dengan inflasi meningkat.

Di saat bersamaan, Senat Amerika Serikat gagal meloloskan Clarity Act.

Dampaknya terlihat dari perbedaan pemulihan permintaan ETF emas dan Bitcoin. Menurut analis JPMorgan, permintaan ETF emas telah pulih lebih jauh dibandingkan Bitcoin.

ETF emas bahkan telah berhasil menghapus seluruh arus dana keluar yang terjadi pada awal tahun. Sementara itu, ETF Bitcoin baru berhasil memulihkan sekitar separuh dari arus dana keluar tersebut.

Permintaan terhadap ETF Bitcoin juga kembali melemah dalam beberapa hari terakhir. Justru kondisi inilah yang menurut JPMorgan menyisakan ruang pemulihan apabila arus berita mengenai Bitcoin mulai membaik.

Di tengah tarik-menarik tersebut, posisi investor institusi terhadap emas dan Bitcoin masih tergolong tinggi. Data posisi kontrak berjangka menunjukkan kedua aset masih mendapatkan dukungan dari investor institusi.

Namun, perbedaan yang lebih menarik justru terlihat dari aktivitas short interest di ETF.

JPMorgan mencatat posisi short terhadap iShares Bitcoin Trust ETF milik BlackRock, yang dikenal dengan kode IBIT, masih berada dekat level tertingginya sepanjang tahun ini. Kondisinya berbeda dengan SPDR Gold Shares ETF atau GLD.

Posisi short terhadap ETF emas tersebut justru berada di bawah rata-rata historisnya.

Perbedaan tersebut memberikan gambaran bahwa Bitcoin masih menghadapi suasana pasar yang lebih skeptis dibandingkan emas.

Menurut analis JPMorgan, kondisi tersebut kemungkinan berkaitan dengan tingginya permintaan lindung nilai terhadap Bitcoin meskipun arus dana masuk dan posisi kontrak berjangkanya belakangan meningkat.

“Kontras ini menunjukkan bahwa Bitcoin masih menghadapi latar belakang posisi yang secara keseluruhan lebih skeptis dibandingkan emas, mungkin karena permintaan lindung nilai yang lebih tinggi, meskipun baru-baru ini terjadi arus dana masuk dan peningkatan posisi kontrak berjangka,” kata analis JPMorgan, dikutip dari The Block, Sabtu, 19 September 2026.

Jika investor mulai mengurangi posisi lindung nilainya, tekanan short terhadap ETF Bitcoin dapat berkurang. Dalam kondisi tersebut, Bitcoin berpotensi memperoleh dukungan tambahan dibandingkan emas.

JPMorgan tetap mengingatkan bahwa pergerakan kedua aset tidak hanya ditentukan oleh posisi investor. Faktor lain juga dapat memengaruhi arah Bitcoin dan emas ke depan.

Namun, jika hanya melihat struktur posisi investor saat ini, JPMorgan melihat adanya ruang yang lebih besar bagi Bitcoin ketika permintaan lindung nilai mulai surut.

“Meskipun kami menyadari bahwa faktor lain juga dapat memengaruhi pergerakan Bitcoin dan emas ke depan, dari sudut pandang posisi investor, posisi short yang lebih tinggi pada ETF IBIT dibandingkan GLD dapat menciptakan dukungan yang lebih besar bagi Bitcoin dibandingkan emas dari sini jika permintaan lindung nilai berkurang,” ujar analis JPMorgan.

Jadi, pertarungan Bitcoin melawan emas kali ini bukan cuma soal siapa yang lebih sering masuk ke portofolio investor.

Ada satu pertanyaan yang tak kalah penting, yakni seberapa banyak investor masih merasa perlu memasang rem darurat pada Bitcoin.

Jika kebutuhan lindung nilai tersebut mulai berkurang, posisi short yang saat ini relatif tinggi justru dapat menjadi ruang bagi Bitcoin untuk mendapatkan dorongan baru.

Short Bitcoin Masih Tinggi

JPMorgan mencatat ETF emas telah memulihkan seluruh arus dana keluar yang terjadi pada awal 2026. Sementara ETF Bitcoin baru berhasil memulihkan sekitar separuh arus dana keluar tersebut.

Artinya, jika hanya melihat arus dana, emas masih berada di posisi yang lebih kuat. Data World Gold Council bahkan menunjukkan ETF emas berbasis fisik secara global menerima arus dana masuk USD18 miliarsepanjang Agustus 2026.

Angka tersebut menjadi arus dana bulanan terbesar kedua sepanjang sejarah.

Bersamaan dengan itu, aset kelolaan ETF emas global meningkat 16 persen dalam sebulan menjadi USD615 miliarKepemilikan emas dalam ETF juga bertambah 121 ton menjadi 4.189 ton, sekaligus mencatat rekor tertinggi.

Bitcoin tidak sepenuhnya kehilangan peminat. Namun, pergerakan arus dananya lebih berombak.

Data yang dikutip dari Farside Investors menunjukkan ETF Bitcoin spot AS kembali mencatat arus dana masuk sekitar USD159,5 jutapada 17 September.

IBIT milik BlackRock menyumbang sekitar USD183,7 jutadari arus masuk tersebut, sementara sejumlah ETF lainnya justru mengalami arus dana keluar.

Kondisi itu menunjukkan permintaan ETF Bitcoin belum bergerak dalam satu arah. Setelah sempat mendapatkan aliran dana, tekanan jual masih kembali muncul pada September.

Justru di sinilah perbedaan Bitcoin dan emas menjadi menarik.

JPMorgan mencatat posisi short interest pada iShares Bitcoin Trust ETF atau IBIT masih mendekati level tertinggi sepanjang tahun. Sebaliknya, posisi short interest pada SPDR Gold Shares ETF atau GLD berada di bawah rata-rata historisnya.

Data pasar hingga 31 Agustus memperlihatkan posisi short IBIT mencapai sekitar 45,93 juta saham. Angka tersebut naik 23,8 persen dibandingkan periode sebelumnya dan setara sekitar 3,53 persen dari public float.

Pada periode yang sama, posisi short GLD mencapai sekitar 15,93 juta saham atau 4,51 persen dari public float. Posisi tersebut juga meningkat dibandingkan periode sebelumnya.

Angka absolut kedua ETF tersebut memang tidak bisa dibandingkan secara mentah karena struktur, jumlah saham beredar, harga, dan volume perdagangannya berbeda.

Yang menjadi perhatian JPMorgan adalah posisi masing-masing ETF terhadap sejarahnya sendiri. Dalam konteks tersebut, IBIT masih berada dekat level tertinggi tahun ini, sedangkan posisi short GLD disebut berada di bawah rata-rata historis.

JPMorgan kemudian melihat situasi tersebut dari sisi yang berbeda. Posisi lindung nilai yang tinggi memang menunjukkan kehati-hatian investor.

Namun, apabila investor mulai mengurangi perlindungan tersebut tanpa melepas kepemilikan Bitcoin yang mendasarinya, proses tersebut justru berpotensi memberikan dukungan tambahan terhadap harga Bitcoin.

Dengan kata lain, posisi yang sekarang terlihat sebagai tanda keraguan justru dapat berubah menjadi sumber permintaan apabila investor mulai membongkar hedging.

JPMorgan juga melihat rasio put-to-call open interest IBIT lebih tinggi dibandingkan GLD. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas lindung nilai terhadap risiko penurunan Bitcoin lebih besar dibandingkan emas.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.