Di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabunganyang cenderung berkonsolidasi, jajaran saham top losers mencatatkan penurunan harga hingga puluhan persen, mulai dari saham berkapitalisasi kecil hingga saham berkapitalisasi jumbo.
Saham SAPX memimpin barisan top losers sepekan setelah merosot hingga 39,41 persen dan parkir di level Rp306 dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp255,00 miliar.
Mengekor di posisi kedua, saham FLMC ambles 30,15 persen menuju level Rp95 serta mengantongi kapitalisasi pasar sebesar Rp74,22 miliar.
Koreksi dalam juga dialami oleh saham TCPI yang tergerus 26,77 persen ke harga Rp1.450 dengan kapitalisasi pasar tercatat senilai Rp7,25 triliun.
Sementara itu, saham CSMI berada di posisi keempat setelah melemah 20,91 persen ke level Rp174 dan kapitalisasi pasar Rp141,99 miliar.
Menutup jajaran lima terbawah, saham FORU terkoreksi 19,09 persen hingga bertengger di harga Rp3.010, meski masih memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp1,40 triliun.
Memasuki paruh kedua deretan top losers, saham WINR menempati urutan keenam usai terkikis 17,86 persen ke posisi Rp23 dengan kapitalisasi pasar Rp120,41 miliar.
Di posisi ketujuh, saham UDNG menyusul dengan penurunan 17,65 persen ke level Rp490 dan nilai kapitalisasi pasar Rp857,52 miliar.
Tekanan jual yang signifikan juga melanda saham SRAJ yang melemah 17,31 persen ke harga Rp12.900. SRAJ menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di jajaran top losers ini, yaitu mencapai Rp157,88 triliun.
Daftar pelemahan mingguan ini ditutup oleh saham SMRA dan BBSS. Saham properti SMRA terperosok 16,27 persen ke level Rp278 dengan kapitalisasi pasar Rp4,58 triliun.
Terakhir, saham BBSS mengunci posisi kesepuluh setelah terkoreksi 15,05 persen menuju level Rp79 dan kapitalisasi pasar senilai Rp379,20 miliar.
Sentimen Moneter Global dan Isu Klasifikasi Pasar Warnai Pergerakan
Aksi pelepasan pada jajaran saham top losers tersebut sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabunganyang diproyeksikan bergerak volatile dan cenderung berkonsolidasi dengan risiko koreksi pada perdagangan Senin, 21 September 2026.
Sentimen pengetatan kebijakan moneter global, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga ketidakpastian seputar arah kebijakan suku bunga acuan membayangi pergerakan pasar saham Indonesia.
Berdasarkan analisis Phintraco Sekuritas, IHSG berpotensi menghadapi tekanan terutama pada saham-saham berkapitalisasi besarPhintraco Sekuritas memetakan area support terdekat berada di rentang 6.431–6.419, dengan pivotal support penentu di level 6.377–6.370, dan support selanjutnya di level 6.290.
Sementara itu, level resistance terdekat berada di 6.452, dengan major resistance pada rentang 6.511–6.523 hingga 6.552–6.591.
Analis Phintraco Sekuritas, Desy Erawati, menggarisbawahi bahwa pergerakan indeks hari ini akan sangat dipengaruhi oleh kecermatan investor terhadap kondisi eksternal dan perbankan domestik.
“IHSG berpotensi bergerak volatile dan sideways dengan tekanan pada big caps selama investor mencermati arah kebijakan Bank Indonesia dan global rate backdrop,” kata Desy Erawati dalam riset terbarunya, Senin, 21 September 2026.
Sejalan dengan pandangan tersebut, MNC Sekuritas mencatat bahwa IHSG sebelumnya terkoreksi 0,33 persen ke level 6.441 yang disertai munculnya tekanan jual. Secara mingguan, indeks tergerus 1,53 persen.
Technical Analyst MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa pola pergerakan teknikal IHSG saat ini masih dibayangi oleh fase gelombang koreksi.
“Worst case, saat ini diperkirakan IHSG masih berada pada bagian dari wave iv dari wavepada label hitam sehingga IHSG masih rawan menguji kembali 6.290–6.370.
Namun, selama IHSG masih mampu berada di atas 6.370 maka masih terdapat peluang IHSG menguat ke rentang 6.541–6.581,” ujar Herditya Wicaksana.
Pasar keuangan domestik saat ini dipengaruhi oleh dinamika moneter global dan keputusan lembaga indeks internasional.
Dari mancanegara, Federal Reservemempertahankan Fed Funds Rate pada kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen, di mana pelaku pasar masih terus mencermati arah kebijakan acuan ke depan.
Di Asia, Bank of Japanmenaikkan policy rate sebesar 25 bps menjadi 1,25 persen yang merupakan level tertinggi dalam 31 tahun terakhir, sehingga memicu pelemahan yen dan meningkatkan perhatian pasar terhadap potensi risiko pembongkaran posisi carry trade serta arus modal global.
Sementara itu, Bank Sentral Chinamemilih menahan suku bunga acuan Loan Prime Ratetenor 1 tahun dan 5 tahun selama 16 bulan berturut-turut, menandakan ruang pendorong stimulasi moneter di Tiongkok masih terbatas.
Dari dalam negeri, lembaga penyedia indeks MSCI memperpanjang masa peninjauanklasifikasi pasar Indonesia hingga November 2026.
Meski demikian, valuasi IHSG saat ini dinilai telah relatif rendahsehingga sebagian besar risiko pasar dianggap sudah tercermin pada harga saham saat ini
Selain itu, MSCI tengah menggelar konsultasi terkait perubahan metodologi Capped Indexes dengan batas akhir tanggapan pada 30 September 2026 dan pengumuman hasil paling lambat 30 Oktober 2026.
Di sisi lain, FTSE Russell juga memutuskan menahan penyesuaiansaham Indonesia hingga periode Desember 2026.
Meskipun dibayangi penjualan bersih investor asing, nilai tukar rupiah yang berada di posisi Rp17.758 per dolar AS, serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury 10Y di level 4,996 persen dan US30Y di level 5,327 persen), pasar domestik mendapat penopang likuiditas dari kebijakan pemerintah.
Penempatan dana Saldo Anggaran Lebihsekitar Rp299 triliun di Bank Himbara hingga Juli 2027 menjadi salah satu pendorong utama likuiditas perbankan nasional, di samping fokus pemerintah pada ketahanan pangan, energi, serta percepatan program hilirisasi.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.