Soal Kuota Tambahan BYAN 15-20 Persen, ESDM: Masih Proses

ESDM Sebut Akuisisi BYAN oleh Haji Isam Belum Kantongi IzinBYAN Dapat Tambahan Kuota hingga 20 Juta Ton, Asing Masih Jual Rp79,8 Miliar

Persoalan tersebut sebelumnya berkaitan dengan PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima.

Ketiga anak usaha ini telah mengajukan perubahan RKAB 2026, tetapi persetujuannya belum diterbitkan ketika BYAN harus memenuhi sejumlah kewajiban pengiriman kepada pelanggan.

Dalam keterbukaan informasi pada 14 September 2026, manajemen BYAN menyebut kondisi tersebut sebagai keadaan memaksa karena perubahan RKAB belum mendapatkan persetujuan meskipun pengajuannya telah dilakukan sesuai ketentuan.

Tambahan kuota 15 juta hingga 20 juta ton kemudian mengubah posisi operasional perseroan. Secara langsung, ruang produksi menjadi lebih besar dibandingkan ketika persetujuan perubahan RKAB belum diterbitkan.

Pergerakan Saham Masih Stabil

Pergerakan saham BYAN di pasar modal juga menunjukkan respons yang cukup kuat terhadap rangkaian perkembangan tersebut.

Berdasarkan data perdagangan 14–18 September 2026, saham BYAN bergerak dari Rp11.100 pada 14 September menjadi Rp13.825 pada 18 September.

Dengan demikian, harga saham meningkat Rp2.725 atau sekitar 24,55 persen hanya dalam empat hari perdagangan.

Kenaikan terbesar terjadi pada Jumat, 18 September, ketika BYAN melonjak 19,96 persen menjadi Rp13.825. Pada hari tersebut, nilai transaksi mencapai Rp158,21 miliar dengan volume 114,54 ribu lot dan frekuensi 6.660 kali.

Namun, data transaksi menunjukkan kenaikan harga tersebut tidak disertai akumulasi investor asing. Sepanjang 14–18 September, investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp79,81 miliar.

Rinciannya, net sell asing pada 14 September mencapai Rp3,58 miliar, kemudian Rp8,88 miliar pada 15 September.

Tekanan meningkat menjadi Rp19,09 miliar pada 16 September, berlanjut Rp2,25 miliar pada 17 September, dan melonjak menjadi Rp46 miliar pada 18 September.

Jika dijumlahkan, investor asing mencatat pembelian sekitar Rp25,48 miliar, sedangkan penjualan mencapai Rp105,29 miliar sepanjang periode tersebut. Selisihnya menghasilkan net sell Rp79,81 miliar.

Data ini menunjukkan bahwa kenaikan BYAN pada pekan lalu lebih banyak berlangsung di tengah tekanan jual asing, bukan karena akumulasi asing.

Pada 18 September, misalnya, asing membukukan foreign buy Rp1,97 miliar, tetapi foreign sell mencapai Rp47,97 miliar.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.