Berdasarkan harga saham VICO yang berada di sekitar Rp170-Rp173 pada perdagangan 22 September 2026, dividen tersebut memberikan indikasi dividend yield sekitar 4,6 persen – 4,7 persen.
Pembagian dividen ini menjadi perhatian karena VICO bukan perusahaan operasional tunggal, melainkan perusahaan induk investasi yang memiliki eksposur pada sejumlah bisnis jasa keuangan.
Melalui anak usaha dan perusahaan afiliasi, VICO memiliki kegiatan di bidang sekuritas dan penjaminan emisi, asuransi umum, manajemen investasi, serta kepemilikan pada PT Bank Victoria International Tbk.
Struktur tersebut membuat kinerja VICO tidak hanya bergantung pada satu lini bisnis.
Pendapatan dan laba perseroan juga berkaitan dengan aktivitas anak usaha serta kinerja investasi dan bisnis jasa keuangan yang berada di dalam kelompok usahanya.
Berdasarkan data yang tersedia, VICO memiliki pendapatan trailing twelve monthssekitar Rp1,052 triliun dengan EBITDA Rp450 miliar dan laba bersih Rp148 miliar.
Sementara itu, laba bersih yang tercatat dalam dua kuartal pertama 2026 mencapai Rp29 miliar pada kuartal I dan Rp72 miliar pada kuartal II.
Namun, terdapat perbedaan cukup besar antara kinerja kuartalan 2026 dan periode pembanding. Data menunjukkan laba bersih kuartal II 2026 tumbuh negatif 82,27 persen secara tahunan.
Karena itu, angka laba perlu dibaca bersama dengan periode pembanding dan struktur pendapatan perseroan, bukan hanya berdasarkan besarnya dividen yang dibagikan.
Dividen Rp8 dan Payout Ratio
Dengan dividen Rp8 per saham, VICO mengalokasikan sekitar 60,66 persen dari laba berdasarkan data TTM yang ditampilkan. Dividend yield tercatat sekitar 4,62 persen.
Artinya, dividen yang dibagikan bukan sekadar distribusi dengan nominal per saham, tetapi merepresentasikan sebagian besar laba yang tersedia berdasarkan basis TTM.
Pada saat yang sama, investor perlu membedakan dividend yield berdasarkan harga saham saat ini dengan yield yang benar-benar diterima pemegang saham berdasarkan harga beli masing-masing.
Data menunjukkan dividen VICO tahun sebelumnya juga tercatat Rp8 per saham. Dengan demikian, besaran dividen tahun buku 2025 berada pada nominal yang sama dengan data dividen TTM yang tercantum.
Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan pada 28 September 2026. Sementara pembayaran dividen akan dilakukan pada 22 Oktober 2026.
Investor yang ingin memperoleh hak dividen perlu memperhatikan jadwal tersebut karena harga saham dapat bergerak berbeda sebelum dan setelah tanggal ex-dividend.
Fundamental VICO
Dari sisi valuasi, price to earnings ratioVICO tercatat 17,73 kali berdasarkan laba TTM dan 13,12 kali berdasarkan laba yang dianualisasi. Price to book valueberada di 0,71 kali, sementara earnings yield tercatat 5,64 persen.
Nilai buku per saham berada di Rp243,30, lebih tinggi dibandingkan harga saham sekitar Rp170-Rp173. Secara matematis, kondisi tersebut tercermin pada PBV yang berada di bawah satu kali.
Namun, rasio tersebut perlu dibaca bersama dengan tingkat profitabilitas. Return on EquityVICO tercatat 4,01 persen, sedangkan Return on Assetshanya 0,41 persen. Return on Invested Capitalberada di 6,97 persen.
Data neraca menunjukkan total aset sekitar Rp36,155 triliun dan total kewajiban Rp30,581 triliun. Total ekuitas mencapai Rp5,574 triliun, dengan common equity sekitar Rp3,702 triliun.
Struktur tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar aset perseroan dibiayai oleh kewajiban.
Di sisi arus kas, cash flow from operations TTM tercatat negatif Rp252 miliar, sementara arus kas investasi negatif Rp1,835 triliun. Arus kas pendanaan berada di Rp757 miliar dan free cash flow negatif Rp273 miliar.
Angka ini menjadi aspek yang perlu diperhatikan karena laba bersih dan arus kas tidak selalu bergerak dalam arah yang sama.
Di sisi lain, interest coverage tercatat 37,75 kali. Data tersebut menunjukkan laba operasional yang tersedia dalam basis perhitungan tersebut masih jauh lebih besar dibandingkan beban bunga.
Saham VICO Mulai Berada di Atas Moving Average
Dari sisi teknikal, gambaran VICO pada 22 September justru menunjukkan kondisi yang berbeda dari beberapa indikator fundamentalnya. Saham berada di Rp173, naik 1,76 persen pada perdagangan tersebut.
Rangkuman indikator teknikal menunjukkan 7 sinyal beli, tanpa sinyal netral, dan 3 sinyal jual. RSI 14 berada di 62,94 dengan sinyal beli.
Namun, Stochastic RSI berada di 100 dan dikategorikan sebagai kondisi beli berlebih. CCI juga berada di 155,61, sementara ROC mencapai 22,70.
MACD masih memberikan sinyal jual dengan nilai -0,016. Ultimate Oscillator juga berada pada kategori jual.
Dengan demikian, momentum kenaikan belum sepenuhnya dikonfirmasi oleh seluruh indikator.
Sementara itu, moving average memberikan sinyal yang lebih seragam. Seluruh MA5 hingga MA200 memberikan sinyal beli.
Harga Rp173 berada di atas MA5 163,80, MA10 153, MA20 146,05, MA50 167,06, MA100 171,53, dan MA200 149,99.
Posisi tersebut menunjukkan harga sudah berada di atas sejumlah rata-rata pergerakan penting.
Namun, jarak terhadap MA100 hanya sekitar Rp1,47, sehingga area tersebut dapat menjadi salah satu level yang diperhatikan dalam membaca pergerakan harga berikutnya.
Pada pivot point klasik, level pivot berada di Rp170. Support tercatat Rp163, Rp153, dan Rp146, sedangkan resistance berada di Rp180, Rp187, dan Rp197.
Harga Rp173 masih berada di atas pivot, sehingga rentang Rp170-Rp180 menjadi area penting dalam data teknikal yang tersedia.
Dengan demikian, VICO menghadirkan dua gambaran yang berbeda.
Fundamentalnya menunjukkan valuasi PBV di bawah satu kali dan pembagian dividen Rp8 per saham dengan yield sekitar 4,6 persen-4,7 persen, tetapi profitabilitas dan arus kas masih perlu diperhatikan.
Sementara secara teknikal, harga sudah berada di atas seluruh moving average dengan pivot Rp170 sebagai level yang perlu dicermati, meski sejumlah oscillator mulai menunjukkan kondisi jenuh beli.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.