Target Energi Terbarukan 2030 Makin Berat, Apa Dampaknya ke Indonesia?

Kondisi tersebut menempatkan pembangunan jaringan listrik dan investasi energi sebagai tantangan baru, termasuk bagi Indonesia.

Reuters pada 22 September 2026 melaporkan, dunia menambah lebih dari 690 gigawattkapasitas pembangkit energi terbarukan sepanjang 2025.

Namun, angka tersebut masih jauh dari kebutuhan rata-rata sekitar 1.200 GW per tahun hingga 2030 untuk memenuhi kesepakatan melipatgandakan kapasitas energi terbarukan global.

Target tersebut merujuk pada kesepakatan lebih dari 100 negara dalam COP28 di Dubai pada 2023 untuk melipatgandakan kapasitas energi terbarukan hingga tiga kali lipat pada 2030.

Laporan yang disusun International Renewable Energy Agency, Presidensi COP31, dan Global Renewables Alliance menyebut total kapasitas energi terbarukan global mencapai 5,15 terawattpada akhir 2025.

Jumlah tersebut masih kurang dari separuh target 11,2 TW yang diperlukan untuk memenuhi komitmen tersebut.

Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan energi terbarukan tidak cukup hanya mengandalkan penambahan kapasitas pembangkit.

Infrastruktur jaringan listrik dan sistem penyimpanan juga harus berkembang agar listrik dari pembangkit energi bersih dapat disalurkan ketika dan di mana dibutuhkan.

Laporan tersebut memperkirakan kebutuhan investasi jaringan listrik mencapai hampir USD1 triliun per tahun secara rata-rata selama 2026-2030.

Nilai tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan investasi jaringan sebesar USD525 miliar pada 2025.

Francesco La Camera, direktur jenderal IRENA, mengatakan kapasitas energi terbarukan masih dapat mengejar kesenjangan hingga 2030.

Namun, pertumbuhan konsumsi listrik yang lebih cepat dari perkiraan dan ketertinggalan infrastruktur jaringan menjadi tantangan.

“Energi terbarukan masih dapat menutup kesenjangan menuju target 2030, tetapi efisiensi energi tertinggal, permintaan listrik meningkat lebih cepat dari perkiraan, dan infrastruktur jaringan listrik belum mampu mengimbangi pertumbuhan tersebut,” kata Francesco La Camera dalam laporan tersebut, dikutip Selasa, 22 September 2026

Indonesia Punya Target Besar Energi Terbarukan

Kebutuhan percepatan global tersebut juga relevan dengan agenda kelistrikan Indonesia. Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik2025-2034, pemerintah menetapkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW.

Dari jumlah tersebut, 42,6 GW atau 61 persen berasal dari energi baru terbarukan, sedangkan 10,3 GW atau 15 persen berasal dari sistem penyimpanan energi.

Dengan demikian, EBT dan storage mencapai 76 persen dari total tambahan kapasitas pembangkit dalam RUPTL.

Kapasitas EBT tersebut terdiri atas pembangkit listrik tenaga surya17,1 GW, tenaga air 11,7 GW, tenaga angin 7,2 GW, panas bumi 5,2 GW, bioenergi 0,9 GW, dan nuklir 0,5 GW.

Sementara sistem penyimpanan mencakup pumped storage 6 GW dan battery energy storage system4,3 GW.

Tantangannya bukan hanya membangun pembangkit. PLN juga menyiapkan pembangunan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer sirkuituntuk menghubungkan pembangkit, gardu induk, hingga pusat konsumsi listrik.

Besarnya kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa transisi energi juga membuka peluang bagi sektor konstruksi, kelistrikan, teknologi penyimpanan, dan manufaktur peralatan pendukung.

Namun, peluang tersebut tetap bergantung pada realisasi proyek dan kesiapan infrastruktur.

Dari sisi investasi, RUPTL 2025-2034 berpotensi membuka kebutuhan investasi hingga Rp2.133,7 triliun.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp1.341,8 triliun dialokasikan untuk pengembangan EBT melalui skema independent power producer, sedangkan Rp340,6 triliun berasal dari investasi PLN.

Investasi Jaringan Jadi Perhatian

Kebutuhan investasi jaringan global yang hampir mencapai USD1 triliun per tahun menunjukkan bahwa transisi energi semakin bergeser dari sekadar pembangunan pembangkit menuju pembangunan ekosistem kelistrikan.

Hal serupa terlihat dalam RUPTL Indonesia. Pemerintah tidak hanya menetapkan tambahan kapasitas EBT, tetapi juga memasukkan sistem penyimpanan dan pembangunan jaringan transmisi sebagai bagian dari rencana kelistrikan.

Bagi investor, kondisi tersebut membuka ruang bagi perusahaan yang memiliki eksposur terhadap pembangunan pembangkit, transmisi, peralatan kelistrikan, teknologi penyimpanan energi, hingga rantai pasok energi terbarukan.

Kendati demikian, realisasi investasi tetap bergantung pada kesiapan proyek, skema pendanaan, regulasi, serta kemampuan jaringan menyerap tambahan kapasitas pembangkit.

Sementara di tingkat global, laporan tersebut menunjukkan kebutuhan pembangunan energi bersih kini jauh lebih besar dibandingkan laju penambahan kapasitas pada 2025.

Dunia menambah lebih dari 690 GW energi terbarukan tahun lalu, tetapi membutuhkan rata-rata sekitar 1.200 GW per tahun sampai 2030.

Artinya, empat tahun ke depan akan menjadi periode penting bagi industri energi. Bukan hanya untuk mengejar kapasitas pembangkit, tetapi juga memastikan jaringan listrik dan penyimpanan mampu mengikuti pertumbuhan energi terbarukan.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.