Tekanan datang dari kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Harga emas spot turun 0,5 persen menjadi USD4.265,50 per ons pada pukul 01.00 WIB. Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak Desember ditutup melemah 0,5 persen menjadi USD4.298 per ons.
Pergerakan tersebut berlangsung ketika pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter AS yang lebih ketat.
Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang diperhatikan karena dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi keputusan Federal Reserve terkait suku bunga.
“Emas terus terbebani oleh lonjakan harga energi serta suku bunga yang lebih tinggi.
Ketika harga energi meningkat, kekhawatiran terhadap inflasi juga bertambah dan muncul potensi kenaikan suku bunga tambahan oleh the Fed,” kata Director of Metals Trading High Ridge Futures David Meger.
Harga Minyak Melonjak Dua Persen
Harga minyak sendiri melonjak sekitar 2 persen pada Kamis setelah serangan rudal kelompok Houthi ke Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian pasar karena dampaknya dapat meluas ke biaya produksi dan harga barang maupun jasa.
Ketika biaya energi meningkat, perusahaan dapat menghadapi kenaikan biaya operasional. Sebagian biaya tersebut dapat diteruskan kepada konsumen sehingga meningkatkan tekanan terhadap inflasi utama.
Dalam kondisi seperti itu, ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter longgar menjadi semakin terbatas.
Kondisi tersebut menjadi penting bagi pasar emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Ketika suku bunga dan imbal hasil aset berbasis dolar meningkat, biaya peluang untuk memegang emas juga ikut meningkat.
Pengetatan Suku Bunga The Fed
Federal Reserve sebelumnya menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada pekan lalu. Sinyal bahwa pengetatan tambahan masih mungkin dilakukan sebelum akhir tahun.
Sejumlah pejabat The Fed menyampaikan pernyataan yang memperkuat ekspektasi tersebut.
Gubernur Federal Reserve Michael Barr menjadi salah satu pejabat terbaru yang menekankan perlunya mempertimbangkan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Pernyataan tersebut ikut memperkuat perhatian pasar terhadap arah suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee berikutnya.
Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober mencapai 69 persen. Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi pergerakan emas.
Secara historis, kenaikan suku bunga dapat memberikan tekanan terhadap emas karena aset tersebut tidak menghasilkan pendapatan bunga.
Ketika instrumen berbasis dolar menawarkan imbal hasil lebih tinggi, sebagian investor dapat mempertimbangkan kembali alokasi terhadap aset yang tidak memberikan kupon atau bunga.
Dolar AS Sentuh Level Tertinggi
Tekanan terhadap emas juga datang dari pasar valuta asing. Dolar AS menguat hingga mencapai level tertinggi dalam dua bulan.
Karena harga emas ditetapkan dalam dolar AS, penguatan greenback membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Selain dolar, pasar obligasi juga memberikan tekanan tambahan. Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun bertahan di dekat level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Kenaikan yield memperbesar biaya peluang memegang emas karena investor memiliki alternatif aset yang memberikan imbal hasil.
Kombinasi ini membuat ruang kenaikan emas menjadi lebih terbatas dalam perdagangan tersebut. Tekanan semakin terlihat ketika harga minyak juga meningkat dan mendorong pasar memperhitungkan risiko inflasi yang lebih tinggi.
Namun, posisi emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi tetap menjadi salah satu faktor yang diperhatikan.
Jika kenaikan harga energi berlangsung dalam periode yang lebih panjang, perhatian pasar terhadap inflasi juga dapat meningkat.
Kondisi tersebut menjadi salah satu variabel yang akan menentukan arah ekspektasi kebijakan moneter dan selanjutnya memengaruhi harga emas.
Seperti ini Teknikal Harga Emas ke Depan
Dari sisi teknikal, level USD4.235 per ons menjadi area yang diperhatikan pelaku pasar. Ole Hansen, Head of Commodity Strategy Saxo Bank, menyebut level tersebut sebagai support terdekat.
Menurut dia, penembusan support tersebut dapat membuka ruang koreksi lebih lanjut dengan perhatian berikutnya mengarah ke area USD4.000 yang terbentuk pada periode Juni-Juli.
Pergerakan emas pada Kamis juga diikuti pelemahan sejumlah logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 1,3 persem menjadi USD63,60 per ons.
Platinum melemah 0,1 persen menjadi USD1.748,46 per ons, sedangkan paladium justru naik 0,7 persen menjadi USD1.268,24 per ons.
Dalam jangka pendek, perhatian pasar emas akan tertuju pada perkembangan harga minyak, pergerakan dolar AS, yield Treasury, serta komunikasi pejabat Federal Reserve.
Keempat faktor tersebut saling berkaitan melalui jalur inflasi dan suku bunga.
Kenaikan minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi. Inflasi yang lebih tinggi dapat memperkuat ekspektasi suku bunga.
Suku bunga yang lebih tinggi dapat mendorong yield Treasury dan mendukung dolar AS. Kombinasi tersebut kemudian meningkatkan biaya peluang memegang emas.
Dengan harga emas spot yang telah turun ke USD4.265,50 per ons, area USD4.235 menjadi level teknikal yang perlu diperhatikan.
Sementara itu, USD4.000 menjadi area berikutnya yang disebut dalam analisis teknikal apabila tekanan jual berlanjut.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.