Merdeka Copper Gold (MDKA) Berbalik Laba USD102 Juta di Semester I 2026

Investor Asing Cicil Masuk MDKA, Bagaimana Potensinya?

Namun, kontribusi MBMA terhadap laba MDKA belum sepenuhnya optimal. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah kerugian dari entitas asosiasi, termasuk bisnis ESG HPAL, yang ikut menekan laba bersih kuartal II.

Artinya, peningkatan volume pada bisnis nikel belum otomatis menghasilkan pertumbuhan laba bersih dengan kecepatan yang sama. Perseroan masih berada dalam fase peningkatan utilisasi dan pengembangan sejumlah fasilitas pengolahan.

Wetar Membaik Meski Produksi Turun

Segmen tembaga Wetar memberikan gambaran berbeda. Produksi tembaga pada kuartal II turun 30 persen menjadi sekitar 1,5 ribu ton karena tidak ada penumpukan bijih baru.

Namun, penjualan tetap bertahan di sekitar 1,9 ribu ton. Pada saat yang sama, harga jual rata-rata tembaga meningkat 2 persen menjadi USD5,8 per pon, sementara cash cost turun 25 persen menjadi USD2,3 per pon.

Penurunan biaya tersebut membuat ekonomi operasi Wetar membaik meski volume produksinya turun. Riset sebelumnya juga mencatat bahwa perbaikan efisiensi biaya mampu meningkatkan margin kas Wetar secara signifikan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa MDKA tidak hanya bergantung pada pertumbuhan volume. Efisiensi biaya dan harga komoditas juga menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas laba.

Pani Gold Menjadi Salah Satu Penentu Semester II

Perhatian berikutnya mengarah pada Tambang Emas Pani. Proyek tersebut mulai memberikan kontribusi produksi pada 2026 dan masih berada dalam fase peningkatan kapasitas.

Pada semester I, Pani menghasilkan sekitar 17.412 ons emas, sementara Tujuh Bukit menghasilkan 49.402 ons. Total penjualan emas MDKA mencapai 61.561 ons, meningkat 3 persen secara tahunan.

Manajemen memperkirakan kontribusi Pani akan meningkat pada semester II seiring dengan peningkatan aktivitas penambangan, volume stacking, dan tingkat perolehan emas dari operasi heap leach.

Perseroan juga mengembangkan proyek Carbon-in-Leach untuk memperluas potensi produksi emas.

Karena itu, semester II akan menjadi periode penting untuk melihat apakah peningkatan volume Pani mampu mengimbangi normalisasi margin Tujuh Bukit Oxide dan tekanan dari beberapa bisnis MBMA.

Di sisi lain, MDKA masih memiliki sejumlah proyek jangka panjang, termasuk Tembaga Tujuh Bukit yang telah memasuki tahap *feasibility study* serta pengembangan fasilitas HPAL di lini material baterai.

Sementara itu, riset yang menjadi dasar analisis ini mempertahankan proyeksi laba 2026–2027 dan target harga Rp4.500 per saham, serta mempertahankan rekomendasi Buy.

Pandangan tersebut merupakan penilaian analis dan bukan proyeksi independen.

Analis melihat momentum laba berpotensi menguat pada semester II melalui peningkatan kontribusi Pani Gold dan perbaikan volume limonite MBMA setelah tambahan kuota RKAB.

Risiko yang disebut antara lain volume yang lebih rendah dari ekspektasi, risiko eksekusi proyek, serta lamanya proses pemilihan mitra untuk proyek tembaga Tujuh Bukit.

Dengan demikian, perubahan MDKA dari rugi menjadi laba pada semester I 2026 menunjukkan adanya perbaikan fundamental yang cukup besar.

Namun, kualitas pertumbuhan laba masih akan sangat bergantung pada kemampuan perseroan menjaga volume emas dan nikel, mengendalikan biaya, mengurangi tekanan nonoperasional seperti selisih kurs, serta memastikan proyek-proyek baru masuk ke tahap produksi secara sesuai rencana.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.