Berdasarkan data perdagangan, Nikkei dibuka pada level 66.128,59, naik dari penutupan sebelumnya di 65.481,27. Indeks sempat mencapai level tertinggi 66.518,98 dan terendah 66.014,48.
Reuters pada 30 September 2026 melaporkan, penguatan Nikkei berlangsung ketika investor masih mencermati pergerakan yen dan arah kebijakan Bank of Japan
Pergerakan yen menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar karena pelemahan mata uang Jepang dapat mendukung perusahaan berorientasi ekspor, tetapi sekaligus meningkatkan biaya impor.
Sebelumnya, pejabat valuta asing Jepang Atsushi Mimura meminta pasar memperhatikan peringatan Tokyo dan Washington terkait pergerakan yen.
Pemerintah Jepang juga telah memberikan sinyal akan mengambil langkah apabila pelemahan mata uang berlangsung berlebihan.
Sementara itu, Kospi Korea Selatan dibuka pada 6.943,47, naik dari penutupan sebelumnya di 6.870,81. Indeks sempat mencapai level tertinggi 6.965,64 dan terendah 6.871,17.
Pergerakan Kospi masih erat dengan kinerja saham semikonduktor, terutama Samsung Electronics dan SK Hynix yang memiliki bobot besar terhadap indeks.
Kedua perusahaan sebelumnya menjadi perhatian investor karena rencana pengembalian modal kepada pemegang saham, di tengah reli saham Korea yang juga ditopang ekspektasi pertumbuhan industri chip.
Namun, reli saham Korea juga berlangsung dengan volatilitas yang tinggi. Reuters sebelumnya mencatat tingginya penggunaan utang margin dapat memperbesar pergerakan pasar ketika terjadi tekanan jual.
Hang Seng Tertekan
Berbeda dengan Jepang dan Korea Selatan, Hang Seng dibuka pada level 24.393,88, turun dari penutupan sebelumnya di 24.523,57. Indeks bergerak pada rentang 24.332,64 hingga 24.499,77.
Pergerakan tersebut melanjutkan perbedaan arah antara pasar Hong Kong dan China daratan.
Data pasar menunjukkan Hang Seng ditutup pada 24.523,57 atau turun 0,48 persen pada perdagangan sebelumnya, sedangkan Shanghai Composite ditutup pada 3.830,45 atau naik 0,18 persen.
Tekanan terhadap saham Hong Kong juga masih perlu dilihat dari pergerakan sektor teknologi.
Dalam beberapa bulan terakhir, saham teknologi Hong Kong menjadi salah satu sumber volatilitas pasar seiring perubahan ekspektasi investor terhadap valuasi perusahaan teknologi dan tema kecerdasan buatan.
Sementara itu, Shanghai Composite dibuka pada level 3.839,25, naik dari penutupan sebelumnya di 3.830,45. Indeks sempat mencapai 3.847,68 dan berada pada level terendah 3.833,09.
Perbedaan arah Shanghai dan Hang Seng menunjukkan respons pasar China yang tidak sepenuhnya seragam.
Shanghai lebih banyak mencerminkan saham-saham domestik China, sedangkan Hang Seng memiliki eksposur besar terhadap perusahaan teknologi dan perusahaan yang tercatat di Hong Kong.
Pasar Asia Masih Dibayangi Faktor Global
Pergerakan bursa Asia berlangsung ketika investor global masih mencermati kondisi pasar obligasi Amerika Serikat, arah suku bunga The Federal Reserve, serta perkembangan harga energi.
Kondisi tersebut menjadi penting bagi pasar saham karena kenaikan imbal hasil obligasi AS dapat meningkatkan biaya modal dan memengaruhi daya tarik aset berisiko.
Sebaliknya, perubahan ekspektasi suku bunga dapat mengubah arus dana investor ke pasar saham.
Di kawasan Asia, sensitivitas tersebut berbeda-beda.
Jepang memiliki tambahan faktor nilai tukar yen, Korea Selatan memiliki eksposur besar terhadap saham semikonduktor, sementara Hong Kong dan China menghadapi dinamika berbeda antara saham teknologi, properti, dan kebijakan ekonomi domestik.
Dengan demikian, pembukaan perdagangan Rabu menunjukkan arah yang tidak seragam. Nikkei dan Kospi menguat, sementara Hang Seng melemah. Shanghai Composite juga bergerak positif.
Bagi investor Indonesia, pergerakan tersebut menjadi salah satu konteks regional menjelang perdagangan pasar domestik.
Selain arah bursa Asia, perhatian investor tetap tertuju pada pergerakan yield AS, harga minyak, nilai tukar, serta arus dana asing yang dapat memengaruhi aset berisiko di kawasan.
Sementara itu, pasar saham Indonesia juga bergerak di zona hijau pada awal perdagangan Rabu. Indeks Harga Saham Gabungandibuka menguat 0,06 persen atau 3,70 poin ke level 6.125,40.
Penguatan tersebut terjadi setelah IHSG pada perdagangan sebelumnya terkoreksi 0,43 persen ke level 6.121,70. Tekanan pasar domestik juga berlangsung di tengah aktivitas jual bersih investor asing.
Dalam periode 23-29 September 2026, investor asing mencatatkan net sell Rp4,42 triliun di seluruh pasar, terdiri dari net sell Rp3,13 triliun di pasar reguler dan Rp1,30 triliun di pasar tunai dan negosiasi.
Dengan demikian, penguatan IHSG pada awal perdagangan masih berlangsung dalam kondisi pasar yang dibayangi tekanan arus dana asing dan pelemahan indeks dalam beberapa pekan terakhir.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.