Sekretaris Perusahaan BEI, Elsierra Putri Yosita menyampaikan rata-rata volume transaksi harian saham sepanjang pekan ini meningkat 72,51 persen.
“Menjadi 50,37 miliar saham dari 29,20 miliar saham pada pekan sebelumnya,” ujar dia dalam keterangannya dikutip, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Tak hanya itu, Elsierra menuturkan rata-rata nilai transaksi harian saham pekan ini juga tumbuh 5,40 persen menjadi Rp12,63 triliun dari Rp11,98 triliun.
Di balik catatan positif tersebut, rata-rata frekuensi transaksi harian BEI pekan ini mengalami koreksi 7,54 persen menjadi 1,68 juta kali transaksi.
“Dari 1,82 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya,” ungkap Elsierra.
Adapun kapitalisasi pasar minggu ini sebesar Rp10.627 triliun, atau turun 2,55 persen dibanding pekan sebelumnya yang mencapai Rp10.905 triliun.
Sementara itu, Harga Saham Gabunganbertengger di zona merah usai melemah 3,28 persen. Alhasil, indeks ditutup pada level 6.036,888.
“Berubah dibandingkan posisi penutupan pekan sebelumnya sebesar 6.241,892,” jelas Elsierra.
Adapun investor asing per kemarin, Jumat, 2 Oktober 2026 menghasilkan nilai jual bersih Rp1,27 triliun. Sedangkan sepanjang tahun 2026, BEI mencatat investor asing membukukan nilai jual bersih sebesar Rp82,55 triliun.
HSBC Pasang Target IHSG 6.200
HSBC Global Investment Research memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabunganbakal berada di level 6.200 hingga akhir 2026.
Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Investment Research Herald van der Linde mengatakan, target IHSG 6.200 telah dipertahankan HSBC dalam beberapa waktu terakhir.
“Kami memiliki target IHSG sebesar 6.200 hingga akhir tahun, dan target tersebut sudah kami pertahankan cukup lama,” ujar Herald kepada media di Jakarta, Selasa, 29 September 2026.
Pergerakan IHSG sepanjang September juga menunjukkan tekanan yang masih membayangi pasar saham domestik. Berdasarkan data perdagangan hingga 30 September 2026, IHSG melemah 429,62 poin atau 6,58 persen dalam sebulan.
Herald menyatakan, ruang kenaikan IHSG juga berkaitan dengan perkembangan arus modal dan stabilitas rupiah.
Menurut Herald, investor mulai kembali melihat Indonesia setelah sebelumnya perhatian pasar banyak terserap oleh saham, serta perusahaan yang berkaitan dengan tema kecerdasan buatan atau artificial intelligence
“Seperti yang disampaikan Fred (Chief Asia Economist HSBC), rupiah mulai stabil dan arus modal mulai kembali masuk,” katanya.
Perubahan perhatian investor tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi arah pasar saham Asia. Herald menyebut Indonesia saat ini berada di posisi menengah jika dibandingkan dengan pasar saham lain di kawasan.
Herald juga menyebut, sejumlah pasar regional mendapatkan perhatian lebih besar karena pertumbuhan laba perusahaan yang sangat tinggi, terutama perusahaan yang berkaitan dengan tema AI.
“Bagaimana posisi Indonesia dibandingkan negara lain di kawasan? Indonesia berada di kelompok menengah,” katanya.
Dia mencontohkan pasar Korea Selatan. Pada awal tahun, analis memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan di Korea sekitar 50 persen.
Namun, proyeksi tersebut kemudian mengalami revisi besar hingga mencapai sekitar 320 persen pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, pertumbuhan laba perusahaan di Indonesia diperkirakan berada di sekitar 10 persen, sedangkan India berada di kisaran 10 hingga 12 persen.
Perbedaan pertumbuhan laba tersebut membuat perhatian investor masih terkonsentrasi pada pasar yang memiliki eksposur kuat terhadap pertumbuhan berbasis AI.
Namun Herald menyampaikan, arus dana dapat berubah apabila investor mulai mempertanyakan keberlanjutan valuasi dan pertumbuhan di sektor tersebut.
“Namun, jika investor mulai khawatir bahwa sektor AI sudah terlalu mahal, maka mereka akan kembali mencari pasar yang menawarkan pertumbuhan non-AI, dan Indonesia bisa menjadi salah satu tujuan,” sebutnya.
Saham Gocap Bebas, Dirut BEI Buka-Bukaan Soal Imbasnya ke IHSG
Di sisi lain, Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menepis anggapan bahwa auto rejection di bawah Rp50 ini membuat IHSG turun.
“Selamat pagi rekan rekan. Untuk melengkapi informasi saat door stop kemarin bahwa bobot saham saham Rp 50 tidak berkontribusi signifikan pada pergerakan IHSG kemarin,” ujar Jeffrey dalam pesan tertulis Selasa, 29 September 2026.
Ia menambahkan, data rinci mengenai jumlah emiten dan besaran dampak penurunan saham-saham tersebut terhadap pergerakan indeks.
“Terdapat 26 saham dengan harga Rp50 dengan total bobot pada IHSG sebesar 1,91 persen per 25 Sep 2026.
Saham tersebut mengalami penurunan antara 8 persen – 14 persen pada 28 Sep 2026 yang berkontribusi terhadap penurunan sekitar -0,27 persen atau -16,707 poin,” jelasnya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.