IEEFA Ungkap Jurang antara Target PLTS 100 GWp dan Rencana Listrik Indonesia

Negara-negara G7 Gelontorkan 100 Juta Barel Minyak dan SolarWamenkeu Beberkan Fungsi APBN 2027 Rp4.106 Triliun, Penerimaan Digeber lewat Pajak

Persoalannya kemudian bukan hanya soal berapa banyak panel surya yang ingin dipasang.

Ada jaringan transmisi yang harus disiapkan, sistem penyimpanan energi yang perlu dibangun, proyek yang harus dilelang, skema pembiayaan yang mesti dirancang, hingga PLTS atap dan pembangkit surya terdistribusi yang harus masuk dalam sistem kelistrikan.

Semua itu membutuhkan duit. Dan bukan duit receh.

IEEFA memperkirakan program PLTS 100 GWp membutuhkan pendanaan hingga USD73 miliar atau sekitar Rp1.306,7 triliun dalam tiga tahun.

Dengan demikian, kebutuhan investasi rata-rata mencapai USD24 miliar atau sekitar Rp429,6 triliun setiap tahun.

Sebagai pembanding, kebutuhan investasi tahunan tersebut sekitar 15 kali lipat dari realisasi investasi pembangkit sepanjang 2025. Maka, pekerjaan rumah berikutnya adalah mencari siapa yang akan membiayai pesta besar energi surya tersebut.

Pemerintah tidak bisa sendirian menanggung kebutuhan modal sebesar itu, terutama ketika ruang fiskal negara juga terbatas.

Modal swasta dan lembaga pembiayaan harus ikut masuk. Namun investor biasanya tidak datang hanya karena sebuah target terdengar keren.

Mereka membutuhkan proyek yang jelas, jadwal yang bisa ditebak, serta kepastian mengenai kapan dan bagaimana uang mereka akan bekerja.

Randi menilai kepastian daftar proyek dan jadwal pengadaan menjadi kunci untuk menarik investasi swasta.

Menurutnya, kejelasan tersebut akan membantu pengembang dan pemberi pinjaman menyiapkan anggaran, investasi, serta pembiayaan sejak awal.

“Selain itu, dukungan pemerintah melalui mekanisme tarif, akses terhadap lahan milik negara, dan pembiayaan lunak dapat meningkatkan kelayakan proyek untuk memperoleh pembiayaan atau bankability,” kata Randi.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.