OPEC+ Kompak Tahan Produksi Minyak, Harga Brent Bertahan di Atas USD100

Keputusan ini diambil dalam pertemuan singkat secara daring pada Minggu waktu setempat, sejalan dengan ekspektasi para pelaku pasar modal global yang memproyeksikan belum adanya penyesuaian kebijakan output lanjutan hingga tahun depan.

Analisis Komoditas dari UBS, Giovanni Staunovo, menilai bahwa langkah aliansi produsen minyak ini mencerminkan kondisi riil pasokan minyak dunia yang masih dipenuhi ketidakpastian.

Meskipun alur pengiriman di Selat Hormuz perlahan mulai bergerak, tingkat produksi harian emiten dan produsen minyak kawasan Teluk masih berada jauh di bawah kuota resminya.

“Kelompok tujuh anggota utama OPEC+ mempertahankan batas atas produksi mereka tidak berubah, sejalan dengan ekspektasi pasar.

Meskipun demikian, di tengah meningkatnya arus pengiriman melalui Selat Hormuz, tingkat output mereka tetap berada jauh di bawah kuota,” ujar Analis Komoditas UBS, Giovanni Staunovo, dalam ulasan pasarnya.

Keputusan mempertahankan kuota produksi tersebut disepakati oleh tujuh anggota inti OPEC+ yang terdiri dari Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman.

Produsen minyak OPEC+ di kawasan Teluk dilaporkan memompa minyak jauh di bawah target akibat gangguan ekspor yang dipicu oleh konflik AS-Israel dengan Iran.

Kondisi geopolitik tersebut menyebabkan volume ekspor minyak mentah berfluktuasi pada kisaran 60 hingga 80 persen dari tingkat normal dalam beberapa bulan terakhir.

Pasar Minyak Dunia Tetap Ketat di Tengah Pelepasan Cadangan G7

“Sebagai konsekuensinya, kondisi pasar minyak global saat ini tetap berada dalam posisi yang ketat,” kata Giovanni Staunovo menegaskan dampak dari stagnasi produksi harian tersebut.

Sebelumnya, harga minyak mentah dunia sempat melandai pada penutupan perdagangan Jumat lalu setelah para pemimpin negara anggota G7 sepakat melepaskan pasokan cadangan minyak darurat.

Pelepasan cadangan minyak dan bahan bakar diesel ini dilakukan guna meredam kenaikan harga bahan bakar global yang terus melambung.

Pemimpin negara G7, yang mencakup Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Kanada, Jerman, Italia, dan Jepang, menyatakan bakal mengucurkan 100 juta barel cadangan minyak selama empat bulan ke depan, dengan porsi terbesar dialokasikan untuk bahan bakar diesel pada 20 hari pertama.

Meskipun terdapat intervensi pelepasan cadangan dari negara-negara G7, harga minyak mentah acuan Brent masih bertahan kokoh di atas level USD100 per barel.

Angka ini melonjak signifikan dibandingkan dengan posisi sebelum pecahnya konflik Iran di akhir Februari lalu yang masih berada di kisaran USD73 per barel.

Pada penutupan akhir pekan, harga minyak mentah berjangka jenis Brent terkoreksi tipis 6 sen ke posisi USD102,25 per barel, sementara minyak mentah West Texas IntermediateAS merosot USD1,76 menjadi USD91,11 per barel.

Eskalasi konflik di Timur Tengah juga berdampak pada penundaan proses tinjauan kapasitas produksi harian aliansi, yang menjadi acuan vital dalam menentukan kuota output anggota untuk tahun 2027.

Berdasarkan sumber internal industri pasar komoditas, ketegangan geopolitik telah membuat estimasi potensi produksi masa depan menjadi sangat tidak pasti dan sulit diproyeksikan.

Peningkatan Target Produksi OPEC+ Masih Terbatas di Atas Kertas

OPEC+ sebenarnya telah menaikkan target produksi sepanjang tahun 2026 setelah bertahun-tahun menerapkan pemangkasan output secara ketat.

Namun demikian, realisasi kenaikan kuota tersebut sebagian besar hanya berada di atas kertas akibat hambatan operasional dan konflik militer di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data resmi OPEC, tujuh anggota inti OPEC+ memompa rata-rata 25 juta barel per haripada Agustus lalu, atau naik 630.000 bpd dibandingkan bulan Juli.

Kendati mencatatkan peningkatan bulanan, total volume produksi harian tersebut masih sekitar 5 juta bpd lebih rendah dibandingkan dengan tingkat produksi sebelum perang pada Februari.

“Aliansi OPEC+ masih memiliki pemangkasan produksi sekitar 2 juta bpd yang berlaku untuk sebagian besar anggota.

Kelompok ini membutuhkan hasil evaluasi kapasitas untuk memutuskan tata cara pembagian kenaikan kuota, sehingga perubahan produksi riil di lapangan kemungkinan besar belum akan terjadi sebelum tahun 2027,” tutur sumber internal industri minyak.

Tujuh anggota inti aliansi OPEC+ dijadwalkan bakal kembali menggelar pertemuan tingkat menteri berikutnya pada 1 November mendatang.

Di saat yang sama, badan pemantau independen aliansi, Joint Ministerial Monitoring Committee, menyatakan bakal terus memantau dinamika pasokan dan permintaan pasar komoditas energi global secara berkala guna mengantisipasi gejolak harga yang lebih tajam.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.