Sarmuji Pimpin Kemenperin, Industri Indonesia Mau Dibawa ke Mana?

Sarmuji yang menjabat Menteri Perindustrian dalam Kabinet Merah Putih hingga 2029 menyatakan, upaya memperkuat sektor industri Indonesia harus diiringi penyerapan tenaga kerja.

Ia memastikan, langkah Kemenperin setelah ia pimpin, secara garis besar bakal tetap melanjutkan program yang telah dirintis Menperin sebelumnya. Namun, Sarmuji tetap membuka ruang untuk menciptakan kebijakan dan gagasan baru.

“Kita semua tahu bahwa sektor industri adalah sektor yang sangat vital bagi republik ini.

Sektor industri adalah tumpuan dan harapan agar kita bisa melakukan leverage bagi pertumbuhan ekonomi dan juga menjadi daya ungkit bagi penyerapan tenaga kerja,” ujar Sarmuji setelah dilantik Presiden Prabowo, belum lama ini.

Menurutnya, kesinambungan kebijakan antar kementerian dan lembaga harus dijaga demi mengembangkan pembangunan sektor industri.

Ia menyebut fondasi yang telah dibangun Agus Gumiwang perlu diperkuat, namun bukan berarti Kemenperin hanya menjalankan program lama.

“Apa yang sudah dirintis oleh Pak Agus Gumiwang sebagai Menteri tentu harus kita lanjutkan. Kita akan teruskan apa-apa yang sudah dicapai dan apa yang sudah diletakkan akan kita perkuat kembali,” sebutnya.

Sarmuji melanjutkan, Kemenperin dinilai perlu lebih aktif membaca peluang dan merumuskan terobosan baru untuk memperbesar kontribusi industri terhadap perekonomian.

Oleh sebab itu, ia meminta jajaran Kemenperin fokus pada persoalan yang dihadapi sektor industri, sembari terus mencari peluang yang dapat dikembangkan.

“Kita harus memiliki mimpi-mimpi besar di Kementerian ini. Kita harus membaca setiap peluang untuk meningkatkan sektor industri ini menjadi tumpuan bagi pembangunan kita.

Mari kita berpikir mengenai opportunity, apa yang bisa kita lakukan untuk menjadikan sektor industri ini sebagai leverage bagi pembangunan ekonomi kita,” terangnya.

Dalam menjalankan agenda tersebut, Sarmuji melihat pentingnya langkah kolaborasi bersama asosiasi maupun pelaku usaha, hingga pemangku kepentingan lainnya.

Komunikasi dengan dunia industri dibutuhkan agar kebijakan Kemenperin dapat menjawab berbagai kebutuhan sektor usaha, serta menghadapi dinamisnya perubahan dan tantangan industri.

“Nanti apa saja yang harus kita bicarakan, siapa saja yang harus kita temui, siapa saja yang kita ajak berkolaborasi, akan kita tentukan,” kata Sarmuji.

Bagi pihak internal Kemenperin, Sarmuji juga meminta seluruh pejabat membangun ruang kerja yang terbuka. Ia mendorong adanya diskusi, kritik dan saran terhadap kebijakan kementerian.

“Saya meminta secara pribadi kepada seluruh pejabat Kementerian Perindustrian untuk kita bisa saling mengingatkan. Kalau ada hal yang perlu diingatkan kepada saya, jangan sungkan-sungkan,” ucapnya.

Sarmuji juga menginstruksikam jajarannya agar tidak menciptakan jarak berlebihan antara pimpinan dan pegawai. Sekat tersebut dianggap menjadi hambatan komunikasi dan pertukaran gagasan di lingkungan kementerian.

“Jangan memberikan penghormatan berlebih kepada saya, jangan memberikan pelayanan berlebih kepada saya.

Penghormatan dan pelayanan yang berlebih itu akan menciptakan sekat-sekat bagi kita semua, yang membatasi kita untuk bisa berdiskusi, berdialektika, memberikan masukan dan memberikan saran terhadap kebijakan-kebijakan yang akan kita ambil,” jelasnya.

Sebagai Menperin baru, Sarmuji juga optimistis mampu membangun kerja sama yang solid bersama Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza.

Sarmuji menambahkan, soliditas di internal Kemenperin perlu berjalan bersamaan dengan kolaborasi kepada pihak eksternal. Sebab, pembangunan industri perlu melibatkan berbagai pihak dan tidak dapat ditangani Kemenperin sendiri.

“Kita bisa membangun tim yang lebih solid dan bisa bekerja sama. Saya juga meminta dukungan seluruh hadirin dan asosiasi industri. Sangat penting bagi kita untuk berkolaborasi,” tuturnya.

Sebagai informasi, kinerja Kemenperin dalam perkembangan industri manufaktur nasional sedikit tergambar dalam Indeks Kepercayaan IndustriIndonesia yang berada di level 51,93 pada September 2026.

Dengan angka tersebut, industri manufaktur Indonesia tercatat masih ekspansi. Namun dibanding Agustus 2026, IKI Indonesia melemah 0,37 poin dari 52,30.

Sementara jika dibanding September 2025, juga turun 1,09 poin dari 53,02.

Tantangan di Sektor Manufaktur

Seperti diberitakan sebelumnya, sektor manufaktur masih menghadapi sejumlah tekanan. Indeks Kepercayaan IndustriSeptember 2026 berada di level 51,93, turun 0,37 poin dari 52,30 pada Agustus.

Meski masih dalam zona ekspansi, penurunan tersebut menunjukkan laju industri belum sepenuhnya solid.

Kemenperin mencatat, indeks produksi turun menjadi 53,78, sedangkan indikator persediaan berada di zona kontraksi pada level 45,45. Di sisi lain, pesanan baru masih tumbuh dengan indeks 53,40.

Kenaikan biaya logistik dan sikap pelaku usaha yang masih menunggu perkembangan pasar menjadi salah satu faktor yang menekan aktivitas industri.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Sarmuji dalam menjalankan agenda penguatan sektor industri.

Terlebih, pertumbuhan industri manufaktur juga disebut melambat dari 5,48 persen pada kuartal II 2025 menjadi sekitar 4,5 persen pada kuartal II 2026.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.