Tekanan harga juga datang dari meningkatnya ekspor minyak mentah Timur Tengah dan rencana pelepasan cadangan minyak strategis oleh negara-negara Kelompok Tujuh atau G7.
Harga minyak Brent berjangka turun sekitar 66 sen menjadi USD101,59 per barel, sedangkan West Texas IntermediateAmerika Serikat melemah sekitar 95 sen ke USD90,12 per barel.
Penurunan terjadi ketika pasar mulai melihat adanya tambahan pasokan yang dapat mengurangi kekhawatiran terhadap kelangkaan minyak akibat konflik di Timur Tengah.
Reuters mencatat, pada perdagangan hari ini Brent turun 0,71 persen menjadi USD101,59 per barel, sementara WTI sempat berada di USD90,05 per barel.
Di sisi lain, harga minyak masih bertahan di level tinggi. Brent tetap berada di atas USD100 per barel.
Di sini, pasar belum sepenuhnya menganggap persoalan pasokan telah selesai.
OPEC+ Tahan Produksi November
Dalam pertemuan pada Minggu, 4 Oktober 2026, tujuh anggota inti OPEC+ sepakat mempertahankan target produksi minyak untuk November.
Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar dan memperkuat pandangan bahwa perubahan besar terhadap kebijakan produksi kemungkinan tidak terjadi sampai 2027.
Tujuh negara yang mengambil keputusan tersebut terdiri dari Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman. Reuters melaporkan, keputusan diambil dalam pertemuan daring yang berlangsung singkat.
Target produksi gabungan tujuh anggota tersebut berada di kisaran 31 juta barel per hariuntuk November. Arab Saudi sebagai produsen terbesar dalam kelompok itu memiliki target sekitar 10,5 juta bph.
Keputusan mempertahankan target produksi sebenarnya memberikan sinyal bahwa OPEC+ belum melihat kebutuhan untuk melakukan perubahan kebijakan secara agresif.
Namun, angka target produksi tidak serta-merta sama dengan volume minyak yang benar-benar masuk ke pasar.
Reuters mencatat tujuh anggota inti tersebut memproduksi sekitar 25 juta bph pada Agustus, naik sekitar 630.000 bph dibandingkan Juli, tetapi masih sekitar 5 juta bph di bawah tingkat sebelum perang pada Februari.
Artinya, meskipun target produksi tidak berubah, realisasi produksi dan kemampuan ekspor tetap menjadi faktor penting bagi keseimbangan pasar.
Pengumuman tersebut membuat keputusan OPEC+ relatif tidak memberikan kejutan besar bagi pasar.
Tidak ada tambahan pemangkasan produksi yang bisa langsung memperketat pasokan, tetapi juga tidak ada kenaikan target yang berpotensi menambah tekanan terhadap harga.
Ekspor Timur Tengah Mulai Pulih
Pergerakan harga minyak pada Senin lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan pasokan aktual.
Data pelacakan kapal Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan ekspor minyak mentah Timur Tengah bahkan telah melampaui tingkat sebelum perang pada beberapa hari terakhir September.
Ekspor mencapai sekitar 19,5 juta hingga 22,5 juta bph pada 24 September serta periode 27–29 September.
Rata-rata bergerak tujuh hari pada 1 Oktober berada di sekitar 18,5 juta bph, sedikit di atas rata-rata sekitar 18 juta bph sebelum perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari.
Peningkatan arus minyak tersebut menjadi salah satu alasan pasar mulai mengurangi premi risiko pasokan.
Sebelumnya, gangguan di kawasan Timur Tengah dan ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang mendorong Brent menembus USD100 per barel.
Namun, pemulihan ekspor belum berarti kondisi pasar kembali normal.
Masalahnya adalah biaya logistik. Minyak memang kembali bergerak melalui jalur ekspor utama, tetapi kapal menghadapi risiko keamanan, premi asuransi yang lebih tinggi, serta rute pengiriman yang lebih panjang dan tidak efisien.
Reuters mencatat tarif kapal tanker VLCC untuk rute Timur Tengah-Asia sempat menembus USD1,2 juta per hari, dibandingkan sekitar USD30.000 per hari pada Januari.
Biaya angkutan tersebut kini menjadi bagian yang jauh lebih besar dari harga minyak yang sampai kepada konsumen.
Dengan demikian, pasar minyak saat ini bukan hanya berhadapan dengan persoalan berapa banyak minyak yang tersedia, tetapi juga seberapa efisien minyak tersebut dapat dipindahkan dan diolah.
G7 Tambah Pasokan dari Cadangan Strategis
Faktor lain yang menekan harga minyak adalah keputusan negara-negara G7 untuk melepas cadangan strategis.
G7 sebelumnya menyepakati pelepasan sekitar *100 juta barel minyak dan produk minyak dari cadangan darurat serta berkomitmen menghindari pembatasan ekspor energi.
Kebijakan tersebut ditujukan untuk meredam tekanan harga energi, terutama setelah gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah.
Tambahan pasokan dari cadangan strategis membuat kekhawatiran mengenai kekurangan minyak dalam jangka pendek sedikit berkurang. Inilah yang kemudian ikut menekan harga Brent dan WTI pada awal pekan.
Namun, efeknya tidak sepenuhnya menghapus risiko geopolitik. Serangan terhadap fasilitas energi dan kapal tanker masih berlangsung, sementara jalur pelayaran di kawasan Teluk tetap menghadapi risiko keamanan.
Karena itu, pasar minyak saat ini berada dalam posisi yang cukup unik. Di satu sisi, pasokan mulai pulih dan cadangan strategis dilepas sehingga tekanan harga berkurang.
Di sisi lain, risiko gangguan infrastruktur energi dan biaya transportasi masih tinggi.
Saudi Arabia Pangkas Harga Minyak Asia
Perkembangan lain yang turut diperhatikan pasar adalah keputusan Saudi Aramco memangkas harga jual resmi minyak untuk konsumen Asia pada November.
Harga Arab Light untuk Asia ditetapkan USD5 per barel di bawah rata-rata Oman-Dubai, turun USD3 dibandingkan bulan sebelumnya. Diskon tersebut merupakan yang terlebar sejak Juni 2020.
Saudi juga memangkas harga jual Arab Medium dan Arab Heavy ke Asia sebesar USD5 per barel. Langkah ini dinilai berkaitan dengan tingginya biaya pengiriman sekaligus upaya mempertahankan pangsa pasar di tengah gangguan ekspor akibat perang.
Pemangkasan harga tersebut menjadi sinyal tambahan bahwa produsen Teluk mulai menyesuaikan strategi menghadapi perubahan arus perdagangan minyak global.
Dengan OPEC+ mempertahankan target produksi, ekspor Timur Tengah mulai pulih, dan G7 menambah pasokan melalui cadangan strategis, tekanan terhadap harga minyak dalam jangka pendek cenderung meningkat.
Meski demikian, ruang penurunan harga masih dibatasi oleh risiko geopolitik dan persoalan logistik. Brent yang masih berada di atas USD100 per barel menunjukkan pasar belum sepenuhnya yakin bahwa gangguan pasokan telah berakhir.
Dengan demikian, arah harga minyak berikutnya akan sangat bergantung pada tiga faktor utama: kecepatan pemulihan ekspor Timur Tengah, perkembangan konflik AS-Israel dengan Iran, serta kemampuan negara-negara G7 menambah pasokan melalui cadangan strategis.
Untuk jangka pendek, keputusan OPEC+ mempertahankan target produksi tidak memberikan katalis bullish baru bagi minyak. Sebaliknya, meningkatnya ekspor dan pelepasan cadangan strategis memberikan tekanan terhadap harga.
Namun, selama risiko gangguan jalur pelayaran dan infrastruktur energi masih tinggi, penurunan harga minyak berpotensi tetap terbatas.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.