Rupiah Lanjutkan Penguatan, Bagaimana Prediksinya Besok?

Penguatan terjadi ketika harga minyak dunia bergerak turun dan pertumbuhan sektor jasa AS menunjukkan perlambatan pada September.

Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.899 per dolar AS, menguat 18 poin atau 0,10 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan Senin, 5 Oktober, yang berada di level Rp17.917 per dolar AS.

Meski bergerak positif, penguatan rupiah masih terbatas.

Pergerakan tersebut mencerminkan adanya dukungan dari faktor eksternal, tetapi pada saat yang sama masih terdapat risiko yang menahan penguatan mata uang Garuda, terutama ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan risiko gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz.

Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra mengatakan penurunan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang membantu rupiah bergerak menguat.

“Lebih karena faktor eksternal penurunan harga minyak dunia. Tetapi itupun relatif terbatas karena ketegangan soal Selat Hormuz masih tetap berlangsung,” kata Ariston.

Harga Minyak Turun, tetapi Risiko Pasokan Masih Ada

Harga minyak dunia mengalami penurunan tipis di tengah masih kuatnya ekspor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah serta kebijakan negara-negara G7 untuk melepas cadangan darurat.

Harga Brent turun 4 sen menjadi USD100,28 per barel, sedangkan WTI turun 11 sen atau 0,1 persen menjadi USD89,33 per barel.

Penurunan harga minyak memberikan sedikit ruang bagi rupiah karena Indonesia sebagai importir energi menghadapi tekanan yang lebih besar ketika harga minyak meningkat.

Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan dolar untuk pembayaran impor energi dan pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar.

Namun, penurunan harga minyak kali ini belum menghilangkan risiko pasokan. Pasar masih mencermati perkembangan konflik di kawasan Teluk serta potensi gangguan jalur perdagangan energi.

Ketegangan tersebut membuat harga minyak tetap bertahan di level tinggi, terutama Brent yang masih berada di atas USD100 per barel.

Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan rupiah meskipun harga minyak mengalami koreksi.

Data Jasa AS Beri Ruang bagi Rupiah

Faktor eksternal lainnya datang dari data ekonomi AS. Pertumbuhan sektor jasa pada September 2026 mengalami perlambatan lebih besar dari perkiraan.

Indeks Manajer Pembelianjasa ISM turun menjadi 54,9 pada September dari 55,4 pada Agustus. Angka tersebut sedikit di bawah konsensus ekonom sebesar 55.

Meskipun turun, indeks masih berada di atas level 50 yang menunjukkan sektor jasa AS tetap berada dalam fase ekspansi. Namun, perlambatan aktivitas bisnis dan pesanan baru memberikan indikasi bahwa momentum pertumbuhan mulai berkurang.

Data tersebut turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve.

Perlambatan aktivitas ekonomi dapat mengurangi tekanan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat, sehingga memberikan ruang bagi dolar AS untuk mengalami koreksi.

Ariston menilai data tersebut turut membantu penguatan rupiah pada perdagangan Selasa.

Di sisi lain, laporan ISM masih menunjukkan sejumlah tekanan. Indeks ketenagakerjaan kembali berada di atas 50 untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, mengindikasikan pertumbuhan pekerjaan.

Masalah rantai pasok dan tingginya biaya bahan bakar juga masih menjadi tantangan bagi pelaku usaha.

Dengan demikian, data tersebut belum sepenuhnya menunjukkan pelemahan ekonomi AS. Sektor jasa masih ekspansif, tetapi kecepatannya menurun.

Bagi pasar valuta asing, kombinasi tersebut membuat pergerakan dolar menjadi lebih terbatas.

Geopolitik Masih Menjadi Risiko Utama

Selain data ekonomi AS dan harga minyak, perkembangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor yang harus diperhatikan pasar.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, menyebut salah satu sentimen eksternal berasal dari perkembangan konflik di Yaman.

Pasukan pemerintah Yaman yang mendapat dukungan Arab Saudi dilaporkan mencapai pinggiran kota Mocha setelah serangkaian serangan udara.

Kementerian Pertahanan Yaman menyatakan kota tersebut berhasil direbut. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan pihak Houthi membantah pernyataan pemerintah yang didukung Saudi tersebut.

Di sisi lain, Houthi dilaporkan masih mencatat kemajuan di sekitar Taiz dengan menguasai sebagian jalur pegunungan. Perkembangan yang saling berlawanan tersebut menunjukkan bahwa situasi keamanan di Yaman masih belum stabil.

Bagi pasar keuangan, perkembangan tersebut penting karena Yaman berada di kawasan yang berdekatan dengan jalur perdagangan energi utama.

Eskalasi konflik dapat meningkatkan kekhawatiran mengenai kelancaran distribusi minyak dan memperbesar volatilitas harga energi.

Rupiah Berpotensi Fluktuatif

Setelah ditutup di Rp17.899, rupiah masih menghadapi dua kekuatan yang berlawanan. Di satu sisi, harga minyak yang turun dan perlambatan sektor jasa AS memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.

Di sisi lain, harga Brent yang masih di atas USD100 serta ketegangan geopolitik membuat risiko terhadap rupiah tetap tinggi.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya, dengan potensi bergerak dalam rentang Rp17.750-Rp18.030 per dolar AS.

Rentang tersebut menunjukkan volatilitas yang masih cukup lebar. Area Rp17.750 menjadi batas bawah proyeksi, sedangkan Rp18.030 menjadi batas atas.

Jika tekanan terhadap dolar berlanjut dan harga minyak tetap terkendali, rupiah berpeluang bergerak menuju sisi bawah rentang tersebut.

Sebaliknya, eskalasi geopolitik atau kembali naiknya harga minyak dapat mendorong rupiah mendekati Rp18.000 bahkan melewati level tersebut.

Dengan demikian, penguatan rupiah pada Selasa belum dapat dipandang sebagai perubahan tren yang kuat.

Pergerakan mata uang Garuda masih akan sangat ditentukan oleh arah dolar AS, perkembangan ekspektasi suku bunga The Fed, harga minyak dunia, serta dinamika konflik di kawasan Timur Tengah.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.